RB bagian 4

Menjelang Puncak acara Pemilihan Siswa Teladan…

Satu per satu mobil mulai memadati halaman parkir SMU Teladan dengan teratur, sehingga dalam waktu setengah jam saja mobil – mobil itu sudah tersusun rapi memenuhi lapangan yang tak begitu luas. Para orang tua murid mulai memasuki gedung aula serbaguna, layaknya orang – orang yang akan menyaksikan sebuah pertunjukan besar. Sedangkan para anak mereka sibuk hilir mudik mencari teman  masing – masing atau menunggu orang tua mereka yang masih belum datang, seperti halnya Dinda yang sedang mondar – mandir di depan lapangan parkir sekolah! (bukan jadi tukang parkir lho..! he..he..).

Gadis itu tampak gelisah. Sesekali tangannya melirik handpon mungil yang digenggamnya. Sesekali mulutnya bergumam tak jelas. Barangkali gadis itu bilang, “Kemana sih ayah? Bukankah ayah udah janji akan datang ke acaranya Dinda? Kok, malah belum datang? padahal acara sudah akan dimulai.. “

RRRrrRRR! RRrrrrRr!!

Akhirnya ponsel di tangannya bergetar juga. “Ayah”, tulisan yang tertera di layar.  Dinda langsung mengangkatnya dengan tergesa-gesa.

“Ya, Ayah di mana sih? Acaranya udah mau mulai nih! Cepetaaan!”

“Maafkan ayah Din, ayah nggak bisa ke sana, ada pertemuan penting yang mendadak yang nggak bisa ayah batalkan. Kamu nggak apa – apa kan sendiri di sana? Nanti kalau..”

Click!. Tut. tut. Tut!

Tanpa menunggu kelanjutan kalimat selanjutnya, Dinda mematikan ponselnya dan memasukkan benda mungil itu kembali ke sakunya dengan wajah berlipat empat, lalu bergegas kembali ke dalam aula. Kesal! “Selalu… begitu! Kenapa sih ayah nggak pernah mikirin perasaan Dinda? Sekaliiii.. aja deh dia ngeluangin waktunya untuk hadir ke acara Dinda, sekaliiiii.. aja! Ayah egois!” Omel Dinda dalam hati. Kesal!

Sementara Itu, di sudut lain..

Ryan akhirnya memilih untuk menunggu tak jauh dari tempat Dinda berdiri. Tanpa disadari gadis itu, sepasang matanya memandang tajam ke tempat di mana Dinda berdiri, seakan – akan sedang mengawasi gerak – gerik gadis itu. Sinar matanya menyiratkan kalau ia sedang menunggu sesuatu yang akan terjadi. Satu menit, dua menit, lima menit… tak ada yang terjadi. Raut kecewa terpancar dari mukanya ketika gadis itu berbalik kembali ke dalam aula. Ia pun lalu menuju gerbang sekolah, “Masih ada kesempatan lain.” desisnya pelan.

…..……………….

Semua mata tertuju pada pertunjukan siswa yang sedang berlangsung. Tapi, tidak dengan Dinda. Ia mengikuti jalannya pertunjukan demi pertunjukan dengan gelisah dan tak berselera. Matanya menerawang tak menentu, pikirannya mengembara entah kemana. Sesekali ia melirik deretan wali murid yang berjejer di barisan kursi paling depan. Sekali lagi ia menarik napas kesal, sampai..

“Baiklah para hadirin, untuk pemenang siswa teladan SMU kita kali ini jatuh kepada Adinda Putri Maharani, dari kelas tiga IPA 2..!! untuk pemenang dan orang tuanya dipersilahkan untuk menerima penghargaan dan memberikan sepatah dua patah kata sambutan”.

Plok! Plok! Plok!. Riuh tepuk tangan membahana  menyambut akhir Pengumuman yang disampaikan pak Teguh, kepala sekolah SMU teladan, sekolah Dinda. Wajah para finalis yang tadinya terlihat tegang, kini memancarkan kekecewaan. Tak terkecuali Selvy, yang walaupun akhirnya diumumkan menduduki runner up. Matanya yang agak kecoklatan memandang Dinda dengan tatapan sinis, penuh rasa iri dan kesal.

Dinda gelagapan. Anggi Cs segera beramai – ramai memeluk Dinda yang masih bengong, tak percaya dengan pendengarannya. Gadis itu hampir saja hilang dari peredaran eh, maksudnya dikerumuni orang – orang, kalau seandainya saja tak ada panggilan dari atas panggung aula yang kembali memintanya untuk maju ke depan untuk menerima penghargaan.

Dinda melangkah sendirian ke atas panggung di tengah kasak – kusuk penonton yang semakin ramai dengan perasaan bercampur aduk. Perasaan senang dan sedih meliputi. Tangannya bergetar ketika menerima hadiah dan mikrofon yang diangsurkan panitia kepadanya. Pikirannya langsung melayang dan hatinya berbisik dengan sedih, Ayah! Lihatlah Dinda ayah.. Ini semua untuk ayah! Seandainya saja ayah ada di sini..

“Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Pertama, syukur kepada Allah, lalu Makasih atas kesempatan yang para guru, juri, dan teman – teman berikan kepada saya untuk menerima penghargaan ini..” Dinda mengangkat tropi itu ke atas. Ia berusaha tersenyum, walau terasa getir.

Dinda terdiam sesaat. Para hadirin juga ikut diam menanti kat selanjutnya yang akan keluar dari mulut gadis itu.

“Saya juga mohon maaf, karena sesuai dengan apa yang disampaikan kepala sekolah tadi, seharusnya yang ikut naik ke panggung ini adalah saya dan keluarga saya. Tapi, karena suatu hal, mereka tak bisa hadir di sini. Ibu saya sudah  tiada sejak saya kecil dan ayah saya tidak bisa hadir saat ini, but thank’s for them! ” Dinda mengacungkan tropinya sekali lagi, “Dan untuk para orang tua yang bisa hadir di sini, saya bangga Pak, bu, kebahagian karena menerima penghargaan ini tidak akan sebanding dengan kebahagian karena kehadiran kalian di sini, saya yakin semua itu dirasakan oleh teman – teman saya yang di sini. Sekian dari saya. Terimakasih.” Dinda kehabisan kata – kata. Matanya terasa perih menahan agar air mata itu tak menetes. Seketika aula itu langsung diliputi suasana haru biru.

