DILEMA TIGA DIARY

DILEMA TIGA DIARY

(Salah satu pemenang lomba cerpen mahasiswa unisba, “dilarang menangis!” 2005)

Jakarta, 12 Februari 2004

Diary Pink, di bawah mentari pagi..

Hi my diary.. heran ya karena nggak biasanya aku nemuin kamu pagi – pagi begini. Udah rapi lagi dengan setelan kaos pink kalem and jeans,plus dengan tentengan jaket almamater!! Emang mau kemana sih? Shopping ? atau mau JJS ke mall? oh, No! aku hari ini mau berangkat aksi dy. Kata temenku siPutri, jilbaber yang aktivis itu, hari ini akan ada aksi menentang ketidakadilan atas perlakuan hukum selama ini ry. Sebagai warga negara yang baik, kita jangan diam saja melihat ke… ke.. apa ya? Oh, kezhaliman dy! (itu kata si putri lho!)he..he…

Tapi kalau dipikir – pikir benar juga sih ry.., masa kemaren maling jemuran di komplek kostku aja kemaren babak belur di hajar massa, maling gede alias koruptor didiamin aja? It’s not fair! Mau jadi apa Indonesia yang akan datang dengan hutang akibat hutang para koruptor itu ? Lho, kok aku jadi ikut marah – marah sih? Ah, bodo amat! siapa peduli? Yang penting nampang bo! Kan katanya teman – temanku, para aktivis itu banyak yang charming lho! siapa tahu aja ketemu gebetan..he- he… itu tuh dy, Prince Charming, kamu nggak lupa kan sama some one yang aku ceritain kemarin? Cool banget dy! And aku dengar, dia tuh pasti turun kalau ada aksi – aksi gini. Udah dulu ya dy, teman – temanku udah manggil tuh! Atpi, don’t worry, kamu pasti akan kubawa. Ok? Let’s go…

Diary biru, di bawah sinar mentari yang sama…..

Assalamualaikum diary mungil, sambil nunggu temen- temen lainnya nyamperin aku mendingan aku nulisin kamu aja ya? Soalnya sholat dhuha udah, periksa barang-barang udah.. barang-barang?! Kamu pasti nanya mau kemana. Ya kan?. Hari ini aku akan dan teman – teman akan turun lagi ke jalan ry. Lho, kamu pasti tambah heran ya ry, karena tiap hari kan emang aku turun ke jalan, couse ke kampus emang jalan kaki.he..he…. Hm.. yang ini beda ry ( kayak Pemilu 2004 aja! He..he..). karena hari ini akan ada aksi besar-besaran bersama rekan – rekan mahasiswa ry.  Aksi kali ini akan menuntut dihukumnya seorang pejabat yang telah didakwa melakukan korupsi milyaran rupiah uang rakyat ry! . Aku sendiri heran ry, kok bisa ya orang bersenang-senang dengan uang yang seharusnya bisa memberi makan ribuan rakyat yang setiap harinya selalu bergelut dengan kemiskinan ya? Hm…ngomong – ngomong uang…coba ya uang kampanye – kampanye itu di beliin sembako, trus dibagikan ke seluruh rakyat ya…mungkin bisa kenyang setahun kali ya? Atau dibayarkan ke hutang  bangsa, daripada cuma buat bikin poster, dangdutan, atau hura – hura lainnya, apalgi buat dangdutan!.

Ry, kadang – kadang kalau aku merenung, terkadang ada kerinduan akan kekhalifahan di masa Umar bin Khatab di hatiku ry. Dia bahkan rela memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang lapar. Kamu ingat kan puisinya Faiz, bocah delapan tahun itu saja tahu dan menginginkan pemerintah bersikap seperti masa kekhalifahan sahabat Nabi ry. Tapi tampaknya di negaraku mungkin tak akan menjadi kenyataan pemerintahan yang seperti itu ry. Kekuasaan sering di salah gunakan untuk mencari kekayaan pribadi. Hukum hanyalah sebuah alat yang hanya dimiliki oleh orang – orang kaya. Palu hukum hanya bisa di ketukkan oleh orang yang berkuasa ry. Ah, negeriku yang malang… oh, udah dulu ya dy.. teman-temanku udah pada dateng tuh! Sekarang kamu masuk dulu ya ke tas…

Diary merah, masih disinari mentari yang sama……….

