CSDH- bagiah empat belas

SEBUAH PILIHAN

Setelah melalui hari – hari yang menyiksa, akhirnya hari yang paling bersejarah dalam hidup May tiba juga. Ya, hari ini adalah keberangkatannya dan Aldo ke Amerika, sedangkan di hari yang sama, Ferdypun akan berangkat ke Jerman. Makanya May meminta Intan mengantar keberangkatannya.

May menjejakkan kaki di bandara Sukarno Hatta dengan berbagai perasaan. Aldo dan orang tuanya berjalan di sampingnya, sedangkan Aldo membawa dorongan barang – barang yang akan mereka bawa ke Amerika nanti. Setibanya di ruang tunggu bandara, Aldo menghampiri May.

“ May, aku pernah bilang kan.. kalau aku adalah sahabatmu juga dan aku akan terus menunggumu, kecuali….” Ya, tak usah diteruskanpun May sudah tahu kelanjutan kalimat itu. Kecuali.. Ferdy kembali.

“Tidak…. Cukup Do, aku tahu.. sudah cukup semua luka yang dia berikan waktu itu.” Potong May cepat.

“May, berapa tahun aku dekat denganmu? Aku tahu May arti tatapanmu setiap kali aku memandangmu..aku pernah bilang, akan kulakukan apa saja untukmu, karena aku tak ingin melihat mendung di wajahmu aku tahu aku tak bisa menggantikan Ferdy…  sekarang Ferdy sudah di sini, dan…”

“Stop please..!!” Ucapan Aldo langsung dipotong May dengan sedikit membentak. Aldo agak kaget, tapi ia berusaha maklum. Suara May tadi memang cukup keras. Sejak May kenal dengan Aldo, sekalipun ia memang tak pernah seperti ini, apalagi yang namanya membentak.

Aldo menoleh ke arah pintu ruang tunggu yang tembus pandang karena terbuat dari kaca. Mata May ikut  menoleh ke sana, tapi baru beberapa detik mataku memandang pintu itu kepalanya berpaling otomatis ketika melihat bayangan yang muncul dari balik pintu itu. Ferdy!.

May tak tahu maksud Aldo. Oh, my God! Ternyata kata Aldo,  Jam keberangkatan mereka berdekatan! Seandainya saja jam keberangkatan pesawat mereka tak begini.. sungguh! May tak ingin melihat wajahnya, apalagi untuk menemuinya di saat seperti ini.

” May,…“ Panggil Aldo. May tak berani menatap Aldo dan tak dapat berkata apa – apa. Perkataan Aldo mengalir bagai air.

” May, kamu boleh aja bentak aku, kamu boleh aja caci maki aku, kamu boleh aja anggap aku nggak sayang sama kamu, tapi.. jujurlah pada diri sendiri.. aku akan tetap menjadi sahabatmu. Seorang sahabat akan senang, bila sahabatnya senang, demikian juga sebaliknya. Jangan biarkan cintamu pergi untuk kedua kalinya.” Ucap Aldo, lalu berdiri, dan pergi meninggalkan May menuju ke pojok ruang tunggu. Tempat Ferdy duduk dengan dua orang temannya yang ternyata adalah  teman kerjanya.

Jujur pada diri sendiri?  May mengakui, di satu sisi ia memang tak pernah bisa melupakan Ferdy dan masih tersimpan rajutan rindu itu untuknya. Tapi, di sisi lain Aldo telah memberikan yang terbaik untuknya, membantunya melewati hari – hari yang sulit dan melupakan kepahitan yang diberikan Ferdy.. pantaskah ia menyakitinya? Meninggalkannya untuk orang yang pernah menyakiti hatinya? Sungguh! May tak ingin menyakiti siapapun!.

Detik – detik sebelum keberangkatan pesawat begitu menyiksa bagi May. Terlebih lagi ketika terdengar speaker mengumumkan pesawat mereka yang akan berangkat. Akhirnya dengan penuh pertimbangan,  May melangkahkan kakinya mengikuti Aldo perlahan. Tapi..Tidak! ia tak sanggup memilih ! tapi harus! Ia harus memilih!  langkahnya terhenti ketika melihat bayangan Ferdy yang masih di ruang tunggu dari pantulan kaca. May hanya ingin memandangnya untuk terakhir kali. Selamat tinggal, Fer, desis May pelan.

“May, pergilah dengan Ferdy…”

Suara Aldo membuat May tiba – tiba terkejut dan kembali menghentikan langkahnya. May menatap mata bening Aldo, tak percaya. Hati May ingin berteriak, kalau aku pergi dengannya, kamu akan terluka Do! Biarlah Ferdy menanggung akibat luka yang di buatnya dulu!

“Tidak.” May menjawab pendek. Menarik tangan Aldo untuk melanjutkan langkah. Tapi Aldo tak juga mau beranjak.

“Jujurlah May, kalo nggak kamu akan nyesel seumur hidup.”

Air mata mulai membasahi pipi May. Sekali lagi ia memandangi bayangan Ferdy dan Aldo bergantian. Jujur? Sanggupkah ia melakukannya?

“May, ini dokumen yang kamu perlukan.”

Kini Aldo mengangsurkan berkas – berkas di tangannya kepada May. Dalam sekejap May bisa mengenali berkas – berkas itu. ya, yang diberikan Ferdy kepadanya beberapa waktu yang lalu!.

“Ini aku temukan ketika memeriksa kelengkapan berkas – berkasmu. Aku tahu ini akan terjadi, jadi aku mengurus semuanya, aku juga sudah bilang sama tante dan om. Pergilah May.. “

“Do, kenapa kamu ngelakuin ini semua?” air mata menggenangi pipi May. Aldo mengeluarkan tissu dari dalam saku jaketnya. Mengusap airmata gadis mungilnya itu.

“Sahabat. Kita sahabat kan? Dulu aku pernah bilang begitu kan?  May, seorang sahabat sejati akan senang bila sahabatnya senang, aku juga senang kalau kamu bahagia.”

Sekali lagi May memandangi Aldo dengan tatapan haru. Rasa kagumnya semakin besar kepada Aldo atas kelapangan dadanya sejak pertama kali hadir mengisi hari – harinya dulu. Terbayang kembali di kepala May kata – kata Aldo di taman itu, di bangku sekolah itu, di setiap detik hari – hari sulit yang ia alami.. perasaan itu semakin membuat May tak ingin meninggalkannya. May langsung menghambur ke pelukan Ald. May benar – benar menangis lagi.

………………….

EPILOG…

Di ruang tunggu, Ferdy bersiap – siap melangkah meninggalkan ruangan ber – AC itu. Kedua temannya sudah ia suruh pulang beberapa saat yang lalu. Rasa penyesalan dan luka jelas tergambar di muka Ferdy. Apalah daya, nasi sudah jadi bubur. Parahnya lagi semua telah dihancurkan oleh egonya sendiri.

Tapi sesaat kemudian, langkah Ferdy terhenti. Ia tampak kebingungan menatap siapa yang menghalangi langkahnya. Sesosok gadis mungil dengan rambut kemerah – merahan berdiri beberapa meter di depannya, lengkap dengan barang – barangnya. Mulut Ferdy terkunci. ia tak bisa bicara. Suaranya tersekat di tenggorokan.

“May…? Kamu..?” hanya kata – kata itu yang keluar dari mulutnya. Kegembiraan menyelimuti hati keduanya. Maya, gadis itu, hanya menjawab dengan anggukan sebelum akhirnya menghambur kepelukan sosok yang beberapa meter di depannya. Perkataan Aldo yang membuatnya kembali kesini, membuatnya menyadari bahwa cinta itu memang tak pernah terhapuskan dan selalu dihati.

Sementara itu dari kejauhan setetes air mata jatuh dari mata dua sosok dari tempat yang berbeda sedang  mengamati pemandangan yang mengharukan itu. Haru semerbak di setiap sudut hati mereka masing – masing. Cinta akan selalu di hati, meski terkadang terusir benci. Tapi tidak baginya, ia tak akan membiarkan benci menguasainya. Karena tak ada yang berhak memaksakan cinta dan tak seorangpun mampu mengatur kepada siapa seseorang jatuh cinta. Walau tak terucap maaf, Dewi yang berdiri tak jauh dari tempat itu menyimpan pelajaran itu jauh di dalam hatinya, juga Aldo..

………the end…………

CSDH – bagian tiga belas

PERTEMUAN KEMBALI

Empat tahun kemudian..

Setelah empat tahun tak bertemu dan menghilang dari kehidupan May, tiba – tiba Ferdy muncul kembali mengusik kehidupannya yang mulai tenang. Tadi pagi Ferdy menelphon May dan ingin bertemu !!. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati May. Bingung. Akankah ia menemui orang yang telah memporak – porandakan hatinya dan mengiris perasaannya waktu itu? apakah kali ini Ferdy kembali akan menyakitinya? Bagaimana jika Aldo tahu kalau May bertemu dengannya?  Pertanyaan itu yang sempat terlontar di benak May sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menemuinya dan menyebabkannya berada di mobil sedan silver ini.

“May, May….”

Hah? terlihat Ferdy kebingungan menatap May yang masih terdiam.

“Sudah sampai.” Ucapnya.

“Oh ya…” O…ia mengajak May makan di lesehan favorit mereka dulu rupanya. May bergegas turun dari mobil mengikuti Ferdy.

Ferdy mengenakan kemeja berwarna biru dengan celana dan sepatu hitam layaknya eksekutif muda yang baru pulang kerja. Rambut lurusnya yang dulu seringkali dicat atau dipotong sembarangan sudah tak terlihat lagi, berganti rambut yang tersisir rapi. Penampilannya tampak rapi dan dewasa sekarang.

Setelah memilih meja dan memesan menu makanan, Ferdy terdiam sejenak. Lalu…

“ Gimana kabar kamu may? “ Ferdy membuka suara.

“ Baik, aku baru lulus. Sambil menunggu melanjutkan S2  aku bekerja di sebuah surat kabar dan majalah, kamu?”

Ya, setelah lulus SMU May memutuskan untuk mengejar mimpinya menjadi penulis dan kuliah di sebuah universitas terkemuka di Jakarta. Awalnya sih orang tua May menentang, karena menurut papa dan mamanya terlalu khawatir, nanti May terlalu sibuk. Mungkin karena papanya pernah melihat langsung kerjaan Mas Tomy, sepupu May, jurnalis yang super sibuk itu. tapi akhirnya papanya luluh juga dan akhirnya malah bantuin meyakinkan mamanya.