Dengan tertunduk gadis itu segera turun dari podium diiringi tepuk tangan yang semakin membahana sampai gadis itu kembali ke tempat duduknya. Ingin rasanya Dinda menangis, kalau seandainya saja teman – temannya tidak langsung menyalaminya dan mengucapkan selamat saat itu. Hatinya berbisik, kalau seandainya boleh memilih antara penghargaan dan kehadiran ayah saat ini, tentunya ia akan lebih memilih ayah ada di sini, meskipun tak menang. Tapi lagi – lagi hanya seandainya dan berandai – andai..

Sementara itu..

Di sudut ruangan, seorang wanita menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu dengan tatapan penuh arti. Ia terlihat bingung dengan semua yang dikatakan gadis yang berdiri di depan itu. Hatinya berbisik, berusaha menampik apa yang sekarang ada di pikirannya. “Tidak, Tidak. Itu tak mungkin!”, desisnya pelan.

…………………….

Malam hari, di hari yang sama..

“Udah dulu ya Din, aku pulang dulu, nggak enak udah malem, makasih udah nemenin aku makan malam.” ucap Fery ketika mereka sudah sampai di depan rumah Dinda.

Ya, malam ini adalah malam yang dijanjikan Fery waktu itu, sekaligus ucapan selamat untuknya dari cowok itu.

“Makasih juga untuk makan malamnya.” balas Dinda.

Fery tersenyum. Lalu hening sesaat. Sampai..

“Hei!! Kok malah bengong sih? Dinda tinggal masuk nih, mau mampir dulu nggak?”tegur Dinda yang tahu – tahu sudah ada di jendela samping Fery. Fery gelagapan.

“Ngg, gimana ya? Tapi..” Fery ragu – ragu.

“Udahlah, yuk!” Tanpa menunggu persetujuan Fery, Dinda langsung meninggalkannya. Dengan geleng – geleng kepala akhirnya Fery mengikuti Dinda turun dan dengan ragu-ragu memasuki rumah itu.

Dinda mempersilahkan cowok itu duduk, “Mau minum apa?” tanyanya. Cowok itu menggeleng.

“Nggak usah repot, Din. Terserah kamu aja.”

“Dingin atau panas?”

“Nggg, dingin aja.”

Dinda lalu meninggalkan Fery menuju dapur dan bergegas membuatkan minuman dingin. Namun baru beberapa detik cowok itu duduk, tiba – tiba ia tampak terkejut ketika melihat sebuah figura  yang terpajang tak jauh dari sudut ruang tamu . Matanya menyipit, seperti memperhatikan sesuatu yang aneh dan menarik dari photo dalam figura itu.

Dinda yang sudah selesai membuatkan minuman dan kini tengah meletakkan gelas berisi sirup itu di depannya ikut bingung ketika menyaksikan Fery yang masih tak berkedip. Dinda heran, “Kenapa sih? Kok bengong? Ngeliatin photo itu?”

“Nggak, nggak apa-apa. Ini.. siapa?” tanya Fery ragu.

“Itu photo ayahku.”

“Ayah kamu?”

“Iya, kenapa?” jawab Dinda dengan nada heran dengan pertanyaan itu.

“Ngg, nggak. Oh ya, aku lupa tadi aku ninggalin kerjaan penting, kayaknya aku harus pulang sekarang deh Din, nggak apa – apa kan?”.

“Kerjaan?”

“Ya, tugas buat besok”

“Kok buru – buru amat?”

“Eng.. iya, soalnya bahannya banyak banget. Maaf ya Din, aku nggak bisa lama – lama. Nggak apa – apa kan?” Fery memasang wajah memelas.

Dinda cemberut, tapi akhirnya gadis semampai itu mengiyakan permintaan cowok itu, “Nggak apa- apa, tapi kamu minum habiskan dulu minumnya, ok?”

Fery menuruti kemauan gadis itu. ia langsung menghabiskan minumannya,  lalu buru – buru pamit. Dinda mengantarkan Fery sampai pintu.

“Ya udah, hati – hati ya!”

Fery mengangguk, “Iya, Bye!”

Dinda balas mengangguk. Fery berbalik meninggalkan Dinda juga melangkah masuk yang masih dengan senyum mengembangnya.

Sementara itu sesampainya di mobil, Fery ternyata tak langsung pergi. Ia hanya duduk di belakang kemudi. Matanya masih terus memperhatikan bayangan Dinda yang menjauh dan akhirnya hilang di balik daun pintu yang menutup. Pikirannya kembali melayang kepada figura yang terpajang di ruang tamu tadi.

Benar! Pasti ia tidak salah lihat. Pram, pasti laki – laki itu adalah Pram! Sosok lelaki yang selama ini paling dibencinya. Karena lelaki itulah ia harus kehilangan papa untuk selamanya! Ya, Fery tidak akan lupa wajah lelaki yang menangis meminta maaf kepada mama itu waktu. Tapi, ayah? Dinda memanggil lelaki itu dengan panggilan ayah? benarkah hubungan Pram dengan Dinda adalah ayah dan anak? Mengapa ia tak pernah tahu selama ini?  Mungkinkah…

Fery buru – buru mengeluarkan ponselnya dari kantong dan menekan sebuah nomor yang sepertinya sudah begitu hapal di kepalanya. Seseorang di seberang sana langsung menjawab telponnya.

“Halo, sialan lu ya!” maki Fery.

“Lu kenapa, kok tiba – tiba mencaci – maki gw?” tanya suara itu.

“Ya, kenapa lu nggak bilang ke gw kalo Dinda adalah anak Pram? Laki – laki itu?” sahutnya ketika seseorang di seberang sana sudah mengangkat telponnya.

“Oh, ckk, ckk. Sang pangeran rupanya sudah tahu identitas cinderellanya. Fery, Fery, Fery, justru lu harus makasih kan sama gw?”

“Makasih? Makasih buat apa?”

“Masa lu belum ngerti juga. Gw tahu lu cerdas Fer, tapi gw lebih cerdas. Gw tahu semua rencana yang  akan mempermudah pembalasan lu.  Gw nggak salah kan? Makanya lu harus bilang terima kasih sama gw  ya, Fery sayang? Ha ha ha! Click! Tut.. tut..!”  Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, suara di sebarang itu segera memutuskan telpon.