Hi.. kertas lecek … eh sorry, hi..diary…gini-gini ternyata gw  masih mau juga ya nulisin elo..! lo tau nggak? Hari ini gw la makmur nih! So, nanti gw mau nyari diary yang bagus. Ma tau ada apaan? Dari mana gw dapet uang? Ok..  gini ya… kemaren ada mas – mas kira-kira sepuluh tahun lebih tua dari gw, kalau ga salah namanya… hm..siapa ya? Kok gw jadi lupaan gini ya? Ah, nggak peduli! Yang penting dia udah ngasih gw banyak money men! Dia bilang gw cukup ngerjain satu tugas kecil. Ciiii.l lah…! Ntar ya, kalau gw sukses gw kasih tau elo. Sekarang gw mau nyiapin kostum dan peralatan yang mau gw pake hari ini dulu ya… tenang aja, lo pasti gw bawa di tas gw… ok? Ha…ha…..

Tiga diary dibawa ke tempat yang sama, waktu yang sama,  Melangkah Bersama, searah, namun berbeda tujuan…

Jalan Merdeka, siang terik…..

Panas semakin menyengat kulit. Ikut membakar suasana di depan gedung megah itu. Semakin lama, sekelompok manusia yang tadi berkumpul berubah menjadi lautan massa dari berbagai latar belakang. Sebuah wajah oval terbalut kerudung biru tampak tergurat lelah yang amat sangat. Namun, semangat tetap terpancar di matanya yang bening dan teduh. Sejak tadi pagi kesibukan tak henti-hentinya menguasainya. Menertibkan agar barisan itu tetap kokoh, membagikan konsumsi, meng….

“Mbak Putri, ada yang pingsan nih…..!” sebuah suara membuat gadis yang bernama Putri itu berpaling dan mengikuti gadis sebaya yang memanggilnya tadi. Tak lama kemudian tubuh gadis itu tampak menyibak barisan, menggotong  tubuh yang terbalut kaos pink kalem dan celana jeans yang pingsan ke luar lapangan.

****************

Mentari mulai menurunkan temperature suhunya. Kesibukan masih terlihat di jalan itu. Gadis yang bernama putri itu masih sibuk dengan tugasnya. Sedangkan gadis yang tadi sempat digotong ke luar lapangan tadi sudah kembali ke barisannya. Sesosok tubuh tampak beringsut perlahan ke barisan terdepan dengan menggunakan atribut yang persis sama dengan lautan manusia tersebut. Tak ada yang curiga. Hingga…

“BRAKKK…!! BRUKKKK….!!

Suara benturan dengan sesuatu yang keras mengagetkan semua yang ada di jalan yang disulap seperti lapangan tersebut. Sesuatu telah terjadi. Barisan terdepan mulai kocar-kacir. Mendadak benda – benda berterbangan menghujam barisan Putri yang ada di dalam lapisan barisan. Dalam sekejap…. Massa yang tadi tersusun rapi tercerai berai.

“Mundurkan yang putri…kuatkan border…” Ivan, salah satu korlap siang itu berteriak ke sana – sini.

Sementara itu, jerit para demonstran putri mulai terdengar. Lafaz Istighfar terdengar lirih.Terlebih ketika para aparat mulai beramai-ramai memukuli barisan border yang memagari mereka. Aneka benda masih berterbangan. Entah dari mana. kacau.

Darah membanjiri bumi. Korban berjatuhan. Entah apa yang menguasai orang-orang yang tadi menjadi pelindung bagi para demonstran itu. Kebencian tersirat di setiap wajah yang masih memukuli sosok-sosok yang telah bersimbah darah dan tergeletak tak berdaya di hadapannya. Sungguh tak berperikemanusiaan!