“ Aku juga baik, sekarang aku mengurus perusahaan papa. Rencananya akan meneruskan S2 di Jerman.. kamu memang suka menulis sejak dulu, syukurlah kamu bisa mencapai impianmu. Aldo gimana ? “

“Aldo, baik – baik aja, selama dua tahun kami satu universitas,  sekarang dia sedang melanjutkan kuliah-nya di Amerika, pertukaran pelajar, lalu dia dapat beasiswa…” jawab May.

“O…kalau gitu, kalian masih pacaran?  Selamat ya May.. kapan kalian akan menikah?” Tanya Ferdy. Ada nada tak enak dalam nada bicaranya.

May menatapnya tajam.

“Ada apa May? “

May tak dapat lagi membendung perasaannya. Perasaan kesal sejak dulu dipendamnya tergali kembali. Terukir kembali di mata May kepahitan – kepahitan masa itu. Kepahitan yang dengan susah payah berhasil dikuburnya dalam – dalam. Dan kini.. orang yang memberikan kepahitan itu bertanya dengan nada tak bersalah kepadanya?  Kalau bukan di tempat umum, ingin rasanya May berteriak.

“Ada apa? Harusnya kamu sadar Fer, bukan aku yang mengingatkanmu…”

Ferdy terdiam. Lalu..

“May… maafkan aku, aku salah waktu itu.” Kalimat itu seperti memaku May agar tak bergerak. Ferdy meminta maaf kepadanya? Semudah itukah, setelah menyakitinya sedemikian rupa?

“ Kamu minta maaf Fer? Berapa harus kubayar penebus gengsi permintaan maafmu ini?” hanya nada – nada  sinis itulah yang keluar dari mulut May.

Ingatan May masih jelas, saat itu hampir tiap saat ia menangis menunggu permintaan maaf Ferdy untuknya. Tapi secuil kata maaf yang tak kunjung datang.

“ May, saya tahu berapa kalipun saya minta maaf tidak akan bisa menyembuhkan luka yang kubuat…kumohon…” Ferdy berusaha menyentuh tanganku yang langsung kutepis.

“ Fer, kemana maafmu itu saat aku menangis karena sikapmu setiap hari, pernahkah kamu merasakan sakitnya tak dipercayai sahabat sendiri? Di tuduh macem – macem? merasakan perihnya luka yang aku rasakan? Pernah nggak Fer?”

Ferdy menunduk, tak berani menatap Maya. Huh!

“Aku tahu Maya, mungkin aku terlambat.. tapi ini…” Ferdy menyodorkan seuah buku kecil berwarna pink kepada May. Diary? Bukankah itu diarinya yang dulu sempat menghilang? Kenapa ada di Ferdy?

“Apa itu?”. ucap May, meyakinkan penglihatan dan ingatannya.

May segera mengambil buku mungil itu, lalu perlahan dibukanya dan dibaca tulisan yang tertera di sana. Hanya selembar kertasnya yang berisi tulisan, sedangkan halaman sebelumnya seperti dirobek. Tapi.. Hah! Tulisan di kertas itu membuat May terbelalak. Semua menunjukkan seolah – olah ia menulis di buku hariannya dan menjelaskan semua gossip itu adalah perbuatannya, lalu tentang ia mendekati Ferdy dengan maksud yang nggak bener, tentang ia sebenarnya tidak menyukai Ferdy.. tentang.. ah, terlalu banyak untuk disebutkan. Tulisannya memang seperti disengaja mirip dengan tulisannya, tapi.. tunggu, kalau menulis buku harian, ia kan nggak pernah ber – elu-gw.. hei!

“ Ini memang diariku yang hilang, tapi tulisan ini.. it’s  not mine.” Ucap May.

“Aku sudah tahu..”

“Lalu?”. May terperangah. Kalau sudah tahu, lantas?

“May, Dewi memberikan buku itu kepadaku, waktu gossip itu beredar.. “

“Kenapa tidak Tanya kepadaku?”

“Maafkan aku May, aku terlalu kesal, aku sudah terlanjur membencimu waktu itu..”

“Dan..aku baru menyadarinya ketika tak sengaja kubaca buku harian Dewi tiga tahun yang lalu, aku baru tahu Dewi menyebarkan gosip itu dan memanfaatkan sifat dan gengsiku yang begitu besar.. ia hanya dendam padamu.. menyampaikan berita-berita bohong kepadaku, ia bilang kamu jadian sama Andri.. sehingga aku begitu membencimu waktu itu.. lalu setelah itu ada Aldo, Aku tambah benci,  terlebih ketika kamu benar – benar menerima Aldo..  setelah tahu hal itu aku terus berusaha menghubungimu, tapi ternyata kamu sudah ganti nomer handphon..”

“Jangan mencari kambing hitam Fer.” Potong May cepat. May tak ingin terbawa suasana. Sejak SMA dulu ia memang paling tidak suka seseorang yang memang sudah salah di matanya, lalu menyalahkan orang lain atas kesalahannya. Kesal bukanlah alasan yang cukup bagi May. Waktu  itu ia juga kesal karena Ferdy menuduhnya yang bukan – bukan, tapi toh ia tetap berusaha menghubungi Ferdy.

“ Maya…aku…aku…” Ferdy terlihat  berusaha mengatakan sesuatu.

“Kalau sekiranya waktu itu aku lebih cepat menemukan diary itu, akan kuteriakkan di depan satu sekolahan… akan kukatakan bahwa…aku…memang benar – benar menyukaimu .. “

May terdiam mendengar pernyataan Ferdy. Benarkah? Benarkah Ferdy menyukainya? Tidak, Itu tak mungkin!, tepis May. Pernyataan Ferdy benar – benar membuatnya tak mengerti. Semudah itukah membalikkan suasana? Waktu tak akan kembali Fer..!! Dulu aja, gengsi digedein!

“ Aku tahu aku terlambat, maafku tak bisa membuat waktu kembali… “

“Ya, itu yang dulu aku andai – andaikan, seandainya waktu dapat kembali, seandainya aku bisa memutar waktu dan seandai – andai-nya yang lain! sekarang kamu mengerti arti berlalunya waktu kan?”

“May, aku tahu aku tak pantas dimaafkan.. dan aku tahu Aldo lebih baik….”

“ Stop! Ya, Aldo jauh lebih baik.. bahkan terlalu baik! Kamu ingin tahu kan hubunganku dengan Aldo? Ia rela mengorbankan perasaannya biar aku dan kamu berbaikan lagi, ia rela mengorbankan kebahagiaannya demi…” aku tak dapat melanjutkan ucapanku. Aku takut menangis. Tidak! Aku tak akan menangis lagi demi lelaki ini!

“Oh ya, mengenai pernikahan kami, tenang aja. Kami pasti akan mengundangmu.”

“Tentu Fer.“ sebuah suara bariton dari samping May membuat keduanya terlonjak. May lebih kaget lagi ketika melihat wajah pemilik suara itu. Aldo? Bukankah masih dua minggu lagi ia pulang dari Jerman? Kenapa dia ada di sini?

Aldo langsung duduk di antara May dan Ferdy, setelah sebelumnya menyalami Ferdy yang tampak salah tingkah.

“Do, kamu… kapan kamu pulang? Kenapa nggak ngasih tahu aku?”

“May, tadi aku langsung ke rumah, tapi Mbok Dina bilang kamu lagi di sini, katanya ada temen lamanya . oh ya, Fer, apa kabar?.”

“Baik, Do.” Jawab Ferdy.

“Trus tadi papa dan mama telpon, katanya mereka akan ke sini dua hari lagi.” Maksud Aldo adalah papa dan mama May.

Setelah lulus, May memang memutuskan menerima tawaran papa Aldo untuk tinggal bersama Mbok Dina di rumah taman itu, dan hanya pulang sebulan sekali ke rumah. Tapi ada yang berubah dengan orang tua May. Sekarang mereka lebih terbuka dan lebih rutin mengunjungi May sama sepertinya di sini setelah kecelakaan papanya waktu itu, jadi mereka selalu bertemu dua minggu sekali. Dan itu artinya juga papa dan mama May tidak jadi bercerai. J

” Trus.. “ Aldo melanjutkan.” Oh ya, kamu udah mengurus paspor dan berkas – berkas keberangkatan ke Amerika kan?”

May mengangguk.  Terlihat wajah Ferdy berubah terkejut. Tapi cepat – cepat ia menguasai keterkejutannya kembali.

“Oh ya, aku ke belakang dulu, kalian ngobrol aja dulu..” sahut Aldo, lalu meninggalkan May dan Ferdy.

“Oh ya, Fer, aku belum ngasih tahu kamu kalo aku dapet beasiswa dan akan melanjutkan S2-ku itu di Jerman, aku akan berangkat  bersama Aldo, mungkin setelah itu kami akan menikah.” Jelas May membaca pertanyaan di kepala Ferdy. Ferdy terlihat berfikir keras, sebelum akhirnya bangkit. Tangannya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“ May, aku tak tahu dengan apa aku bisa menebus kesalahanku. Tapi.. aku mohon kamu mau menyimpan ini.” Ferdy mengangsurkan sebuah buku kecil kepada May. May tahu itu adalah paspor dan berkas keberangkatan ke luar negeri. May menerimanya dengan bingung.

May ragu. tapi tangannya telah terulur, bergetar menerimanya.

“Tadinya aku.. ah, sudahlah.. kumohon kamu mau menyimpan itu sekedar untuk kenang – kenangan. Terima kasih atas waktumu.” Ferdy berlalu meninggalkan May.

Ferdy meninggalkan kafe itu dengan perasaan hancur. ia langsung menuju mobilnya. Ia tak tahu akan menyalahkan siapa. Mungkin hanya dirinya yang patut disalahkan. Seandainya dulu ia tidak malu mengakui perasaannya terhadap May, mungkin gadis itu tak akan terluka. Ya, semua salahnya, salah karena ia gengsi. Wajah gadis itu memang tak secantik cewek – cewek yang mengejarnya, tapi, sikap dan sifat May telah tertanam di hatinya sejak pertama ia mengenal gadis itu. cerdas, baik, sabar, sedikit tomboy, dan sederhana. Sekarang tak ada lagi yang bisa diharapkannya. Luka yang ia buat itu pasti masih membekas. Ia menghidupkan mobilnya dengan lemas. Bayangan May dan Aldo melintas di depannya.

………bersambung ke bagian tiga belas………………

CSDH – bagian dua belas

PERPISAHAN

Kebahagian Karena kesembuhan papanya membuat May May merasa masa ujian akhir berlalu dengan cepat. Itu artinya masa perpisahan sekolah pun akan segera tiba. May memandang lapangan bola yang mulai sepi dari bangku panjang, tempat duduk, di depan kelas. Tujuh bulan sudah berlalu setelah percakapannya dengan Aldo di taman bunga itu, serta kecelakaan papanya. Berarti enam bulan sudah hubungan May dan Aldo. Ya, tepat sebulan setelah itu akhirnya dengan segala konsekwensi yang ada, May memutuskan untuk menerima Aldo. May tak tahu apakah keputusannya benar atau salah. Tapi May janji tak akan menyesalinya.