Fery bertambah kesal. Di bantingnya handpon mungil itu ke jok mobil dengan kesal. Dahinya mengernyit beberapa saat, memikirkan perkataan si penerima telpon tadi. Makasih? Apa maksudnya?

Tiba – tiba saja senyum manis cowok itu mengembang dan langsung berubah menjadi sebuah seringai. Seperti seringai seekor srigala yang menemukan santapan lezat yang terhidang di depannya. Thank’s!. hebat! Sebuah rencana seperti tergambar langsung dibenaknya. Rencana yang begitu sempurna! Sedetik kemudian, mobil keluaran terbaru itu meluncur menembus kegelapan dan menyisakan kesepian malam.

……bersambung ke RB bagian 5……………….

RB bagian 3

Jakarta,  Masih pertengahan Januari 2005..

Hari masih pagi. Udara masih terasa segar dan sejuk, karena belum tercemar polusi asap kendaraan yang lalu lalang. Satu persatu mobil mobil berhenti di depan gerbang bangunan itu untuk menurunkan penumpangnya di sana, termasuk Dinda yang seperti biasanya diantar oleh sopirnya, pak Maman. Gadis itu bersiap untuk turun ketika pak Maman berbicara padanya..

“Maaf non, nanti pulang sekolahnya mau dijemput atau pulang sendiri?” tanyanya.

Dinda berpikir sesaat, mengingat – ingat acaranya nanti siang, “Nggg.. nggak usah deh, pak. Nanti Dinda pulang sendiri aja. Oh ya, pak, ini…” Dinda mengeluarkan sebuah amplop berukuran sedang dari tasnya, lalu menyerahkannya ke lelaki yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarganya itu.

Pak Maman menerima amplop itu dengan kening berkerut, “Ini apa, non?”

“Ini undangan acara sekolah Dinda, masih lama sih acaranya, tapi tolong kasih ke ayah ya, pak. “

“Baik, non. Tapi, kenapa non nggak kasih langsung aja ke tuan?”

“Tadi malam Dinda lupa, tadi ayah juga udah berangkat duluan, ya udah, hati – hati ya, pak!”

Pak Maman mengangguk, “Baik, non.”

BLAMM!! Dinda menutup pintu mobil, lalu bergegas memasuki gerbang sekolahnya. Namun baru beberapa saat ..

Hei Din, selamat ya! elo masuk ke finalis pemilihan siswa teladan, lho!” Selly, Anggi, Mia dan Desi langsung menyambut Dinda begitu ia memasuki gerbang sekolah. Tas yang masih tersampir di bahu mereka menandakan bahwa keempat gadis itu juga baru tiba dan belum sempat ke kelas, sama seperti Dinda.

Dinda menatap para sahabatnya tak percaya.” Ah, yang bener? Masa sih?” tanya Dinda tak yakin, ”Kata siapa?”

Anggi, Selly, Mia, dan Desi tidak menjawab pertanyaan Dinda. Keempat gadis itu malah menyeret Dinda menuju mading sekolah.

Dinda menatap mading itu dengan tak mengerti, sampai akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Namanya tercantum di sana! Di deretan nama finalis siswa teladan!. Dinda menatap papan itu dengan tak percaya. Sedetik kemudian, senyumnya langsung mengembang. Namun..

“Biasa aja ya, kasian amat sih, kayak ngeliat apaan aja..”.

“Iya, gitu tuh norak!”

“Mending kalo bisa menang!”

Suara kasak – kusuk dari belakang membuat kelima gadis itu menoleh. Selvy and the gank, yang selama ini menganggap Dinda Cs sebagai musuh, sedang  menatap mereka dengan pandangan sinis. Dinda baru mengerti, ketika ia membaca pengumuman itu sekali lagi. Ternyata Selvy termasuk ke dalam deretan data yang terpajang, alias finalis juga.

“Apa lu bilang?”. Balas Selly tak kalah sengitnya. Gadis mungil ini emang cepat emosian. Nggak usah dipancing – pancing juga dia bisa naik darah. (emangnya pompa air yang lagi ngadat, harus dipancing dulu? he..he..).

“No – rak!” Jawab anak  yang agak gemuk.

“Padahal udah pasti nggak menang, ya Selv?” Kali ini si kuncir kuda ngomong sambil menghampiri dan menunjuk Dinda Cs.

“Belum tau dia siapa yang akan menang, Selvy.. belum tau dia gimana strategi buat menang, Lihat aja ntar Din, lu nggak bakalan bisa menang. Ya nggak Sel?” sambung si kuncir kuda lagi. Selvy yang dituju hanya memandang Dinda  dengan tatapan yang tak dimengerti oleh Dinda.

“Apa lu bilang?” sambar Anggi.

“Gw bilang lu semua norak!”. ujar gadis berkuncir tengah.

“Hei, berani lu ya? Lu tuh yang norak!” Anggi menatap si kuncir kuda dengan berani. Kesel.

“Yang satu sok segalanya, yang lain?” lanjut gadis yang satu lagi.

“Kayak buntut aja, nempel kemana – mana, Buntut!”  si rambut panjang Mila, menjawab ucapan temannya.

Sekarang bukan hanya Selly yang terlihat marah. Keempatnya seperti siap untuk tempur. Untunglah Dinda segera melerai, sebelum perang saudara itu dimulai.

“Udah ah, jangan diladenin, yuk!” ucap Dinda.

Dinda menarik tangan ke empat sobatnya untuk segera pergi dengan susah payah menjauhi Selvy Cs. Mereka berniat menuju kelas masing – masing. Hanya Selly yang masih mengomel, “Kenapa sih lu Din? Biarin aja kita kasih dia pelajaran sekali – kali, biar tau rasa! sombong banget sih tuh anak! Nyebelin banget!”

Dinda berusaha menenangkan Selly, “Nggak ada gunanya Sell, paling – paling kita Cuma bakalan nambah masalah aja kan?”

Selly mengangguk pelan, lalu diikuti yang lainnya.“ Trus, kan siapa yang menang nanti tergantung hasil pemilihan dewan juri, ya kalo dia yang pantas menang , pasti  dia yang menang. Kalo gw, ya gw.. kita liat aja lah nanti. Lagi pula, kalau gw kepilih, ntar kasian dong lu semuanya! hadiah buat pemenang tahun ini kan dapet beasiswa belajar ke Australi, ya walaupun cuma beberapa bulan kan tapi kan lumayan, sepi kan tanpa gw?” Dinda cengengesan. Yang lain ikut mengangguk – anggukkan kepala.