Sementara itu Gadis semampai tadi semakin tampak sibuk menenangkan rekan-rekannya. Jilbab birunya sudah tak beraturan.

Lafaz istighfar tak henti-hentinya mengalir, termasuk dari wajah pucat gadis yang tadi sempat pingsan. Isak tangis terdengar di sana – sini. Barisan pelindung mulai menipis dan berjatuhan, hingga akhirnya tinggal satu lapis barisan yang masih berusaha keras melindungi barisan yang ada di dalamnya. Tiba-tiba sebuah benda keras meluncur….

PRANGGG!! CRASSS…!

Darah mengalir membasahi kerudung gadis itu. Kain berwarna biru itu sekejap berubah warna. Merah….

*****************

Masih disana, menjelang senja…..

Sekelompok yang merupakan bagian barisan yang beberapa saat lalu berdiri di jalan itu masih membereskan sisa –sisa yang tertinggal. Beberapa pasang sepatu, bendera, tas, dan beberapa benda lainnya. Beberapa dari mereka mulai mengeluarkan benda-benda yang dapat dijadikan identitas. Beberapa lembar KTM dan KTP, Buku, dan…..tiga buah diary tergenggam di tangan salah satunya. Bercak merah menempel pada ketiganya. Menjadi saksi pembantaian hukum di negeri itu. Mendung membayangi sore dua belas Februari. Kelabu..

Depok, 13 February 2004

Buku Kenangan Bunda

BUKU KENANGAN BUNDA

Kupandangi sekali lagi kertas berwarna biru muda yang sejak tadi tergeletak di meja. Undangan reuni yang hampir setiap tahun selalu mampir di rumahku selama tujuh tahun ini dan tak pernah kubaca, apalagi kutanggapi. Huh! Desahku. Entahlah, aku sendiri tak tahu perasaan apa yang menyelimutiku. Tapi yang jelas aku malas dan kesal mengingat kejadian – kejadian tujuh tahun lalu itu. Dan itulah yang membuatku terus membuang undangan itu ke tempat sampah setiap kali kertas merah muda, atau lain kali berwarna biru, atau warna lainnya itu mampir ke rumahku.

“ nda, masih nggak mau datang?” Anugrah, sosok yang telah beberapa tahun hidup bersamaku, seperti tahun – tahun sebelumnya menanyaiku.

Aku hanya diam.

“ emang  bunda nggak kangen sama temen – temen bunda? tuh, mereka selalu ngirim undangan tiap tahun, pasti pada kangen sama bunda.”

aku masih diam.

Mereka rindu padaku? Rindu pada orang yang tak pernah mereka anggap keberadaannya? Rindu pada orang yang tak pernah mereka hargai jerih payahnya? Oh, tidak!! Tak mungkin mereka rindu padaku.

“ nda, emang apa sih yang bikin bunda ga mau datang ? malu punya  suami kaya prince charming gini? hm?” tuh kan? Mulai deh…! Biasa, memuji diri sendiri..!

Aku masih diam menatap wajah cengengesan di depanku yang ingin sekali rasanya kucubit.

“huu…..nggak ya…kalo diliat sama orang buta dari Monas sih emang mirip….he…he…”

waaaaa ………cepat – cepat kubergegas menuju dapur sebelum kebiasaan tangan mas Aan kalau kuledek berhasil menarik ujung kerudungku. Weee….ga kena!

……………………..

Mas Aan sedang istirahat, tidur mungkin. Sedangkan Farhan dan Farah belum pulang dari TPA. Sendirian di dapur membuatku terhanyut ke masa lampau. Mengukir kembali kenangan – kenangan masa itu.

“ May, ini ada beberapa lomba, kamu boleh pilih yang kamu suka dan cari teman – teman untuk yang beregu.” Pak Hendri menyodorkan secarik kertas di depanku.