“DOR!!”

Teriakan suara khas baritone Aldo mengagetkan May yang masih bengong. Secarik kertas jatuh dari buku yang dipegangnya. Belum sempat tangan May meraih kertas putih berisi coretan tangan yang kini tergeletak di ubin putih itu, tangan Aldo mendahuluinya. May berusaha merebut kertas itu. Tapi tangan itu terlalu lihai berkelit. Dengan tubuhnya yang lebih tinggi dan tangan yang lebih panjang dari May ia mengangkat kertas itu tinggi – tinggi, jauh dari jangkauan May mungil.

May menyerah dan duduk kembali. Aldo lalu berdiri tegak di hadapan May, siap ambil ancang – ancang seperti seorang sastrawan, lengkap dengan ekspresinya yang membuat May tersenyum. Pahit.

Mesin waktu telah berdentang

Jejak – jejak  akan menjauh

Meninggalkan ukiran, kenangan

Tak kan berulang

Suatu saat nanti

Bolehkah aku bertanya

Masihkah rajutan rindumu masih tersimpan

Untukku?

Sepertiku yang akan selalu menuliskan rinduku

Dalam setiap bait puisiku..

Dan tetap berharap bisa mengganti bayangan

Agar Cinta tak pernah pergi…

Setelah membacakannya dengan lantang. Aldo menatap May. Entahlah.. May tak mengerti arti tatapannya itu, ia lebih sibuk memikirkan bagaimana caranya merebut kertas itu kembali.

“Puisi perpisahan buat buku tahunan bukan May? “ .

“Iya, tapi sepertinya nggak jadi aja aku kasih ke panitia.”

“Lho, kenapa May?”

“Jelek.”

“Ini kan karya kamu, Orang lain belum tentu bisa merangkai kata – kata kayak gini. Kamu harus menghargai karyamu sendiri. kalau kamu nggak mau, biar aku aja yang kasih.”

“Jangan ah Do…”

“ May, aku tahu kamu nggak mau ngasih puisi ini karena kamu mau ngelupain sesuatu kan?”

May diam. Seratus persen betul!

“Itu nggak salah May, Tapi aku Cuma mau bilang.. Jangan pernah ngelupain, kalau memang itu adalah sebuah kenangan, karena dia hanya bisa hidup dalam kenangan, dia nggak bisa bersama kita lagi.. jadi, jangan lupakan..”

“Tapi Do…”

Terlambat!!. Belum selesai May mengucapkan kalimatnya ternyata Aldo  mendahuluinya lagi. Aldo sudah memanggil Irna, panitia yang mengurus buku tahunan itu, yang kebetulan lewat. Aldo membawa kertas itu tanpa mempedulikan protes May. Memberikannya ke Irna.

Jujur. Bukan masalah jelek atau tidaknya puisi tersebut yang dipermasalahkan May. Melainkan apa yang ia tulis di dalamnya. May yakin, Aldo pasti tahu akan hal itu. Tapi, ia sendiri terkadang tak mengerti dengan jalan pikiran Aldo. Singkatnya, mana ada sih cowok yang rela membantu ceweknya berbaikan lagi dengan orang yang mungkin justru menghancurkan hubungannya sendiri? Apa ada orang sebaik itu? tapi, itulah Aldo. Entah apa yang ada di kepalanya, May tak tahu. May segera melangkahkan kakinya meninggalkan bangku itu dengan langkah gontai. Tanda Tanya tentang Aldo makin menyemut di kepalanya.

Sedih. Ya, sedikit ataupun banyak pasti perasaan itu dirasakan May ketika waktu begitu cepat meninggalkannya dan ketika perpisahan sekolah ini tiba. Karena itu berarti, waktunya telah tiba untuk meninggalkan  sekolah ini, guru – guru yang disayangi May, teman – temannya yang baik, juga.. Ferdy. Sampai detik ini May tak juga mampu melupakan sosok itu dan belum berhasil menjelaskan hal yang sebenarnya. Tapi, di balik itu semua, May berharap dapat melihat seberkas sinar harapan harapan untuknya di balik bukit waktu sana. May berharap, Waktu  akan membantunya melupakan semua kepahitan yang ia alami, mengkis cinta yang masih tersisa di hati.

……bersambung ke CSDH bagian tiga belas…………..

CSDH – bagian sebelas

JANGAN PERGI, CINTA..

Pak, Chandra, Papa May, masih dalam kondisi kritis dan sekarang dirawat di sebuah rumah sakit kecil di Lampung. May tahu hal itu dari Aldo yang langsung mengambil handpon dari tangannya ketika ia pingsan tadi. Aldo juga yang langsung berinisiatif memesan tiket pesawat ketika tahu apa yang terjadi. Untung masih ada penerbangan terakhir Jakarta – Bandar Lampung, jadi May langsung berangkat hari itu juga bersama Aldo yang memaksa ikut menemaninya.

Sesampai di bandara, May langsung menuju rumah sakit yang disebutkan mamanya, rumah sakit Advent. Mama langsung menyambutnya dan Aldo di depan kamar bercat putih itu. Raut muka wanita setengah baya itu juga tak kalah pucat dari May, seputih kapas. May langsung menghambur ke pelukan wanita itu.

“Ma, gimana keadaan papa ?”

“Mama, nggak tahu.. dokter masih di dalam. Kita do’akan aja ya, sayang..”. ucap wanita itu lemah.

May mengangguk.

“Mama udah telpon kakek sama nenek?”

“Udah, mungkin nanti malam baru kesini, karena pak Somad, yang biasa nganterin kakek juga lagi nganter anaknya ke dokter, kakek sama nenekmu itu kan udah tua, jadi udah nggak bisa jalan sendiri.”

Ayah dan Ibu papanya memang tinggal di kota ini. Tapi, keduanya sudah lanjut usia, jadi kemana – mana kalau berdua bisa nyasar.

May mengusut air matanya, lalu memperkenalkan Aldo yang dari tadi berdiri di sampingnya.

“Oh ya, ma.. ini Aldo, temen sekolah yang suka bantuin May di sana, yang jawab telpon mama, tau nih tadi dia maksa pengen ikut.”

“Oh ya, nak Aldo, makasih ya, sudah merepotkan.”

“Sama – sama tante, saya nggak ngerasa direpotin kok tante.” Jawab Aldo.

Suasana selanjutnya dihiasi dengan kebisuan. Aldo memutuskan untuk membeli makanan, karena ternyata mama May belum makan. Dokter masih hilir mudik dari kamar dimana papa May dirawat.

May membimbing mamanya untuk duduk di bangku yang berderet sepanjang ruangan itu. Dari mamanya May tahu kalau papa ingin berbaikan dengan Mamanya hari itu. Buktinya bunga dan ucapan yang tertulis nama mama di temukan di jok belakang bangku mobil itu. Dari cerita mamanya juga May tahu, papanya mengalami kecelakaan karena berusaha menghindari anak kecil yang bermain di pinggir jalan dan tiba – tiba berlari ke tengah jalan. Papanya yang tak siap dengan hal itu langsung membanting stir ke kanan. Untungnya di kanan tidak ada truk. Tapi gantinya mobil itu menabrak pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan itu. papanya luka parah.

“May, ternyata mama baru sadar, mama nggak bisa kehilangan papa.., ternyata apa yang kamu bilang waktu itu bener, pisah itu nggak gampang.. mama nggak sanggup..”.

“Ma…” May memandang mamanya dengan tatapan sedih.

“Iya.. mama seneng banget sikap papa yang biasanya cuek, sejak kemaren berubah, trus tadi pagi katanya mau pulang cepet.. tapi…”

“Sudahlah ma, mungkin semua ini ada hikmahnya. Kadang memang kita akan ngerasa sayang kalau kita udah kehilangan, papa juga mungkin punya perasaan yang sama kayak mama, kita do’a aja ya ma… biar papa selamat.”

Mama May mengangguk setuju.

“Dewasa ya anak mama sekarang ngomongnya, siapa sih yang ngajarin?”. Ujar wanita itu, mengacak- acak rambut May yang sudah berantakan.

May tersipu mendengar komentar mamanya. Waktu, waktu akan mengajari semuanya ma, jawabnya dalam hati. May berdoa dalam hati,  Ya Allah, selamatkan nyawa papa.. jangan ambil papa sekarang, disaat keluarganya akan bersatu.. di saat mama dan papa akan berbaikan.. disaat…

“Nyonya Chandrawibowo…” Panggilan dokter yang muncul dari ruang tempat papanya membuat May dan mamanya terlonjak. Anak dan ibu itu segera menghampiri Dokter Pras, dokter yang menangani pak Chandra, papa May.

“Ya, saya Nyonya Chandrawibowo dok, bagaimana keadaan suami saya dok?” Tanya  bu Chandra tak sabar. Raut mukanya menegang.

“Sudah lewat bu..”

“Maksud dokter?”. Potong bu Chandra cepat.

“Iya, sudah lewat masa krisisnya..”

Mama May mesem – mesem.

Dokter Pras tersenyum menyaksikan anak dan ibu itu. Bukan hanya sekali ia mengalami kejadian seperti ini. Dulu, bahkan pernah sampai ada ibu – ibu ngeraung – raung nangisnya, trus pas mau dijelasin sama dia tuh ibu malah nggak mau denger. Ya, udah akhirnya Dokter Pras menjelaskannya ketika ibu itu udah diam nangisnya. Karuan aja tuh ibu senyam – senyum. Malu ni ye?

“Ah, dokter bikin saya kaget aja..”.

“Abis ibu langsung motong kata – kata saya..”

“Makasih ya Dokter.” Ucap Maya.

“Eh, iya… makasih banyak.”. ucap Mama May tak ketinggalan.

“Sama–sama bu, Nona nanti kalau sudah dipindah silahkan temui .”

Dokter itu lalu meninggalkan May yang langsung memeluk mamanya. Dari kejauhan Aldo datang membawakan makanan untuk bertiga. May bengong ketika mamanya langsung nyambut Aldo dengan pelukan. Aldo lebih bengong. Tapi semua kembali ceria.  Semua mengucapkan Syukur kepada tuhan YME.

…………bersambung ke CSDH bagian dua belas…………

CSDH – bagian sepuluh

SURPRISE…!!!