“Tapi Din, kalau Selvy yang menang kan dia bisa lebih sombong tuh! Bisa – bisa kita diinjak – injak lagi!, ya?” Desi menimpali.

Anggi, Mia dan Dan Selly mengangguk mengiyakan. Dinda mengangkat bahu, “Up to her laaah!”

Setiap tahun Sekolah Teladan, sekolah Dinda, memang memilih satu di antara murid berprestasi. Murid yang terpilih akan mendapat beasiswa belajar di luar negeri untuk satu tahun. Begitupun dengan tahun ini. Negara tujuan tahun ini adalah Australia.

Australia, negeri kangguru. Tempat impian yang sejak kecil ingin sekali dikunjungi Dinda dan yang selalu dilihatnya dari acara – acara televisi saja. Dinda masih ingat, dulu bundanya pernah berjanji akan mengajak putri kecilnya ke negeri itu kalau Dinda sudah sedikit besar. Ah!  bunda, janji itu tak akan pernah terlaksana. Ayah? Sejak itu ayah tak pernah peduli tentang mimpi Dinda..

Hmm, tapi Dinda bukannya tidak optimis, tapi ia sendiri sebenarnya ragu dan takut akan mengecewakan teman – temannya. Karena ia tahu sendiri, sebelum pemilihan nanti pasti akan ada seleksi ulang, wawancara, pooling, dan tanya jawab mengenai non akademis dan akademis. Walaupun seisi sekolah tak meragukan otak gadis itu, tapi Dinda masih ragu karena belakangan ini perhatian dan pikirannya didominasi oleh tebece yang sampai saat ini masih tak jelas perkembangannya dan bahkan cenderung memburuk dari sebelumnya. Ya, jadi mungkin wajar saja nanti kalau yang keluar sebagai pemenang nanti adalah Selvy atau yang lainnya, walaupun penilaiannya nggak cuma dari itu. Lebih dari itu, ada satu masalah yang mungkin akan mengganjal kemenangannya nanti (kalo menang lho!). Dinda kembali gundah.

Tiba – tiba Desi meringis sambil memegang perutnya. Wajah keempat sobat lainnya spontan berubah khawatir.

“Kenapa Des?”

“Lu sakit perut?”

“Atau maag lu kambuh?

“Atau lagi dapet?”

“Lu serius nih, Des?”

Keempat gadis itu menatap Desi penuh khawatir. Desi nyengir, membuat para sobatnya semakin bingung.

“Iya, kita ke kantin dulu yuukk, yuuukkk!.”ucap Desi dengan gayanya yang lugu. Lucu dan belagu!

Kontan keempat sosok lainnya bernapas lega, tapi kesal. Keempatnya langsung bersiap menjitak kepala gadis imut itu dan berteriak serentak, “Huuu… itu mah karena belom nyarap kali alias laper non! Makaaan aja dipikirin! Dasaaaarr!”

“AUUU!! Sakit tau!” jerit Desi ketika tangan – tangan itu mendarat di kepalanya.

…………………

Dinda berjalan dengan santai menuju tempat parkir mall tempat di mana ia biasa berbelanja dan mencari kebutuhan – kebutuhan yang diinginkannya, tempat dimana pak Maman, sopirnya, menunggu. Di tangannya tergenggam sebuah kantong plastik berisi kantong obat bertuliskan nama sebuah apotek dan beberapa barang belanja harian. Namun, beberapa saat menunggu, mobil yang ditunggunya itu tak juga menunjukkan tanda – tanda akan datang.

Dinda mulai gelisah. Berkali – kali diliriknya arloji yang melingkar manis di pergelangan tanggannya. Huff. Kemana sih pak Maman? Kan udah disuruh tunggu di sini? Mana panas, banyak asap, bikin sesak napas, udah tahu Dinda paling anti sama yang namanya asap belakangan ini, kok malah harus berlama – lama di basement yang banyak asap mobil begini! keluh Dinda. Ia menarik napas panjang, menumpahkan kekesalannya. Tiba – tiba sebuah suara dari arah belakang  mengejutkankannya..

“Hai, Din…!”

Dinda menoleh, terkejut. Fery terlihat tersenyum ke arahnya.

“Fery? Kok kita bisa kebetulan ketemu ya?” ucap Dinda bingung, sekaligus surprise, “ Lagi ngapain di sini? Belanja?”

Fery tertawa, deretan – deretan giginya yang putih menambah pesonanya, “Nggaklah, tadi abis nganterin mama belanja. Kamu?”

“Ya, abis belanja. Trus sekarang mo kemana? Lagi nungguin mama kamu?”

“Nggak, malah mama nyuruh aku pulang duluan, ntar katanya dia bisa pulang naik taksi.”

“Oh..” mulut Dinda mengerucut.

“Kamu sendiri lagi ngapain  sendirian di sini? Apa lagi nunggu seseorang? Atau lagi janjian sama Anggi?”

“Anggi?”

“Ya, tadi kan ada Anggi, aku ketemu kok tadi di dalam.”

“Ah, nggak, lagi nunggu pak Maman, sopirku. Tadi sih janjinya nunggu di sini, tapi udah lama aku nunggu dianya belum datang – datang juga. Mana di sini kan banyak asap gini, panas lagi!” keluh gadis itu sambil mengelap keringatnya yang mulai bercucuran dengan tissu.

“Oh, kirain janjian sama Anggi. Ya udah, gimana kalo kamu ikut aku aja, ntar aku anterin, kan kita searah. Yuk!” Ajak Fery.

“Aduh, jadi nggak enak nih Fer, nanti malah ngerepotin.” Dinda merasa nggak enak. Tapi Fery terus memaksa, “Udahlah, yuk!”

Akhirnya dengan ragu – ragu Dinda mengikuti langkah Fery. Sebuah sedan keluaran terbaru segera meluncur dari pusat perbelanjaan itu, diikuti mobil lainnya.

Dinda memberi isyarat pada Fery untuk menepi ketika mobil itu sudah mendekati rumah yang ditujunya. Sebuah rumah yang cukup megah dengan taman di sekelilingnya.

“Eh, Din, aku dengar kamu terpilih jadi finalis pemilihan siswa teladan sekolahmu ya? Selamat ya!”. Ucap Fery ketika Dinda ketika Dinda akan turun dari mobil.