Lomba cerdas cermat…….Mengarang….. MTQ…. Debat antar SMU….pidato…nasyid…cerdas cermat sosiologi..geografi…dln…mataku terus menyusuri baris – demi baris pada kertas berukuran A4 tersebut. Hm…boleh juga, pikirku.

“gimana May? Bisa?”

“ ya pak, makasih ya pak, nanti saya cari teman.” Sahutku.

Setelah beberapa menit aku tiba di kelas, tim langsung terbentuk. Walhasil, walaupun hanya masuk lima besar di pidato dan hanya juara tiga dalam nasyid, tapi dalam cerdas cermat kami berhasil masuk sepuluh besar sekota Bogor, dalam mengarang aku berhasil mendapat juara dua dari seratus lima puluh peserta, MTQ…cerdas cermat sosiologi, geografi…berhasil kami dapatkan peringkat dua, debat…timku juara dua sekabupaten dan kotamadya! Perasaan senang meliputiku.

Namun tampaknya kebahagiaan dan kebanggaan karena telah berprestasi untuk sekolah tak bertahan lama. Hancur lebur pada hari kuterima buku tahunan, buku kenangan. Aku kesal. Mengapa diantara profil teman – teman berprestasi tak ada photo dan profilku?

Kuteliti sekali lagi lembaran – lembaran itu. Benar – benar tak ada! Lalu kutelusuri photo – photo lain yang tertera di sana. Di sana kutemukan nama Indra dengan prestasi sepuluh besar di kelasnya, juara dua debatnya, lalu ada Sintya dengan juara dua MTQ-nya, lalu Riesma dengan juara dua lomba debatnya, lomba pidato-nya, juara dua MTQnya, dan nama – nama lainnya. Lalu di mana namaku   ? aku memang bukan anak konglomerat kaya seperti halnya Dio, anak pejabat yang juga berprestasi dan menjabat ketua OSIS itu, tapi apakah aku yang juga sebagai anak baru dan langsung bertahan menduduki peringkat satu dan langsung terpilih sebagai Sekum Rohis  selama ini tak lebih baik dari pada sepuluh besarnya Indra? Apakah karena jabatannya yang lebih tinggi? Apakah aku yang jadi Qori-nya waktu MTQ tak lebih berharga dari pada teman – teman yang mendampingi? Atau peranku dalam debat kemarin tak pernah dianggap? Usahaku yang mati-matian mempertahankan nama sekolah kemarin percuma?

Aku hanya diam ketika teman – teman saling berbangga. Apa kurangnya aku, sehingga dilupakan? Prestasi sekolah oke,  tak ada acara yang berlangsung tanpa ada aku sebagai panitia ataupun pengisi acara, atau bahkan kedua – duanya. Entah sebagai MC, pembuka acara, pengisi hiburan, nasyid, drama, puisi….atau..bahkan pernah dari awal hingga akhir aku mengisi sebuah acara besar di sekolah. Lalu ?

“ehem….!”

Deg!!

Deheman khas mas Aan mengagetkanku. Entah kenapa, walaupun telah sekian seratus kalinya ia mendehem aku masih kaget.

“duh..serius amat ngelamunnya. Tuh ampe gosong semua…”

o….o…. malu deh, huu…pasti aku diledek habis – habisan lagi nih…! Satu…dua….ti…

“nda,….”   Tuh kan..?

“ apa? Mau ngeledek lagi ? ayo…cepetan ngeledeknya”

“hm…jelek deh, siapa yang mau meledek? “

O…o..ternyata bukan ledekan tho..

“hm…?” jawabku sambil mematikan kompor.

“ terkadang manusia bisa lupa, jadi…ketika apa yang telah kita perbuat untuk orang lain dilupakan, kita harus ikhlas. Biarlah  Allah yang akan membalas amal kita tersebut.” Dahiku mengernyit. Mas tahu?

“tapi…..yang nda masalahkan bukan itu mas, nda ikhlas dengan semua yang nda lakukan…tapi….” Suaraku tersekat.