Hari masih pagi, tapi May sudah rapi, tidak seperti hari – hari libur hari besar biasanya yang dilewati May dengan tidur. Ada apakah gerangan? Ternyata tadi malam Aldo menelphon May dan mengatakan bahwo ia  akan datang ke kontrakannya, karena itu pagi – pagi sekali May bergegas membereskan buku – buku dan Koran yang berceceran di ruang tamu. Malu kan kalau berantakan?

“Tok! tok! tok !”.

May baru selesai membereskan kamar tidurnya setelah tadi membereskan ruang tamu, ketika terdengar suara ketukan di pintu depan. Pasti Aldo, Tebaknya. Tanpa curiga May segera membukakan pintu.

“ Happy birth day….!!!”

Nyanyian selamat ulang tahun segera menyambut May ketika pintu terbuka. Suasana di balik pintu membuatnya terkejut setengah mati! Bukannya apa-apa, May sendiri sebenarnya lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya!.

Lilin berbentuk angka tujuh belas bertengger di kue yang dipegang oleh Mia, teman sekelas Aldo. May masih ingat, dulu terakhir kali ia melihat lilin itu ketika mama membuat pesta untuknya waktu ia masih SMP kelas satu, ketika lilin itu masih berbentuk angka dua belas! sekarang? Kelas tiga!. Di barisan paling depan Aldo tersenyum dengan manisnya kepada May, dan ..teman – teman sekelas dan teman – temannya Aldo!   Surprise…!!

Denga percaya nggak percaya May menyuruh mereka masuk, lalu ia sendiri bergegas ke dapur. Aldo mengikutinya. Di tangannya ada bungkusan besar yang kalau ditimbang mungkin seberat badannya. May menebak isinya, dan…oh my God! Ternyata sampai makanan, kue, dan minumanpun ada!.

“May… maaf gw nggak ngasih tahu kamu dulu mengajak teman – teman kesini.” Ucapnya. Mata bening Aldo menatap May yang sedang menderetkan cangkir – cangkir yang sudah diisi minuman untuk minum teman – temannya yang menunggu di depan.

“Do, jangan bilang begitu, justru May berterima kasih banget karena udah ingat ultah may, udah baik sama May, dan udah jadi teman baik May, dan…”

“Stop deh! Udah nih anak – anak pada keburu keselek nunggu ni minuman.” Potong Aldo, lalu membawa minuman yang sudah disiapkan May ke ruang tamu. Hm, sama dengan Ferdy.. terkadang sering memuji diri sendiri, tapi tidak mau dipuji orang lain. Ferdy? Lama tadi May mencari bayangan cowok itu di antara teman – teman yang datang, tapi tetap tak menemukan bayangannya. Sedemikian inginkah Ferdy melupakannya? Sampai – sampai Ferdy tak ingat  ulang tahunnya ataukah pura – pura lupa?

“Ceilee… segitu seriusnya mandangin lantai..!! emang belom dipel ya non? “ Intan mengagetkan May.

“Ih, lu ngagetin aja.” Sahut May, berusaha menutupi jalan pikirannya.

“Lagian bengong, mikirin apa sih? Aldo tuh udah susah – susah bikin acara buat lu, eh..lu malah bengong, di dapur lagi!” Intan memotong blackforest – blackforest yang dibawanya. Ceritanya mengalir tanpa diminta May.

” Tau nggak, dia tuh keliling – keliling dari kemaren nyari toko kue, ngumpulin anak – anak, nyari segala macemnya…bla…bla… gw mah tinggal tahu beresnya aja. He…he…” Intan nyengir membayangkan Aldo yang kerepotan, sedangkan ia tinggal diam di mobil dan ber-AC sampai ketiduran! Tega banget kan Intan?

“Ya… gw makasih banget sama dia ntan…” ucap May.

“May, gw boleh nanya nggak?.”

“Lu masih mikirin Ferdy ya? Lu suka ya sama Ferdy?.” Todongnya begitu May persilahkan bertanya. (Kayak fanelis aja!).

Ya, aku menyukainya, sangat menyukainya! Cinta itu selalu di hati, tak pergi! Kata hati May.

“Gw nggak tahu ntan…” jawab May bingung. lagi – lagi hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkannya.

Intan menatap May dengan pandangan serius, seperti tak yakin dengan jawaban sobatnya itu. “Lha, itu tadi bengong mikirin siapa? Mikirin gw ya?”

“Ih, geeran lu sekarang!”

“Boleh dong.. May…kalau boleh gw kasih masukan nggak?”

“Ya boleh lah Ntan, lu kayak orang asing aja sama gw..”

“Maaf ya May, tapi gw pikir nggak ada gunanya lu mikirin orang – orang kayak Ferdy dan Dewi yang nggak punya perasaan kayak gitu… sorry, mungkin gw terlambat ngasih tahu elo soal Dewi, mungkin lu nggak tahu karena masih dibilang baru di sini..tapi…”

“Tapi apa ntan…?”. May menatap Intan nggak sabaran.

“Tapi… memang Dewi seperti itu.. gw juga pernah mengalami… dia pergi dengan orang yang dia jelas – jelas tahu gw suka…dan bahkan sudah jadian…” May merasa Intan berusaha berbicara dengan hati – hati.

“Fajar?”. Tebak May.

Intan mengangguk. Fajar adalah mantan pacar Intan waktu kelas satu, sedangkan May pindah ke sekolah ini kelas dua, yang setelahnya sempat menjadi pacarnya Dewi selama beberapa bulan. Intan memang tak pernah cerita soal ini kepada May. Cerita ini didengar May dari Amy, temannya waktu di asrama.

“Kenapa? Kenapa lu nggak ngasih tahu gw dari awal?”

“ Lu tahu komitmen kita waktu mulai berteman kan?  Gw…nggak mau merusak persahabatan lu. Dan Dewi.. gw kira Dewi sudah berubah, tapi ternyata tidak..maaf..” May melihat Intan menunduk. Ya, tentu saja May nggak akan pernah lupa dengan janji itu.

Intan adalah teman sebangku May, sekaligus teman satu kamarnya ketika beberapa bulan pertama May tinggal di asrama dulu ketika masih awal – awal ia masuk asrama. May sendiri nggak tau pasti alasan Intan  keluar dari asrama. Apakah sama dengan tindakan pengecutnya, ataukah ada hal lainnya. Intan nggak pernah ngejelasin apapun kepadanya. Demikian juga May, ia juga nggak mau maksa Intan untuk  memberitahunya. Hubungan mereka memang dekat. Tapi dalam persahabatan mereka juga, mereka memiliki suatu janji atau apalah namanya, yaitu nggak saling larang untuk bergaul dan dekat dengan siapapun, demikian juga sebaliknya.

May masih terdiam untuk beberapa saat, ketika Intan melanjutkan bicaranya.

“May, Aldo…baik sama elo dan gw yakin dia suka sama elo… lupain Ferdy May… apa sih yang nggak dilakukan Aldo untuk nyenengin lu? Gw nggak tahan ngeliat lu disakiti lagi May… pikirin baik – baik ucapan gw tadi May.” Intan mengakhiri  kalimatnya dengan meninggalkan May ke ruang tamu.

Sepeninggal Intan ke ruang tamu May termenung lagi. Kata – kata Intan terus melayang – layang di kepalanya. Intan benar. Aldo sangat baik dan perhatian padanya. Tapi..Ferdy? masih mungkinkah ia menaruh harapan Ferdy akan kembali kepadanya, walaupun sebatas teman? Apakah ia benar – benar menyukai Aldo? Bagaimana jika Aldo hanya pelariannya saja?. Sungguh, May nggak tega kalau harus melakukan itu.

Hari masih belum terlalu siang ketika surprise party yang dibuat Aldo selesai. Teman – teman yang tadi datang bergerombol sudah pulang semua, kecuali Aldo dan Intan yang masih sibuk membantu May membereskan piring – piring bekas kue di ruang tamu. Setelah mengantarkan Intan, Aldo mengajak May keluar. Entah kemana tujuannya.

“Kita mau kemana sih Do? “ Tanya May, ketika tak juga sampai di tempat yang dituju. May berharap Aldo mau menjawab rasa penasarannya yang semakin meluap. Tapi Aldo hanya tersenyum ke arah May yang semakin bingung.

“ Ada aja! Pokoknya surprise deh!” jawabnya enteng. Kalau sudah begitu jawabnya, biasanya May cuma bisa sabar dan diam.

Rasa penasaran May semakin menjadi – jadi ketika mobil Jaguard  hitam mengkilat keluaran terbaru itu akhirnya berhenti di sebuah rumah mungil Rumah itu tampak sepi. Halaman belakangnya dipagari dengan pagar berwarna biru. Sedangkan halaman depannya di tanami dengan beberapa jenis bunga.

Aldo mengetuk pintu tiga kali sebelum akhirnya muncul wajah oval perempuan setengah baya dari balik daun pintu. Pak Mimin, demikian Aldo memperkenalkan lelaki setengah baya itu pada May. Hanya berselang beberapa menit kemudian, seorang perempuan tak jauh berbeda umur dengan pak Mimin, yang akhirnya May tahu ternyata istri pak Mimin,  mengantarkan minuman.

Kata Aldo, mereka adalah orang yang ditugaskan papanya, yang akhirnya juga May tahu dari cerita Mbok Dina, adalah seorang pengusaha sukses di Jakarta, untuk mengurus perawatan rumah ini. Dulu waktu Aldo kecil, katanya kalau libur sekolah ayahnya suka mengajaknya ke sini. Tapi, sekarang tidak pernah.

May mengamati setiap sudut ruangan. Benar – benar rumah mungil yang menyejukkan, cocok sekali untuk istirahat, pikirnya. Lihat saja lantainya terbuat dari marmer yang di dalamnya seperti terdapat air yang beriak – riak kecil, Aneka ukiran terpajang di setiap sudutnya, dan beberapa meter dari kursi tamu terdapat air mancur dan taman kecil. Sungguh suasana yang menyejukkan !.

Belum hilang kekaguman May akan ruangan itu, Aldo mengajaknya ke halaman belakang yang tertutup rapat. May mengikuti Aldo dengan ragu dan takut sampai mereka berhenti di depan pintu yang menghubungkan rumah dan entah apa yang ada di dalam pagar itu. Tak ada siapa – siapa di sana.

“Sekarang, tutup matamu dulu.” Sahut Aldo sebelum membukakan pintu yang membuat May penasaran yang kini tepat di hadapannya.

Meski bertanya – Tanya, akhirnya May menuruti permintaan Aldo. Dirasakannya tangan hangat Aldo membimbingnya masuk ke pintu itu. Semerbak harum segera menyergap hidungnya. May mencoba mengenali wanginya. Terasa kakinya menginjak rumput. Setelah beberapa langkah, barulah Aldo menyuruh May membuka mata.