“Thank’s ya, tapi aku belum pasti kepilih kok, saingannya banyak. Tapi, kok kamu tahu? Tahu dari siapa?” jawab Dinda nggak enak. Bukannya Dinda pesimis, tapi memang itu kenyataan yang dilihatnya lho!

“Dari Anggi. Percaya deh kamu pasti menang, Din! aku akan dukung kamu sepenuhnya.  Siapa sih yang nggak kenal kamu?  emang siapa sih yang jadi saingan kamu? Kok kayaknya khawatir banget?”

“Ada Selvi, trus sama beberapa anak lagi, Ok, aku turun dulu ya, hmm, mau mampir dulu?” tawar Dinda. Gadis itu membereskan barang belanjaannya dan bersiap untuk turun.

“Nggak usah, thank you, mungkin lain kali aja, Oh ya, malam minggu kamu ada acara nggak?”.

“Sabtu ini kan Final pemilihan siswa teladan di sekolah, mungkin sampai malem, tapi kalo minggunya sih nggak ada, kenapa?”

“Aku tau tempat makan yang enak di sekitar sini, nggak jauh kok dari sini,  aku mau ngajak kamu ke sana, mau?.”

Dinda berpikir sejenak. Lalu senyum gadis itu mengembang, lalu mengangguk, “Kapan?” tanyanya.

“Ngg, kalau hari minggu jam empat?”

“Nggg… Ok.”

Fery tersenyum senang, “Ok, hari minggunya aku jemput jam empat, aku pulang dulu ya, bye Din!”.

“Bye..!” ucap Dinda sebelum Fery melesat menjauh, meninggalkan Dinda yang mulai melangkahkan kakinya dengan langkah ringan. Senyumnya tak henti – hentinya mengembang, meski masih ada sekeping kekhawatiran  tergambar di sana. Adakah semua ini akan berjalan sesuai dengan harapan? Ataukah hanya seperti mimpi dan bunga tidur yang datang sekejap lalu menghilang ? bisakah berharap lebih dari itu?

Tiba – tiba, pikiran Dinda langsung beralih kembali kepada pak Maman, ketika sosok itu tergopoh – gopong menyambut barang bawaan Dinda dengan sigap.

“Kok, Dinda nggak dijemput sih, pak?” tanya Dinda dengan raut muka cemberut.

“Lho, kan non sendiri yang bilang kalo non mau pulang sendiri..” jawab pak Maman dengan nada tak bersalah.

“Apa, pak?!” Dinda jadi bingung.

“Iya, non.”

“Saya yang bilang begitu pak?” Dinda memastikan pendengarannya.

“Iya, tadinya bapak udah mau berangkat jemput non. Eh, tiba – tiba ada telpon dari non, ya.. nggak agak nggak jelas sih, tapi katanya non mau pulang sendirian. “ pak Maman ikut bingung.

“Saya? telpon?” kening Dinda berkerut. Tambah bingung!

“Iya, non. Emang kenapa non?”

“Ah, nggak pak, nggak apa – apa, makasih ya..!”

Dinda meninggalkan pak Maman yang juga masih bengong. Dinda kembali mengingat – ingat kejadian sejak dua jam yang lalu dan melihat register telpon di handponnya dan.. memang tidak ada telpon keluar! Lalu, siapa yang menelpon pak Maman? Dan apa tujuannya?

“Ah, bodo. Egepe aja lah!” pikir Dinda, lalu bergegas menuju kamarnya di lantai atas. Lelah.

………………….

………bersambung ke RB bagian 4………….

RB bagian 2

Jakarta, masih pertengahan  Januari 2005…

“Ya ampun..! Dinda?!”

Koor Anggi dan Mia kompak begitu menyaksikan pemandangan mengejutkan di depan mata mereka. Mereka sudah rapid an wangi, eh.. Dinda masih tidur dengan nyenyaknya!.

Haahh?!. Dinda terlonjak bangun oleh koor histeris dari luar kamarnya itu. Kepala Anggi dan Mia muncul dari balik daun pintu kamarnya yang terbuka. Kedua sobat karibnya itu sudah terlihat cantik dengan gaun berwarna muda yang membalut tubuh mereka. Wajah mereka yang sudah terpoles make-up langsung mengkerut begitu melihat Dinda yang masih meringkuk di tempat tidur, dengan baju tidur yang awut – awutan.

“Duh, gimana sih? dibilangin dijemput jam tujuh kok masih molor?!“ omel Mia, ikut sewot dan langsung duduk di depan meja rias Dinda untuk membetulkan make up-nya.

Dinda nyengir dengan wajah polosnya, pura – pura tak bersalah, “Sorry, gw ketiduran. Selly sama Desi mana? Atau nggak ikut?”. Ucapnya, lalu menyambar handuk yang tersampir di jemuran mungil di dekat pintu kamar mandi.

Mia dan Anggi menganggat bahu berbarengan, dan berseru serentak, “Nggak.”

“Nggak?”

“Nggak ngelewatin maksudnya..!”

Dinda geleng – geleng kepala. Hm.. dasar!

“Pada nunggu lo di mobil, maka jangan pake lama, kasian tuh anak dua pada bete nungguin lo.” Mia mendorong Dinda untuk segera masuk ke kamar mandi, “Buruan!”

“Iya, tapi tolong pilihin baju yang mau gw pake di lemari, ya?” Dinda mengerlingkan mata. Sebelum akhirnya menutup pintu kamar mandi.

Anggi dan Mia saling berpandangan, “Lu aja, Nggi! Gw mau ke mobil dulu.”. Ucap Mia buru – buru, lalu ngacir ke luar kamar, membuat Anggi bertambah cemberut.

Anggi menghembuskan napas kesal. Tapi meski begitu, Anggi langsung sibuk dengan setumpuk pakaian Dinda yang teronggok di samping sebuah amplop coklat yang hampir lecek. Anggi tersenyum penuh arti. Hmm… Dinda, Dinda! Apa sih yang nggak gw lakuin buat elo?

………………

07.00pm. Dua buah sedan berwarna mencolok berhenti di depan sebuah hotel berbintang. Lima orang gadis remaja  bergegas turun dari keduanya. Mereka adalah Dinda, Anggi, Mia, Selly dan Desi. Kelimanya lalu bergegas memasuki gedung yang sudah penuh sesak dengan para undangan yang rata – rata remaja itu. Bukan, bukan Fery yang membuat Dinda  memutuskan untuk datang kali ini, tapi terus terang Dinda merasa nggak enak sama Anggi and the gank karena hampir tiga mingguan mereka nggak jalan bareng!