“ya…tapi nda ingin  dihargai sedikit kan?” ah, mas Aan selalu tahu pikiranku.

“ mungkin saat itu mereka lupa, tapi ingat nda..Allah tidak  pernah lupa. Cobalah untuk ikhlas sedikit…lagi, abisin deh…”

“nda udah ikhlas…ikhlas..I-K-H-L-A-S .”

“tuh kan…..jo…cantik juga kalo cemberut, coba lagi…”

“auk ah..lap!..”  hm…masku ini selu aja bikin aku nggak jadi marah. Gimana nggak? Orang marah – marah malah dipuji – puji, aku kan paling sebel kalau ada yang memuji… malu! He…he..

………………………..

Akhirnya setelah ceramah panjangnya mas Aan, aku berangkat juga. Sengaja kusuruh mas Aan yang sedang libur menungguku agak jauh dari deretan mobil mengkilap di depan gedung sekolah. Memori masa lalu kembali terbayang di kepalaku. Gedung ini…kelas ini… lapangan bola tempat yang dulu kerab kutongkrongi hamper tiap sore.. lapangan rumput yang dulu sering dipakai bermain softball..sudah berapa lama ya aku tidak menginjakkan kaki di sini? Setelah puas bernostalgia sendiri, barulah kulangkahkan  kaki menuju aula tempat pertemuan itu.Namun, baru beberapa langkah kakiku menyentuh lantai gedung serba guna itu..

“ May….apa kabar ? sini… kangen deh sama kamu…” suara Sintya memanggilku dan bergegas menghampiriku yang masih mematung, lalu disusul riesma, Indra…dan teman – teman lainnya yang ikut menyalamiku yang masih bingung.

“kita kangen lho sama kamu May…”

“Iya…abis nggak pernah ngasih kabar….” Sintya menimpali.

“apalagi dengan puisi – puisi lo…cerpen lu..kaya’ dulu, dulu mah kita bisa maksa lu bikin may… sekarang mo baca aja harus beli bukunya..”

haa…?? Aku bengong. Begitukah? Tapi…tapi kenapa dulu…?

“teteh..!” sebuah wajah oval  mengembalikanku ke aula itu. Teman – temanku yang tadinya antusias ikut bingung. Ocha? Pimpinan redaksi buku tahunan itu? Mau apa dia?

“teh, pertama ocha minta maaf ke teteh, teteh inget nggak ada yang kurang di buku tahunan itu?.

Aku diam. Pasti.

“kenapa?”sahutku.

“iya teh, kita minta maaf, profil teteh waktu itu kececeran… jadi nggak kecetak. Maaf  ya…jadi nggak ada profil teteh deh, tadinya tahun berikutnya kita mo minta maaf ke teteh, tapi sampe tahun ketujuh teteh nggak datang – datang…”.

Apa??! Aku tak percaya… jadi…Cuma gara – gara ini aku harus “ngambek” bertahun- tahun? O….my God…!

“Kring…” Nokia hadiah dari ibu mas Aan, yang terus memaksaku untuk menerima apa saja hadiah darinya, di tasku berdering.

“halo, assalamu’alaikum o…mas, aku masih lama di sini, tolong jemput aku tiga jam lagi aja ya..!.” Klik! Kututup telpon, lalu kumasukkan ke tas kembali. Bisa kubayangkan wajah bingungnya. Ah, Mendadak aula itu terasa begitu ramah dan hangat di hatiku. Akupun tenggelam dalam indahnya jalinan persahabatan hari ini. Terima kasih ya Allah, telah kau bukankan hati ini.. Terima kasih sahabat…..                                   ……..selesai………

Amplop Penyesalan

AMPLOP PENYESALAN

“ Pak…cakit…akit paaak…”

“ Pak, pulang…..”

Suara rintihan bocah kecil belahan jiwaku selama empat tahun ini terus menggema di telingaku. Sosok kecil lemah akibat diserang demam  berdarah itu kini terbaring di bangsal ekonomi yang selalu padat dengan pasien berekonomi rendah di rumah sakit kecil di pinggir desa.