Dalam sekejap May merasa tersihir dengan pemandangan di depannya. Bola mata beningnya yang bulat tak berkedip menatap lautan bunga beraneka warna yang menghampar luas bak permadani. Warna – warninya memantul indah terkena sinar matahari yang berwarna terang, karena masih siang. Ketakjuban May atas apa yang dilihatnya semakin bertambah, ketika May dikejutkan oleh lompatan – lompatan kecil di antara bunga – bunga yang bermekaran. Kelinci kecil, hewan lucu yang sangat disukai May !!!

“Kamu suka May?”

“Suka banget Do, kok kamu tahu aku suka kelinci?”

“Ada aja! Ok, papa ngasih rumah ini buat aku, trus aku minta dibikin taman ini. Kalo kamu suka, kamu bebas main ke sini, kalau kamu butuh refreshing. Aku udah bilang kok ke pak Mimin dan mbok Dina.”

May memandang Aldo dengan tatapan penuh terima kasih.

“ Do, makasih banget atas pemandangan yang luar biasa ini…”

“ Sudahlah May, aku senang kalau kamu senang.”

“Do, boleh aku tahu kenapa ngelakuin semua ini?”.

“Sahabat.” Sahutnya pendek.

“Bener? “

“May… cuma alasan itu yang kupunya sekarang.”.

“Jujur?”

Aldo terdiam sesaat. Ada ragu yang sangat besar terpancar dari matanya. “Ok, tapi kamu jangan bingung, ntar nambah beban pikiran lagi..”.

“Nggak.”

“Bener?”

“Iya, suwer deh!”

“Hm… Aku akui.. aku suka kamu May. Sejak pertama kita kenal, trus deket.. “

“Tapi Do, aku…”

“Kamu apa May? “

“Aku kan nggak cantik, banyak cewek yang lebih cantik dari aku,  kamu nggak malu jalan sama aku?”

“Malu? Kenapa? Toh, kecantikan wajah nggak abadi, yang penting hati May.. kecantikan hati, makanya salah banget kalau ada cowok yang memilih cewek karena wajahnya yang cantik..”. Aldo 1, Maya 0.

“Iya, tapi Do…”

“Aku tahu May… lagipula saat ini aku nggak butuh jawaban sekarang. Aku juga tahu waktuku belum tepat. Mungkin kamu belum bisa ngelupain Ferdy. I’m waiting for you… kecuali… “

“Kecuali apa?”

“Kecuali Ferdy kembali dan kamu menerimanya.”

Deg!. Jantung May berdegup cepat. Aldo berlalu meninggalkan May yang masih terpaku. Bimbang langsung semerbak di hati May. May tak mengerti,  Terbuat dari apakah hati lelaki ini? Jadi selama ini dia tahu tentang ia dan Ferdy? Apakah ini sahabat yang ia cari ya Tuhan?  rela menunggunya walaupun tahu tentang Ferdy? Yang menerimanya sebagai apapun juga? Tentang lukanya di masa lalu? Pantaskah ia menolaknya?

Dering dengan nada Bukan Cinta biasa dari Handphon mungil di sakunya membuat May kembali tersadar dari pertanyaan – pertanyaan yang menyelimutinya. Perhatian May segera beralih ke benda mungil itu. Tulisan “Papa” tertera di layarnya. Papa?

“Halo… Pa, ada apa?”

“Bukan May, ini mama..” Bukan papa, tapi mama? Tapi kok mama pakai nomer papa?  Aneka prasangka   memenuhi otak May. Jangan – jangan…

“Lho, kok mama? Hanphon papa mama yang pake? Udah baikan nih ceritanya…”.

“May, kamu pulang sekarang ya, sayang?”

“Lho, ma, emang mau ngapain? Mau syukuran atas berbaikannya mama&papa atau mau ngurus perwalian May?”. May sedikit sinis. Takut.

“Bukan.. “

“Trus apa dong?”

“May…  “

May masih menunggu kelanjutan mama. Terdengar isakan kecil di sana. Mamanya menangis!. Ada apa sebenarnya? Apakah mereka benar – benar bercerai?

“Kenapa ma? Kok mama malah nangis?”

“May, papa kecelakaan…”

What?!. Dunia terasa gelap di mata May. Ia merasakan sebuah tangan kokoh menyambut tubuhnya yang terkulai. Gelap.

………bersambung  ke CSDH bagian sebelas…….

CSDH – bagian sembilan

KEHADIRANNYA

Pagi ini kembali May melangkahkan kakinya dengan lesu menuju sekolah yang meter dari kontrakannya. Semangatnya terasa terbang. Seperti kehilangan tempat berpegang. Sekarang harapannya tinggal pada mama dan papa. May Cuma bisa berharap, semoga kata – katanya pada “pemberontakan”nya kemarin malam yang lalu itu merasuk ke dalam hati orang tuanya.

May tak tahu apa yang terjadi setelah malam itu, karena ia memutuskan untuk  langsung meninggalkan rumah keesokan paginya, kembali ke Bogor dengan hati yang tercabik. Entahlah, hati May masih was – was. Karena May tak tahu apakah mereka benar – benar menuruti permintaannya ataukah pada akhirnya bercerai juga.

Pagi ini, Sengaja May berangkat pagi – pagi untuk menyalin catatan selama ia tidak masuk kemarin. Kadang May berpikir, seandainya waktu dapat kembali dan berulang.. ingin rasanya ia menghentikan semua yang terjadi. Menghentikan pertengkaran mama dan papanya, mengurungkan kepindahan sekolahnya ke kota hujan ini dan tetap bersama mereka, akan tetap sekolah pada hari beredarnya isu yang memisahkan antara ia dan Ferdy pada hari itu, walau sakit sekalipun, menampik segala isu yang menggoyahkan persahabatannya, tidak akan menjadikan Dewi jembatan bagi hubungannya dengan Ferdy, Seandainya… Ya… May hanya bisa berandai – andai.. semua tak mungkin kembali. Semua telah hancur. Semua telah nyata terjadi.

“Tiiii..t!! “

Suara klakson mobil yang berhenti tepat di sampingnya membuat May terlonjak kaget dan reflek menoleh. Sebuah kepala yang beberapa hari yang lalu menyapanya menyembul di balik kaca mobil yang terbuka perlahan. Aldo?

“Bareng yuk !” ajaknya. Aldo membukakan pintu depan mobilnya.

“Tanggung Do, udah deket juga..” tolak May halus.

“Udahlah…justru karena udah deket. nggak apa – apa kok. Ayo!” Hm…mau nggak mau terpaksa May masuk ke mobil Aldo.

“Katanya kemarin lu pulang ya? Kalau boleh tahu, ada masalah apa?” Tanya Aldo ketika May sudah tiba dan hendak turun.

“Lu tau dari mana?”.

“Kemaren gw nyariin kamu ke kelas..”

“Mau ngapain nyariin?”

“Aku mau pinjam catatan sang juara kelas.. tapi kata Intan, teman sebangkumu, Mayanya sedang pulang ke Sumatera.” Terangnya sambil memasukkan buku – bukunya yang ada di jok belakang.

“Trus, Intan bilang ke elo kalo gw ada masalah keluarga?” potong May cepat.

“Nggak.”

“Trus tahu dari mana?”

Aldo menutup tasnya. Tampaknya buku yang dicarinya sudah lengkap. Aldo menatap May serius.

“Maya.. kita juga teman kan? Dari langkah kamu yang lesu tadi aja kok aku nebaknya. Biasanya kan orang abis pulang seneng, tapi kamu malah loyo gitu.”

“Kok nggak suka bareng Ferdy lagi?”

“Ah nggak, Udah yuk, gw  mau ke kelas. Daah… oh ya, thank’s atas tumpangannya.” Sahut May meninggalkannya ketika ia melihat  Aldo yang siap – siap ingin bertanya lagi.

“Ok, tapi kalo mau curhat and punya masalah, aku siap Bantu kamu kok. “ teriaknya sebelum bayangan May menghilang di balik pintu kelas.

Sejak hari itu, Aldo sering mampir ke kelas dan tempat kontrakan May. Menurut May Aldo cukup baik, cool, lucu, penuh kejutan, dan satu hal yang May sukai dari Aldo, cowok itu tak memiliki satu hal yang dimiliki Ferdy, gengsian!. Sebaliknya, Aldo sangat rendah hati.

Satu lagi yang menurut May lucu dari Aldo, ia selalu memanggilnya dengan nama Maya atau “kamu” yang terkadang membuat May jadi lucu dan ikut – ikutan ber-aku – kamu dengannya. Padahal May tahu SMP-nya Aldo di Jakarta alias kampung betawi asli. (Apa tuh anak diisolasi ya, sampai nggak tercemar polusi gitu.., He..2). Selain itu, Aldo juga  Tak segan – segan  mengajak May ke acara teman – temannya ataupun memperkenalkan May kepada keluarganya. Pokoknya bagai langit dan bumi deh kalo dibandingkan dengan Ferdy!

Tapi, Kadang May mikir juga, akankah ini akan terus berlanjut?. Apa benar Aldo nggak kayak Ferdy? Sampai kapan ini akan berlangsung? Mampukah ia menghapus bayangan Ferdy dan menggantikan bayangan itu dengan Aldo? Apakah semua akan tetap begini, walaupun waktu terus berlalu?.

……………bersambung ke CSDH bagian sepuluh……………………..

CSDH- bagian delapan

ALASAN KLASIK

Semilir angin masih bertiup membelai rambut panjang May yang terurai. Dua bulan sudah  berlalu sejak Dewi menemuinya di depan gerbang asrama waktu itu. May mempercepat langkah kaki menuju bangunan yang berpagar merah muda yang sekarang menjadi tempat tinggalnya, alias kontrakan, setelah ia memutuskan untuk keluar dari asrama. Menurutnya, mungkin ini adalah tindakan pengecut. Tapi May nggak tahan lagi jika setiap hari harus melihat senyum sinis kemenangan Dewi, tatapan sinisnya, melihat kesengajaan Ferdy membuat May sakit hati, dengan segala…

“Adinda Maya Putri Andriyani…! “ sebuah suara bariton yang cukup asing di telinga May membuat gadis itu menghentikan gerak tangan yang hendak menutup pintu gerbang. Baru kali ini ada orang yang memanggilnya dengan nama lengkap. Sosok atletis yang kira – kira tingginya diatas 170-an dari jauh melambaikan tangan ke arah May. Cakep banget! (he..he.. iseng aja May!). May mengenali sosok itu.

“Aldo?.”