Dari kejauhan, sesosok cowok berkulit putih terlihat langsung mendekat menyambut kedatangan mereka. Dari penampilannya yang rapi dan cara penyambutan teman – temannya, Dinda bisa menebak pastilah dia salah seorang yang penting di pesta ini. Dan ternyata tebakannya tepat.

“Hai, Semuanya!” cowok itu menyapa Dinda and the Gank.

“Hai juga Fer, selamat ulang tahun, ya?” Anggi langsung menghampiri  sosok bertubuh atletis itu dan memberi ucapan selamat, disusul oleh Mia, Selly, Desi dan.. Dinda yang ikut menyalami dengan ragu – ragu.

Ow.. ini yang namanya Fery, ucap Dinda dalam hati. Cool, handsome, emh, Keren juga!. Dinda tersenyum malu dengan pikirannya.

“Thank’s ya semuanya udah bersedia datang. By the way, yang namanya Dinda yang mana nih, Nggi?.” Tanya Fery penuh selidik.

Degg!. Dinda langsung jadi salah tingkah. Ia mengalihkan pandangan kepada Anggi Cs. Hm, pasti ada yang bikin gara – gara nih!

“Oh iya, Din, ini Fery yang pengen banget kenal sama elo, Fer, ini Dinda, perfect kan orangnya? Udah pinter, baik, dari keluarga mampu, cantik lagi, perfect abis deh!” Ujar Anggi dengan gaya seperti sales sedang promosi.

Dinda menyikut perut Anggi yang bergaya seperti sales yang sedang promosi itu. Fery tersenyum. Anggi mengedipkan mata, membuat Dinda semakin salah tingkah!

“Nggi, udah ah, biasa aja lagi!” Dinda tak enak. Ia mencolek bahu sahabat karibnya. Anggi balas nyengir.

“Udahlah Din, nggak usah menyangkal, Anggi udah sering cerita tentang kamu kok, dan ternyata Anggi emang nggak bohong, kamu memang cantik, secantik nama kamu, Dinda.” ucap Fery tanpa sungkan – sungkan.

Brrrr.

Dinda merasakan muka merah seperti terbakar dan  semakin memerah menahan malu atas pujian Fery. Mata gadis itu benar – benar melotot ke arah Anggi. Sedangkan Anggi? Gadis itu Cuma cengar – cengir aja diplototi kayak gitu, bikin kesel kan? (mangkel banget..!).

“Cool! Kita – kita nggak dikenalin nih?” Mia, Selly dan Desi ambil bagian. Fery balas menggelengkan kepala.

“Ah, lu kan udah sering ketemu. Yuk Din, sini gw kenalin sama  nyokap gw” Ucap Fery membuat Dinda makin deg – degan, pasalnya ajakan itu cuma ditujukan untuk Dinda!.

Dinda menatap Anggi, Selly, Mia dan Desi. Keempatnya mengerling,  pertanda Dinda harus mengikuti ajakan Fery.

Dinda mengikuti Fery dengan langkah ragu dan takut. “Mama Fery? Kayak apa ya? Serem nggak ya? Ntar jangan – jangan malah diomelin dan dicaci maki seperti di sinetron – sinetron lagi, trus diusir dari pesta, trus..” Dinda tersenyum sendiri dengan pikiran konyolnya.

Tapi ternyata Tante Tari, Mama Fery, menyambut Dinda dengan ramah, meski pada awalnya perempuan setengah baya itu menatap Dinda sedikit agak lama, membuat Dinda salah tingkah dan tertunduk malu.

Lagi – lagi Dinda menghela napas panjang. Perfect! Ya, semua orang menganggapnya begitu sempurna, semua ingin mengenalnya, semua menganggapnya tanpa cela. Tidak! ingin rasanya Dinda memberontak, berteriak dan mengatakan, “Semua salah! Aku tidak sesempurna itu!” tapi bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada mereka,  Akankah setelah nanti teman – temannya tahu semuanya, semua akan tetap seperti ini? ataukah…

Ah, sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, Dinda mencoba menepis semua pikiran buruknya, lalu gadis itu menarik napas dalam – dalam. Selanjutnya Dinda berusaha untuk ikut larut dengan suasana pesta yang semakin hiruk pikuk. Ditambah lagi, Fery yang tak pernah membiarkannya melamun sesaatpun. Sejenak kegelisahan dan keresahan bisa terlenyapkan dari kepala Dinda. Tapi sampai kapan semua akan seperti ini? apakah mungkin berterusan lari dari kenyataan pahit seperti ini?

…………bersambung ke RB bagian 3……………

RB bagian 1

Jakarta,Petengahan Januari, 2005…

Mentari belum terlalu condong ke ufuk barat, menandakan  hari masih belum terlalu sore. Berbagai macam jenis dan merek mobil berderet dengan rapi di sepanjang jalan itu. Hiruk- pikuk bunyi klakson dari mobil-mobil yang pengemudinya tak sabaran ikut meramaikan kacaunya suasana di jalan itu. Diantaranya termasuk seorang gadis muda yang masih berusia belasan tahun.

Dinda, gadis itu  mengemudikan sedan silvernya dengan hati – hati dan perlahan, mengikuti arus kendaraan yang padat hingga luber ke bahu jalan. Seragam putih abu – abu masih membalut tubuhnya. Matanya menerawang jauh, seakan tak terpengaruh dengan kemacetan lalu lintas yang tak kunjung habis – habisnya itu. Ada pancaran resah dan galau di sana. Sesekali matanya melirik amplop coklat bertuliskan ‘laboratorium radiologi’ yang tergeletak di jok coklat empuk di sampingnya. Hatinya gundah.

“Mengapa aku harus menerima amplop coklat itu? Mengapa aku yang harus mengalami semua ini? aku tak pernah menginginkan ini ya, Tuhan.. kenapa tidak…” batin Dinda menjerit ingin melepaskan beban berat di kepalanya.

Rrrrr! Rrrrr!.

Dinda tersadar dan terlonjak ketika handphon mungil di sakunya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layarnya. Tangannya segera terulur untuk mengambil dan segera menekan tombol “yes” pada benda mungil itu.