Hanya berangan – angan yang bisa kulakukan, Seandainya punya cukup gaji, tentunya aku akan membawanya kerumah sakit yang besar.. atau bahkan kalau perlu aku akan membawanya ke rumah sakit nomor satu.. seandainya..

Ah! Kenapa aku ini?

Kucoba merebahkan tubuh perlahan di atas tikar pandan lusuh yang mengalasi lantai rumah petak kecil itu. aku akan memejamkan mata barang sejenak, karena nanti malam aku akan bergantian menunggui si kecil dengan istri dan adik-adiknya. Namun lagi-lagi gaungan itu kembali bergema di telingaku….

“ Pak….mak….akit…..”

“ Aan mo pulang…..hik…hik… pak…pulang…”

Oh tidak! Kini gaungan itu semakin ramai dengan suara-suara lainnya, .menenggelamkan suara malaikat kecilku yang semakin lemah itu, semakin hilang…

“Mat, gw denger anak lo masuk rumah sakit. Sakit apaan?”

“Iya Pan., DBD.” topan adalah teman sepermainanku sejak kecil. Tapi nasib kami ternyata begitu berbeda. Bahkan sekarang kudengar ia sudah jadi caleg sebuah partai besar. Sedangkan aku, harus puas dengan pengahasilan pas-pasan, hanya untuk makan sekeluarga.

“Trus lo ada duit?”“ ada dikit Pan, tapi mungkin cuma untuk tiga hari ini aja” ingatanku kembali melayang ke kamar berdinding putih berseprei dekil and sumpek.

“Mau gw Bantu?” Topan menghisap rokoknya dalam – dalam.

“Bener Pan? makasih banyak…Pan!”

“Ya udah, ntar malem lo ke rumah gw.”

Dialogpun berakhir. Aku tersenyum dengan penuh terima kasih. Terbayang langsung di benakku, Aan. Aku akan membawa malaikat kecil itu ke rumah sakit di kota.

Sementara itu Topan memandangi punggung Mamat yang semakin menjauh dengan senyum penuh arti.

………………….

Mataku terasa sangat lelah, namun belum juga mampu kupejamkan. Peristiwa tadi malam kembali membekas di benakku. Semalam, aku  mendatangi rumah istana desa itu dengan membawa harapanku, kepada Topan.

Tak lama setelah mengetuk pintu, lelaki setengah baya yang amat akrab di masa kecilku itu keluar menemuiku. Amplop putih tergenggam di tangannya yang beberapa menit kemudian telah berpindah ke tangan kasarku. Maklum, aku bekerja sebagai kuli bangunan, makanya tangan-tanganku jadi kapalan dan kasar.

“Itu uang buat lu, sisanya lu bisa beli apa aja juga masih lebih.”

“Terima kasih Pan, kalau lu nggak membantu, aku nggak tahu lagi harus berbuat apa.”

“Sudahlah mat, gw Bantu lo apa aja..tapi lu jg bantu gw..”

“Bantu apa Pan?” bingung dan heran. Bantuan apa yang diharapkan orang kaya sepertinya dari orang miskin sepertiku?

“Gw Cuma minta suara lu sekeluarga aja kok, gampang kan?”

“Suara? Maksudnya?” Aku mulai bingung.

“Ha..ha.. mat, Lu jangan belagak nggak ngerti. saya Cuma minta suara kamu sekeluarga aja, elo, Istri, ibu bapak, dan adik-adik lu pas pemilihan nanti, gampang kan?”

Amplop putih dalam genggamanku seakan berubah menjadi bara api. Panas. Bagaimana mungkin desa ini akan di pimpin oleh orang yang mendewakan uang seperti Topan? Orang yang kerap kali justru membawa sumber maksiat? Yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta? Suara? Kami memang tak memiliki harta untuk membangun desa ini. Jangankan memberi orang lain, untuk makan sehari – haripun terkadang susah.. hanya suara itu yang kami punya untuk disumbangkan untuk desa ini.tapi sekarang…akankah kuserahkan harta kami satu – satunya  itu?