Aldo ini adalah teman sekolah May juga lho, cuma nggak sekelas dengannya. May juga tahu, kalau Aldo adalah salah seorang murid berprestasi  di bidang akademik dan  olah raga di sekolahnya. May juga pernah dengar kalau Aldo ternyata sempat akan dicalonkan menjadi ketua OSIS beberapa bulan yang lalu, sebelum May ada di sekolah ini. Tapi sayang, ia menolak.

“Ya, kamu udah nggak di asrama lagi?” Tanya Aldo heran.

“Nggak Do,sekarang gw ngontrak di sini, mau mampir ?” tawar May. May sih sebenarnya berbasa – basi aja menawarkan Aldo, karena sebenarnya May juga tak ingin cowok itu mampir. May ingin istirahat. Tapi, nggak enak juga kan? Ntar dibilangnya sombong lagi…

“Hm…gimana ya? Hm..lain kali aja kali ya? Janji deh nanti aku pasti maen ke sini, sekarang aku ada janji sama temen – temen, mau maen bola.” Jawabnya. Oh, iya… May ingat kalau Aldo adalah kapten sepak bola di timnya.

May tersenyum.“Ok deh! Gw masuk dulu ya..” May bergegas menutup pintu pagar.

Fuh! May menyandarkan tubuhnya yang pegal karena seharian duduk di sofa ruang tamu setelah mengambil air putih segelas. Baru saja seteguk air membasahi kerongkongannya. HP mungil di kantong seragam SMA- May yang belum diganti berdering. Sekilas May langsung melihat layar hanphon di tangannya. Tulisan yang tertera di layar itu membuat kening May berkerut. Home? Siapa yang menelphonnya dari rumah? Papakah? Atau mama?

“Halo….” Ucap May ragu.

“Halo, Maya?” terdengar suara wanita di seberang sana. Mama?

“Ya, ada apa ma? Gimana kabar papa?”

Ini pertama kalinya mama menghubungi May setelah dua bulan lalu. May berharap, dalam waktu selama itu mama dan papa dapat rukun kembali setelah pertengkaran – pertengkaran kecil beberapa bulan yang lalu.

“Maya.. kami sangat menyayangimu, tapi…jangan kaget ya sayang, kami akan bercerai.. May, Papa seringkali pulang malam tanpa alasan yang jelas, selalu menyalahkan mama, mama nggak tahan lagi … mama..…bla…bla….” Blarr! Semua terdengar bagaikan petir di siang bolong di telinga May. Berikutnya kata – kata mamanya tak lagi masuk ke kepala May. Ucapan mama, wanita separuh baya itu,  seperti menambah cabiknya hatinya. Hatinya merintih. Kini, apalagi ya Tuhan? Belum cukup kah aku dipisahkan dengan orang yang aku sayangi? Sekarang, papa.. mama.. ya Tuhan!

Segera May mematikan HP-nya, dan bergegas mengemasi beberapa potong pakaian dan menulis SMS untuk Intan, teman sebangkunya agar menyampaikan kepada pihak sekolah bahwa ia tidak masuk untuk beberapa hari ini. Tekad May sudah bulat. Ia harus pulang. Ia harus menghentikan perceraian ini.

Dalam perjalanan pulang, pikiran May sudah melayang ke rumah. Memang ia akui, meski papa dan mama merahasiakannya kepada May, May tahu sejak beberapa bulan terakhir mereka memang sedikit tidak akur. Beberapa kali pecahan piring sempat terdengar menghiasi pertengkaran keduanya. Entah memperdebatkan pekerjaan papa yang menurut mama terlalu sibuk, mempersoalkan kesibukan mama di luar rumah, ataupun yang terakhir ketika May ingin  pindah sekolah, keduanya saling menyalahkan. Papa menyalahkan mama yang dianggap tidak memperhatikan May, sedangkan mama mencurigai papa memiliki selingkuhan ketika papa pulang larut malam. Menurut May itu biasa dalam kehidupan rumah tangga. Ada manis ada pahit. Tapi May tak menyangka semua akan berakhir begini.

Malam itu juga, setelah makan malam, May memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

“Pa, ma.. maaf, baru kali ini May bicara dan ikut campur masalah mama dan papa, May… May nggak mau papa dan mama pisah.. apapun alasannya.”

May berusaha untuk tegar.

“May, di antara kami udah nggak ada kecocokan.. menurut kami ini yang terbaik.” Lelaki yang May panggil papa menatapnya dengan tatapan antara rasa iba dan bingung. Tapi, tetap tak menunjukkan perubahan keputusan yang dinanti – nantikan May.

“Ya, May.. mama juga udah nggak tahan, papa egois.”

“Mama yang egois, ga mau ngurus rumah.”

“Papa juga, sok sibuk, padahal selingkuh.”

Suara mama dan papa semakin terasa menusuk di kuping May.

“Tidak pa, ma, ini bukan yang terbaik.. papa dan mama sudah menikah delapan belas tahun, bukan waktu yang singkat pa.. ma.. kenapa?” air mata yang sedari tadi berusaha dibendung May agar tidak tumpah mulai mengalir setetes demi setetes.

“Karena kami memang nggak cocok dan…”

“Cukup ma..”  May memotong dengan lembut perkataan mamanya. Ia tak tahan lagi dengan semua ini.

” Setiap kali orang tua teman May bercerai, selaluuu…saja itu yang May dengar, setiap kali ada papa dan mama teman – teman maya yang berpisah, May selalu berharap..papa dan mama May tidak akan begitu… walaupun papa sibuk, mama sibuk dan kurang memperhatikan May, bagi May tidak apa – apa asalkan mama dan papa rukun.. May pengen tetap punya orang tua yang lengkap pa, ma..”

May merasakan air mata makin deras membanjiri pipinya. Cukup sudah!  Pertahanannya akhirnya jebol juga. Mama dan papa May  masih diam, menunggu May melanjutkan bicara.

“Kami sudah tidak cocok.. alasan klasik! mengapa selalu kalian? Kenapa nggak mikirin  kami, anak – anak yang perasaannya terluka? Kenapa nggak pernah mikirin masa depan anak – anaknya nanti? Anak – anak kayak May. Lalu apa arti cinta kalian yang selama belasan tahun ini? Kenapa pa? Kenapa ma?…” tanpa menunggu jawaban dari papa dan mamanya, May meninggalkan ruang makan. Tak digubrisnya wanita yang melahirkannya itu terus memanggilnya. Biarlah mereka memikirkan apa yang ia katakan tadi, pikirnya. May segera menutup pintu kamar. Ia Sedih, ia kecewa, mengapa orang dewasa begitu egois? Tapi lagi – lagi May hanya mampu menangis. Menumpahkan segala kekesalannya.

……………bersambung ke CSDH bagian sembilan………………….

CSDH – bagian tujuh

PEMBALASAN

Ujian semester telah berlalu dengan sangat cepat. Tak banyak acara yang akan  diikuti May selama liburan ini. Semangatnya yang dulu menggebu kalau liburan tiba kini luntur sudah. Hiking ke gunung Galunggung yang sudah sejak lama ia rencanakan bersama Ferdy dan teman – teman Pencinta Alamnya yang berjumlah sepuluh orang dan seharusnya menyenangkan berlalu begitu saja. Hiking adalah salah satu kegiatan yang seharusnya membuat hati merasa tenang, nyaman, dan itu adalah hobbi utama May selain menulis dan membaca buku fiksi. Tapi ternyata terasa sangat membosankan. Suasana tenang alam galunggung justru menambah irisan rasa sepinya, walaupun Ina, Miko, Echa, dan teman – teman lainnya berusaha membuat May tertawa dengan berbagai lelucon mereka.

Ferdy memilih tidak ikut, dengan alasan neneknya sakit. Entahlah, May hanya bisa berprasangka baik. Hanya nilai rapornya yang naik drastis dan tetap menduduki peringkat pertama yang membuat May sedikit gembira. Mungkin karena sekarang May lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dengan hanya membaca buku, makanya tak heran koleksi buku – bukunya meningkat drastis. Mulai dari buku pelajaran, pengetahuan  umum, ilmiah, sampai buku komik tak ketinggalan menghiasi rak bukuku yang semakin padat. Entah hobi membaca May yang semakin menggila ataukah karena ia berusaha melupakan apa yang terjadi. Satu hal lagi yang mampu membuat senyumnya mengembang, nilainya ternyata jauh melampaui nilai Dewi!

……………….

Hari berganti, bulan berlalu, hingga tiba hari ini. Seperti tahun sebelumnya, Hari ini adalah pembagian kelas. Eh iya, Sekarang May sudah kelas tiga lho..!. Sejak semalam May merenung. rencananya hari ini May telah bertekad untuk melupakan semua yang terjadi selama satu tahun ini. May akan menyambut hari baru. Jadi, pagi – pagi sekali ia sudah siap – siap untuk berangkat kesekolah dengan cerianya untuk melihat pengumuman pembagian kelas.

Tapi tampaknya senyum mengembang di wajah gadis berdarah Jawa – Sumatera itu tak bertahan lama dan hilang ketika melihat papan pengumuman. Gimana nggak? Nama May dan Ferdy jelas – jelas tercantum di papan pengumuman itu sebagai teman sekelas! Udah gitu, nggak lupa nama.. Dewi!!

Lengkap deh penderitaan, desis May. Hari – hari seperti di neraka yang dibayangkan ia ternyata benar – benar terjadi. Jangankan berbaikan dengan Ferdy, hubungan May  dengan Dewi juga ikut memburuk. Entah mengapa, sikap Dewi berubah sinis terhadap May. Sering sekali May menangkap tatapan sinis Dewi memandangnya.

Hingga suatu hari, arti tatapan yang menjadi tanda Tanya di kepala May itu terjawab. Saat Dewi melambaikan tangan dan menghampiri May dari jauh  ketika ia hendak menutup pintu pagar asrama. May membalas lambaian Dewi Seperti halnya nggak terjadi apa – apa dan menyambut kedatangan gadis tinggi semampai itu dengan senyum. Namun, senyum May berangsur pudar, ketika Dewi semakin mendekat dan terlihat pancaran kemarahan di matanya. May segera menyadari ada yang tak beres. May menyapanya lebih dulu.

“Hi, Dew…ada apa? Tumben? “

“May, gw rasa lu nggak tulalit selama ini dan lu pasti tahu kan kalau sekarang Ferdy adalah pacar gw?” suara Dewi seperti menghardik di telinga May.