“Halo, siapa nih?”sapa Dinda riang, berusaha membuat suaranya setenang mungkin.

“Din, ini gw, Anggi.” sahut suara dari seberang.

“Lu ganti nomer lagi, Nggi?”.

“Yo’i..”

Anggi adalah teman sekelas Dinda yang paling dekat dengannya, hobbinya emang gonta – ganti Handphone dan simcard. Maklum, Anggi  juga anak seorang pengusaha yang kaya raya yang sukses. Jadi, jangan heran kalau ada telpon, dan yang ngomong Anggi lagi dan Anggi lagi!

“Ya, kenapa non, tumben nelpon gw? Uhuk uhuk!” ucap Dinda sembari menutup mulutnya dengan sapu tangan. Duh! batuk lagi!

“Din, lu sakit ya? Kok batuk – batuk sih?,” Anggi curiga,“Tapi, kalo gitu mah lu istirahat aja, kita juga nggak maksa kok, Din.”cegah Anggi buru – buru. Dinda jadi tak enak hati mendengarnya.

“Nggak kok, Nggi..” Jawab Dinda.

“Bener?” Anggi ragu.

Dinda mengangguk, lalu “Suwer, gw nggak apa – apa, ada apa tadi?” Dinda mengalihkan pembicaraan.

“Sekarang lu di mana? Ntar jam tujuh gw sama anak – anak jemput lu ya, jangan telat lho!” Anggi mewanti – wanti.

“Jemput? “kening Dinda berkulit putih itu mengkerut, “Bentar lagi nyampe rumah, emang pada mo kemana sih? Emang ada acara apaan lagi Nggi malem ini?”.tanya Dinda bingung. Kening gadis itu mengkerut seperti berpikir.

Anggi ketawa, “ Ih, lu mah.. masak sih lupa? hari ini kan ulang tahunnya Fery?”

“Fery? Fery siapa?”. Dinda Heran.

Anggi tertawa lagi mendengar pertanyaan Dinda “Ih, Fery, itu lho, Din, mantan kapten basket dan ketua OSIS sekolah kita tiga tahun lalu.  Masak lu nggak tau sih?”

“Apa? Pengamen yang main basket pakai tangga, trus jatuh?” Dinda pura-pura tulalit. Anggi menghela napas kesal.

“Ih, lu kok tulalit ya sekarang?” Anggi sewot.

“Ih, enak aja! Swear, gw nggak tau!”

“Itu lho.. Fery.. Fery.. ih, nih anak!”

“Kemaren Dani, trus Gery, trus Tio, trus Andri, nah ini siapa lagi sih? heran deh sama lu pada! kok nggak ada habis-habisnya ya?”

“Udah deh, pokoknya keren abis deh Din! Dianya mau kenal sama lu, makanya, lu sih kabur mulu belakangan ini.”

So, what, Nggi?”

“So what – so What, sewot kalee..!! udah deh! jangan banyak tanya, jam tujuh teng! Ok?”

“Eh, iya deh! gw tunggu ya, bisa aja deh lu!” Dinda akhirnya meng-iyakan dengan ragu – ragu.

Anggi tersenyum mendengar jawaban Dinda. Ia bersorak dalam hati. Yes! Sukses!

“Ok Nggi, bye..”

Dinda menutup telpon dengan gusar. Dinda sebenarnya bukan sengaja menghilang dari peredaran alias melupakan  teman dengan tidak mengikuti acara – acara teman – temannya belakangan ini, tapi selama ini Dinda memang lagi nggak ada waktu! Sibuk? Memang sih, sibuk bolak – balik ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Anggi and the gank!

Huh! Dinda jadi bingung. Hatinya jadi bimbang. Berbagai macam pertanyaan mulai mengusiknya. “Apa aku harus tetap pergi, sedangkan amplop coklat itu… tapi kalau aku nggak pergi, berarti… ah, sudahlah, pergi atau tidak itu urusan nanti. Sekarang yang penting adalah sampai di rumah secepatnya, capek!”

Sedan itu melaju lebih cepat menembus keramaian ibu kota Jakarta yang semakin panas dan penuh dengan polusi. Blas!

……………………

“Assalamu’alaikum!” ucap Dinda begitu memasuki rumah.

“Wa’alaikum salam! eh, non udah pulang?” jawab Mbok Yana, wanita setengah baya, yang ketika sedang membersihkan lemari es. Wanita itupun lalu bergegas menyambut majikannya.

“Udah mbok.” Jawab Dinda, lalu langsung menuju kamar dan langsung merebahkan tubuh setelah meneguk segelas air putih yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Dinda menghela napas panjang. Selama beberapa minggu ini  kondisi tubuhnya memang menurun dan mudah sekali merasa capek atau terkadang tubuhnya agak demam dan berkeringat di malam hari, dan terkadang batuk kecil ikut menyelingi. Beberapa kali Anggi, Mia, Selly dan Desi mengajaknya untuk konsultasi ke dokter, tapi semua tak dihiraukan oleh Dinda. Pikirannya selalu optimis kalau batuk atau demam itu adalah hal biasa kalau menjelang pergantian musim. Toh, nanti juga sembuh dengan sendirinya, Dinda berkilah.

Itu dulu, dan sekarang? siapa yang tahu anggapan itu benar atau salah? Tiga minggu sejak saat itu, Dinda akhirnya  memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke dokter. Dan siapa sangka jawaban Dokter dan hasil pemeriksaan mantaoux, hasil rontgen, serta hasil pemeriksaan dahak selama tiga hari tadi pagi itu telah mencabik hatinya. Dinda sungguh terkejut setengah mati!

Bagaimana tidak? TBC alias tubercolosis, sebuah penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tubercolosis yang tak pernah terlintas di kepalanya selama ini, bahkan seumur hidupnya sekalipun. Ya, karena biasanya yang ia tahu, hanya orang – orang yang hidup kekurangan yang banyak mengidap penyakit itu, tepatnya penyakit orang miskin! Mustahil, bagi ia yang hidup berkecukupan dan jauh dari kekurangan gizi! Ataupun kalau orang kaya, pastilah ia seorang perokok berat.