Kuangsurkan kembali amplop itu. Tanganku terasa bergetar.

“Sudahlah mat…gw tahu lu sangat butuh itu. Gw kan teman lu Mat. Pokoknya begitu gw kepilih, hidup lu akan baik Mat. Lu nggak usah nguli lagi, nanti gw kasih kerjaan. Gimana? “

“Tapi…Pan…” Aku ingin berontak! Tapi suaraku tersekat di tenggorokan. Tatapan Topan terasa semakin menghujamku, merongrong dinding hatiku.

“ Hm.. ok, begini saja, lu bawa saja dulu uang itu, sambil memikirkan tawaran gw tadi”

Aku mematung terdiam. Sosok sinar harapan di depanku tadi telah menjelma menjadi sosok srigala yang siap memangsa, lalu berubah lagi menjadi harapan – harapanku, demikian seterusnya. Aku tak bisa berkata-kata, kecuali tetap memegang amplop putih itu.

“Pesanku Cuma satu, ingat anak dan istri lu Mat, istri mana sih Mat yang nggak pengen hidup senang? Dengan anak yang sehat, hidup berkecukupan.. ingat, Ok?” Topan menepuk bahuku. Ingin rasanya aku menepiskan dan mematahkan tangan itu, tapi lagi – lagi tanganku tak bisa bergerak. Semua terasa berputar di kepalaku.

Anakku…uang itu….suara merdu istriku…anakku lagi…? terbayang di khayalnya sosok lincah anaknya yang bergembira ketika dibawakan mainan setiap minggu, atau bahkan setiap hari. Makanan enak. Tapi…semua kembali berputar-putar. Mengantar lelaki itu ke negeri mimpi. Pulas.

***********

Senja mulai menutup tirai siang. Dengan tergesa – gesa kujejakkan langkah di depan bangunan putih itu. Sesekali tanganku reflek merogoh kantong jaket, memastikan apakah amplop putih itu masih ada di sana. Tadi, beberapa saat setelah tertidur, pak Martoyo, lelaki separuh baya yang sudah belasan tahun menjadi tetanggaku itu membangunkanku.

Lastri, Istri yang baru beberapa tahun lalu kunikahi menelphon dan mengabarkan Anugrah, belahan hati kami bertambah parah dan lemah. Sedangkan pihak Rumah sakit tidak juga menangani karena resep-resep yang belum tertebus.

“ Mas… anak kita mas.. Anugrah…!” Tangis Lastri, perempuan yang kucintai itu menyongsong langkahku di depan kamar rumah sakit.

“Tenang dek, tenang… mas bawa uang banyak.. kita akan tebus resepnya. Mana resepnya dek?” Aku berusaha untuk melukiskan senyum di wajahku, sebelum akhirnya pudar ketika wanita yang biasanya tegar di hadapanku itu kini tertunduk lesu. Air mata menetes di pipinya.. Perasaan takut mulai menyelimutiku. Mungkinkah…?

“ A…a..ada a..pa dek?” tanyaku perlahan. Hatiku berusaha menepis semua prasangka buruk yang mulai meyelimuti hatiku.

Lastri tetap bungkam. Sepi sesaat, hanya hening mencekam, sampai akhirnya tangis perempuan itu meledak di pelukanku.

“Mas, anak kita telah pergi lima menit yang lalu…”

BUG!! Seakan ada palu tak terlihat memukul kepalaku. Lututku tak lagi bisa menyangga berat tubuhku. Kucoba mencari dinding untuk bersandar. Tanpa sadar tanganku dimasukkan ke dalam kantong jaket. Tanganku tampak menarik sesuatu dari kantong kumal itu. Amplop putih itu!

“Astaghfirullahal Adzhiim….” Desisnya terdengar lirih, sebelum semua terasa berputar. Gelap.

****end****

Depok, 21 Juni 2005 11.05pm