“Jadi, lu jangan coba – coba hubungin dia lagi, apalagi coba – coba deketin dia lagi.. lu sengaja kan deketin dia lagi? karena Ferdy bilang ke gw kalau persahabatan lu berdua sudah berakhir!! “

“Dew, kemarin gw Cuma kebetulan sekelompok pratikum aja.. itu kan guru yang membagi kelompoknya, bukan gw..” ya, May sendiri juga cukup kaget ketika guru biologi mengumumkan hal itu. May  sekelompok dengan Ferdy, apakah semua adalah salahnya?

“Alaaah! Terserah, gw ga mau tahu lu sengaja atau nggak. Pokoknya lu harus jauh dari dia. ok anak manis?!”. Ucap Dewi sinis. Mukanya memerah.

“ Tapi, boleh gw nanya kenapa lu melakukan semua ini ?”.

“Andri.” Ucap Dewi pendek, lalu meninggalkan May yang masih terpaku di depan pintu asrama dengan tatapan sinis. Mata May terasa panas. Ya Allah, Hanya segitukah kuatnya tali persahabatan yang selama ini kurajut? Setelah kehilangan Ferdy, kini aku harus kehilangan lagi seorang yang selama ini aku anggap sahabat?, desis May  lirih. Dan…Andri? Pikiran May langsung mengembara ke peristiwa beberapa waktu yang lalu..

Andri adalah senior SMP May, yang ia perkenalkan kepada Dewi,  yang kebetulan bertemu dengan mereka saat mereka sedang di toko buku   beberapa bulan lalu, saat May baru seminggu pindah ke asrama ini. Saat itu May belum begitu dekat dengan Ferdy, jadi ia masih bisa santai ke toko buku, belanja, atau jalan – jalan tanpa ada yang mengusili. He.. he..

Sejak saat itu, Dewi sering menanyakan segala hal tentang Andri. Beberapa kali andri mengajak May berdua keluar, dan May selalu mengajak Dewi, entah sekedar makan malam, ataupun nonton film. Dari curhat dan obrolannya dengannya May tahu, Dewi menyukai Andri. Dugaan May bertambah kuat ketika tak lama kemudian, Dewi menghampirinya dengan wajah memerah. Dewi tersipu begitu May menanyakan sebab – musababnya..

“May… hari ini Andri ngajak gw jalan, lu diajak nggak? Ikut yuk!” binar memancar dari wajah ovalnya.

“Duh, sorry Wi…”

“Lho, bukannya lu nggak ada acara sore ini?”

“Tadinya sih iya.. “

“Trus?”

“Trus, tadi gw dibilangin Ferdy, lu tau kan orang yang sering ngisengin gw itu, ternyata dia kan koor acara,  Gw disuruh Bantuin sore ini, mau nyiapin acara festival seni.. kan besok gw juga harus baca puisi”

“Oh ya? Waah, gw baru tahu lu jago puisi May.”

“Nggak juga, tapi kalau nggak ada acara gw juga nggak mau ikut sih Wi…” May sengaja menggantungkan kalimatnya.

“Kenapa?“

“Karena gw nggak mau ganggu acara lu.. mungkin Andri mau ngomongin masalah pribadi sama lu, atau….” Kembali gadis usil itu menggantungkan kalimat. Hm.. kaya’nya baru beberapa kali ketemu Ferdy, May udah ketularan nih jailnya Ferdy!

“Atau?”

Dewi semakin penasaran.

“Atau….nge-date!” sahut May cepat, lalu berlari meninggalkan Dewi sebelum cubitan maut Dewi yang tak kalah dengannya itu mampir di tangannya.

“Good luck Wi…..!!” teriak May sebelum menghilang di belokan menuju asrama. Dari  jauh masih masih terlihat wajah Dewi yang berseri. May ikut tersenyum senang melihat sikap sahabatnya itu.

…………………

Sore itu setelah menyelesaikan persiapan terakhir Festival Seni dan termasuk latihan puisi yang akan ia bacakan besok, May-pun pamit kembali ke asrama untuk istirahat. Baru saja May membuka pintu kamar, ia dikejutkan oleh Dewi telah duduk di sana. Sepertinya ia  menunggu May. Air mata menetes di pipi gadis itu. Dengan tidak mengerti May segera menghampiri Dewi yang langsung memeluknya. May membiarkan Dewi menghabiskan tangisnya, seperti halnya yang dulu sering dilakukan mama kepadanya kalau ia menangis atau ada masalah. Setelah menuntaskan tangisnya, Dewi mulai membuka suara…

“May…Andri…” ucapnya masih diselingi sesegukan tangisnya.

“Kenapa Dew? Andri nyakitin elo? “ Tanya May.

“Maya…lu tahu kan kalau gw suka sama andri? Tapi….” Kembali air mata menetes di pipinya.

“Tapi apa Dew? Andri nolak lu? Atau dia suka orang lain?” May mencoba menebak apa yang ada di pikiran Dewi. Dewi menggeleng untuk pertanyaan May yang pertama dan mengangguk untuk menjawab pertanyaannya yang ke dua.

“Siapa? Siapa yang dia sukai? Gw akan Bantu elo dan…” May kembali menanyai sosok Dewi yang kini semakin menunduk di hadapannya.

“ Lu. ” Ucap Dewi begitu pendek, namun membuat May terkejut setengah mati. Ada yang disukai Andri sih mungkin dapat ia terima, tapi kalau…

“Aku wi? Andri suka sama aku? Nggak salah?”

Dewi menggeleng. May tak habis pikir. Tubuh May tak setinggi Dewi, malah kata  teman – temannya Maya termasuk mungil. Trus wajahnya juga tak secantik Dewi yang blasteran Belanda. Maklum, ibunya memang betawi, tapi ayahnya masih ada darah Belanda. Otak Dewi juga tak kalah dari May. Tapi, Andri lebih menyukainya yang berwajah sederhana ini?  Apa yang kurang dari Dewi? Yang ada juga berbagai kekurangan ada padanya. It’s  impossible !

“Dew, itu nggak mungkin.. lu tahu kan gw sama Andri itu Cuma temen biasa, dia Cuma gw anggap sebatas senior gw waktu SMP dulu Dew…” ucap May berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya. Lagipula,  bagaimana mungkin ia menyukai orang yang jelas – jelas disukai sahabatnya sendiri?

“Tapi May.. tadi dia bilang sendiri ke gw, dia suka elo…”

“Sudahlah Dew… kan sudah gw bilang kalau gw nggak suka sama dia. Ok?” jawab May meyakinkan Dewi yang tampak menyusut air matanya.

Beberapa hari setelah sore itu, apa yang dikatakan Dewi dan ditakutkan May benar – benar terjadi. Andri benar – benar menyatakan perasaan suka pada May. Tentu saja May langsung menolaknya dengan tegas, karena May memang menganggapnya sebagai teman biasa dan satu lagi… May tak ingin kehilangan sahabatnya, May tak ingin Dewi membencinya. Tapi, mengapa Dewi masih saja sakit hati pada May setelah apa yang ia lakukan untuknya? Apakah salah May, jika seseorang menyukainya? Dan sekarang… Dewi membalas dengan menjauhkan Ferdy darinya? Bukankah selama ini mereka sudah melupakan masalah Andri? Bahkan atas bantuan May akhirnya Andri menjadi pacar Dewi, walaupun memang tak lama?

Sejak pertemuannya hari itu dengan Dewi, May merasa setiap detik, setiap menit, setiap saat, Ferdy dan Dewi terlihat seperti memanas- manasinya dengan dengan bersikap nggak wajar di depannya, atau bahkan terkadang bertukar bangku dengan Heri yang duduk di sebelah Ferdy, atau dengan sengaja bermesraan di depan May… entahlah, May seperti tak percaya dengan apa yang ia alami. Tapi itulah  kenyataannya. Mendung masih menyelimuti kota hujan itu.

………bersambung ke CSDH bagian delapan ……….

CSDH – bagian Lima

KUINGIN SEMUA KEMBALI

Hari – hari berikutnya terasa berlalu dengan sangat lambat bagi May. Ferdy. Sejak saat itu sosok seperti menghilang dannggak pernah menyapa dan menemui May lagi. Bahkan ketika mereka berpapasanpun, Ferdy akan langsung berbalik arah agar tak bertemu dengan May. Berkali – kali May mencoba menelpon ke  Handphon Ferdy, tapi nggak pernah diangkat, bahkan kadang – kadang  dimatikan. Hasilnya, May melewati Ujian dengan lesu, walaupun emang nilainya masih tetap bertahan di peringkat satu, sejak ia pindah ke sekolah ini. Hnadphon nggak direspon, May mencoba menelphon ke rumah Ferdy ataupun menemui cowok itu. Namun lagi – lagi.. aku perlu waktu, selalu begitu jawaban Ferdy. May hanya bisa bertanya, Perlu waktu? Sampai kapan? May  benar – benar tersiksa dengan keadaan ini…!

May sendiri mengakui hubungannya dengan Ferdy hanyalah sebatas sahabat karena Ferdy menmang nggak pernah menyatakan perasaan alias yang teman – temannya sebut jadian. Tapi, May juga nggak mungkir, kehadiran Ferdy telah membawa warna tersendiri dalam hidupnya, bagian dari jiwanya yang mungkin tak kan tergantikan oleh siapapun juga. Bagi May sahabat lebih dari segalanya. May menyukai Ferdy sebagai apapun juga, tak peduli hanya teman atau apa. May hanya ingin Ferdy kembali ke sisinya, walau tak sedekat dulu.. walaupun ia bukan lagi yang istimewa.. tapi setidaknya sebagai teman biasa…

Siang itu May kembali menghampiri Dewi ketika makan siang di kantin sekolah, berharap Dewi dapat membantunya kali ini..

“Dew, lu mau bantuin gw nggak? “

“Bantuin apa? Gw sih mau – mau aja…” jawab Dewi cuek, masih asyik dengan makanan di piringnya.

“Bantuin gw, gw Cuma mau persahabatan gw balik lagi sama Ferdy,  Cuma itu.. karena gw tau gw nggak akan bisa lebih dari itu..”

“Maya, kenapa nggak mungkin? lu suka kan sama Ferdy.. gw bisa lihat May rasa suka itu di mata lu. Jujur deh sama gw, ntar gw Bantu…”

“Dew, lu tahu sendiri kan? Gw sama dia beda jauh, dia favorit di sekolah ini, dia cakep, dia kaya, pinter, perfect! Gw ? Untuk jadi temen gw lagi aja susah, gw nggak berani berharap lebih Dew…” May mencoba menahan air mata yang sebentar lagi mungkin akan menetes di pipinya. Tapi, ia tak akan menangis dan menjadi perhatian banyak orang!.