Pikiran Dinda mengembara mencari jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya,” Ya Tuhan.. kenapa harus aku yang harus mengalami ini semua?  Apa salahku sehingga ia harus mendapat penyakit yang memang kelihatannya baik – baik saja itu tapi bisa membunuh secara perlahan itu? kenapa harus aku..? aku tak bersalah, Tuhan..” Dinda bertanya dalam hati. Dadanya terasa sesak menahan beban. Pusing!

Dinda mencoba mencari jawaban. Kata – kata dokter tadi masih terngiang di kepalanya.

“Saya terus terang juga heran mengapa kamu yang masih muda, berkecukupan, dan terlihat sehat bisa mengidap penyakit ini. Dugaan saya, pertama, kamu tertular dari orang lain. Kedua, kamu tinggal di sekitar para perokok. Ketiga, mungkin dari radang paru – paru yang sudah lama dan akhirnya berkembang menjadi tebe.”

Air mata mulai mengalir deras di pipinya. Pikirannya masih mencari sekeping salah yang membuatnya menerima hasil rontgen, tes dahak dan tes mantoux di amplop coklat itu.  Tapi apa? Apa yang membuatnya menderita seperti ini?

Dinda termenung. Dinda mencoba mengingat masa lalu. Selama ini kalau gaya hidup memang tak jauh berbeda dengan gaya hidup teman -  teman se-Ganknya yang memang rata -  rata orang berada yang suka  party, cafe, dan acara serupa lainnya, tapi Dinda berani memastikan bahwa sekalipun ia tak pernah  menyentuh benda yang namanya rokok atau apa saja lah namanya  yang bisa menyebabkan penyakit maut itu datang menghampirinya!

Dinda menangis. Mulutnya terus menggumam kata – kata dengan lirih, ”Mengapa harus aku yang memiliki keadaan seperti ini? Mengapa bukan teman – temanku para pecandu rokok yang tak punya perasaan ketika dengan cueknya merokok di tempat – tempat umum itu? yang tak pernah berpikir tentang perasaan orang – orang sekitarnya yang kadang merasa sesak napas karena asapnya itu? Mengapa bukan para perokok yang berkeliaran di sekitarku? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau semua teman – teman  tahu soal ini? Apa semua akan menjauh? Bagaimana kalau mereka semua pergi meninggalkanku? Aku nggak mau hidup sendirian dengan penyakit ini, aku nggak mau sendirian, ya Allah..!” isak Dinda.

Pikiran – pikiran yang dipenuhi ketakutan dan kekesalan membuat kepala Dinda terasa semakin berputar. Kesal. Tapi siapa yang harus di salahkan? Tuhan? Tidak, itu tidak tepat. Sebuah amplop coklat masih tergeletak di sampingnya. Semua begitu berat, berat, dan berat. Lebih berat daripada menahan kelopak matanya yang tak kuasa ditahannya untuk tidak terpejam. Ia terlelap dengan berselimutkan sejuta pertanyaan.

…………bersambung ke RB bagian 2………..

RB-Tokoh Cerita

TOKOH CERITA

  • Dinda : Nama lengkap gadis ini sebenarnya adalah Adinda Putri Maharani. Do’I orangnya baik, pinter, sederhana, ga sombong, supel, baik, aktif and pokoknya Te O Pe banget deh!. Hobinya jalan – jalan, maklum anak tunggal ini ga punya kampung, alias jakarte aslee..! he.. he..). Kekurangannya, Doi mengidap TBC, penyakit pembunuh nomor dua di Indonesia!
  • Fery : cowok keren mantan kakak kelas Dinda yang jadi rebutan temen – temennya. Maklum, cowok dengan tinggi 180 cm / 55 kg yang berkulit putih ini orangnya cool banget, meski agak sedikit – sedikit gengsian and mudah terpengaruh alias nggak konsisten! Dan salah satu sikapnya yang agak berbahaya adalah doi tuh tipe orang yang pendendam! Tapi, cowok ini sempat tergila – gila pada Dinda lho!
  • Ryan&Zahra : Kakak beradik yang menjadi dewa penolong Dinda  yang akhirnya jadi orang yang paling setia menemani Dinda dalam menghadapi hari – hari sulitnya. Ryan orangnya biasa aja dan cukup kalem,sedangkan Zahra orangnya ramah dan mudah akrab. Pokoknya mereka itu baii..ik banget. Selain itu, Mereka hanya tinggal dengan ibunya. Ryan  orangnya mandiri and smart, makanya nggak heran kalo akhirnya dia diterima di teknik ITB, cool kan? Kekurangannya, ia selalu terbentur masalah ekonomi alias kurang mampu.
  • Dinda’s Friends ;

Group 1:

-        Anggi ; Cantik, modis, dan manja. Hobbinya suka gonta – ganti handpon dan simcard, hobbinya ngegosip. Sama seperti Fery, ia juga pendendam.

-        Mia ; cantik, baik, tapi kalu disuruh suka melempar tanggung jawab ke orang lain.

-        Selly ; cewek cantik dan imut ini tipe orang yang cepat kebakaran jenggot alias pemarahd dan cepat sewot.

-        Desi ; cewek imut berambut pendek. Sifatnya rada – rada lugu dan polos, tapi hati – hati lho, doi juga cabe rawit nih kalo ngomong!

Group 2 :

-          Nana&Agus ; teman satu kerja dengan Dinda. Keduanya sangat perhatian dan super baik sama Dinda. Cuma, Agus orangnya rada-rada bencis! Sedangkan Nana orangnya suka malu – malu kucing gitu deh!

  • Selvy and The Gank : Saingan berat Dinda dalam segala hal, termasuk                                    dalam pemilihan Siswa teladan.
  • Pram : Ayah tersayangnya Dinda nih! Orangnya sebenernya tipe gila kerja, and cuek. Apalagi setelah ditinggal sama istrinya alias Bundanya Dinda. Tapi, sebenernya dia orangnya sabar, asyik, dan baik banget..Diam – diam bapak setengah baya ini memendam rahasia besar lho!
  • Tante Tari : Pengusaha sukses yang juga adalah Ibu setengah baya yang masih awet muda dan Cantik. Orangnya lemah lembut dan baik. Sekarang ia menjalankan perusahaannya bersama suami ke duanya.
  • Sintya : Perempuan misterius yang tiba – tiba muncul dalam kehidupan keluarga Dinda. Ia membuat Dinda bertanya – tanya tentang siapa Dia dan ada hubungan apa diantara ia dan ayahnya. Perempuan ini type orang yang lembut dan suka memendam rahasianya.