“Lu…pinter, lucu, lumayan jago olahraga.. walaupun kalau volly service lu selalu melampaui garis belakang alias out, saking over powernya, kalo maen rugby cukup bisa diandalkan karena bolanya mati di lu terus,.. trus pinter maen bola, puisinya bagus…..” Ucap dewi cuek. Sikutan Tina yang duduk disampingnya membuat Dewi tak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Dew, gw serius…”. May kesel. Orang serius,  kok malah dibecandain.

“Ya udah, tenang aja…ntar gw kasih tau perkembangannya ke elo…”

“Bener?”

“Bener May..”

“Thank’s Dew…” May bergegas kembali ke kelas. Setelah ini adalah pelajaran Biologi favorit May. Jadi ia ingin membaca – baca dulu sebelum pak Naryo masuk nanti., May meninggalkan Dewi yang tersenyum penuh arti dan misterius di mata May.. tapi ia tak tahu entah apa artinya. Mendung terlihat lagi di langit di kota hujan.

………………………….

May mengamati pemandangan di depannya. Ia membayangkan, Seandainya sosok yang di tengah mengobrol  dengan Ferdy di taman sekolah itu adalah dirinya.. bukan Dewi. Setiap hari, sejak hari itu  May melihat Dewi selalu berbicara dengan Ferdy. Entah apa yang mereka obrolkan. Tapi biasanya Dewi bercerita kepada May pada malam harinya tentang obrolannya dengan Ferdy. Katanya sih, dia sedang berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Ferdy. May sendiri tak tahu kebenaran cerita Dewi dan tak banyak membantu. Tapi ia tak punya pilihan.

Tak lama setelah itu sikap Ferdy memang sedikit berubah terhadap May. Setidaknya ketika tidak Bersama teman – teman lainnya cowok maniak bola itu bersikap seperti Ferdy yang May kenal, walaupun jika Bersama teman – temannya Ferdy masih seperti Ferdy yang asing di mata May. Cuek dan dingin. Sebesar itu kah gengsinya?, piker May yang terkadang menurut May seperti dibuat – buat. Tapi, semua hanya seperti kilat saat May mendengar kabar yang sangat mengejutkannya. Perubahan itu jadi tak berarti lagi. May  mendapatkan arti senyum Dewi waktu itu.  Ferdy pacaran dengan… Dewi!!

May merasa kehilangan tempat berpijak. May sendiri tak pernah habis pikir, bagaimana mungkin sosok Dewi yang baik di matanya kini tega menyakiti sahabatnya sendiri? Dulu May sering curhat ke Dewi, tapi sekarang? Dewi Mempermainkannya? Inikah arti senyum Dewi waktu itu? Orang yang selama ini diharapkan May bisa menjalinkan benang yang hendak ia sambung, kini justru memotong habis benang itu? Sakit. Hanya kata itu yang terasa di hati May saat itu. Hm.. mungkin jika dengan ini persahabatan kami akan terjalin kembali, biarlah. Pikir May berusaha menghibur diri, walaupun tetap terasa perih di hati. Tergores luka.

…………bersambung ke CSDH bagian enam…………..

CSDH- bagian empat

BENANG YANG PUTUS

“Dew, gw harus gimana? Ferdy …”  ucap May ketika lagi – lagi ia menghampiri Dewi setelah mengerjakan Pr-nya yang sempat menumpuk beberapa hari ini. Dewi sedang asyik ber-SMS ria. Langsung saja May menceritakan semua perasaannya pada Dewi.

“Lu telphon dia aja sih May.. gitu aja kok susah.” Jawab Dewi.

“SMS gw aja nggak di bales wi…”

“Samperin aja May..! “ Tina yang tengah asyik membersihkan wajahnya ikut menimpali, lalu kembali sibuk.

“Dia selalu menghindar Tin.”

Hm,…Dewi mengangkat bahu, lalu kembali berkutat dengan HP-nya. May jadi kesal. “Dew…! Lu dengerin gw nggak sih?”

“Iya nona…gw denger, trus…” Dewi memalingkan mukanya ke arah May, lalu kembali sibuk.

“Ya… gw…”

“May!!! Telpon May! “ teriakan Amy, teman se-asrama May di kamar paling ujung memutuskan pembicaraan May dengan Dewi.

May segera berlari ke ruang tamu asrama,. Ibu asrama memang sengaja meletakkannya di sana, katanya sih biar bisa langsung dipakai untuk setiap orang yang perlu. Ferdy, hanya dia yang akan menelponku. Pikir May. Tapi kenapa Ferdy menelpon ke asrama? Mengapa tidak menelpon ke handphon saja?.

“Ha.. halo….”

Ferdy? Tanpa sadar tetes airmata langsung mengaliri pipi May yang langsung buru – buru diusapnya. Entahlah, mungkin May terlalu takut… May terlalu takut untuk kehilangan untuk kehilangan seseorang yang baru disadarinya sangat berarti.

“Maya, lu nangis ya?” sapa Ferdy ketika May tak juga buka mulut.

May mengusap air matanya kembali. “Siapa yang nangis…” May nggak mau Ferdy tahu kalau ia menangis. Ia tak ingin Ferdy meledeknya habis – habisan kalau tahu itu. Nggak boleh!

“Kenapa lo nggak bales SMS gw? Kenapa nggak telphon gw? “

Hening. Ferdy ? please, tell me…

“Gw kecewa sama lu may…”

“Kecewa kenapa? “  May heran dan bingung. Kapan May membuat Ferdy kecewa?

“ Gosip itu…lu kan yang nyebarin?” kata – kata Ferdy seperti menuduh bagi May. Membuat May merasa terpuruk di dasar bumi yang paling dalam. May terperangah.

“Apa???  Lu nuduh gw Fer? Bukannya harusnya gw yang nanya?”

“Kok gitu? May, kalau bukan lu, trus siapa dong? Dari mana mereka tahu kalau gw jemput dan nganter lu tiap minggu untuk nonton bassball? Dari mana mereka tahu gw nelphon lu tiap malem? Dari mana mereka tahu SMS – SMS yang gw kirim ke elo selama ini? Cuma lu may…!”

May seakan tak percaya dengan pendengarannya. Apa??  Bukankah ia  yang harus bertanya kepada Ferdy?. Bukankah di hari menyebarnya gossip itu May sedang sakit? PLAK!! Seperti ada tangan tak terlihat menampar May. Panas.

“Fer, yang dijelek – jelekin gossip itu gw, kenapa lu malah nuduh gw? Piker dong Fer..” May merasakan suaranya mulai meninggi.

Ferdy diam.

“Fer…lu lebih percaya gossip – gossip itu dari pada gw? Siapa yang bilang ke elo kalau itu gw yang nyebarin? Suer! Fer, gw buka ember kayak yang lu bilang…” Air matanya yang tadi diusap kembali menetes lebih deras. Kali ini May benar – benar menangis. May kesal dengan tuduhan Ferdy, tapi saat itu juga May sadar, ia bukan orang yang suka mendebat. Bantahannya hanya akan membuat suasana lebih panas. May paling nggak mau suasana seperti itu terjadi.

“ Fer, gw bener bener nggak tahu siapa yang nyebarin gossip itu.. terserah lu mau percaya apa nggak.. boleh gw Tanya sesuatu sama lo?” Tanya May pelan – pelan.

Tak ada jawaban. “ Lu malu sama temen – temen kan kalau dikirain kita bener – bener pacaran, seperti gossip itu? lu malu karena gw nggak sebanding sama elo kan? Lu malu! Lu gengsi!! Iya kan?”

“ Gw nggak tahu, yang jelas gw kecewa banget sama lo…”

May terdiam. Bukankah ia yang harus kecewa? Kecewa dengan sikap Ferdy yang tak mempercayainya.. kecewa atas sikap Ferdy yang pengecut.. kecewa atas semua yang ia alami.. Semudah itukah menghilangkan kepercayaan terhadap seorang sahabat?

“Fer, tadinya gw anggap lu adalah sahabat terbaik yang pernah gw miliki, yang mengerti gw, tapi…ternyata lu nggak lebih dari pengecut yang lari dari kenyataan! Pengecut! tadinya gw menganggap lu adalah orang yang menerima gw apa adanya, dengan apapun yang dikatakan orang..”  air mata membuat May menghentikan bicaranya sebentar.

“Fer, gw keliru ya.. ternyata lu sanggup mengorbankan persahabatan kita demi gengsi lu. ternyata Lu malu karena gw nggak sebanding sama elo? Kenapa lu Cuma bisa nyalahin gw?”

“Gw nggak nyalahin lo”.

“Udah nggak usah boong, sikap lu nunjukin kayak gitu kok..”

“May, lu yang…” Ferdy tak jadi meneruskan ucapannya. Sebuah buku mungil yang tergenggam ditangannya membuat ia tak jadi membuka mulut

“Yang apa? Gw yang salah?”

Ferdy diam.

“Fer, Coba lu sendiri intropeksi, gimana sikap lu selama ini ke gw? Dan kenapa sampai ada gosip seperti itu? tiap minggu lu jemput gw, tiap hari lu jalan sama gw, tiap saat lu SMS gw, tiap malem lu telpon gw.. trus temen – temen tau.  Apa itu salah gw..? apa semua salah gw kalo temen – temen ngirain kita jadian karena ngeliat kita sering jalan berdua? Salah gw??!”

May benar – benar tak tahu harus bicara apa lagi. Gadis mungil itu tak sanggup bicara lagi. Cukup sudah. Hatinya hancur dan tercabik – cabik. May benar – benar menangis kali ini.

“ Sorry, May…gw hanya perlu menenangkan diri, jangan ganggu gw dulu.”

Clik!, terdengar telphon di seberang sana diletakkan. HAH!! May terperangah dengan telpon yang masih digenggamannya. It’s over? Ia melangkahkan kaki dengan lesu ke kamar. Tak dihiraukannya Dewi yang memburunya dengan pertanyaan. May segera  menutup pintu kamar. Hanya diarylah yang bisa menjadi teman berceritanya saat ini.

May segera mencari benda mungil berwarna pink yang biasanya di letakkannya di bawah bantal. Tapi dimana benda itu? apakah jatuh ke kolong tempat tidur? . Gadis itu segera menundukkan badan, melongok ke kolong tempat tidur. Nihil!. Tak puas sampai di situ, tangan gadis itu segera mengaduk laci meja, lalu berlanjut ke lemari, tapi tak juga diari itu ditemukannya. Di mana ? kenapa semua sekan meninggalkannya, termasuk diary itu?

Brukk!. Akhirnya gadis itu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Air mata kembali berlinang di pipinya. Menumpahkan segenap kekesalan dan penyesalan. Gerimis mulai berdenting di luar. Hujan.

…………bersambung ke CSDH bagian lima…………