SMS- Kamus percakapan jepang

hayoo…silahkan dibaca dulu, kalau ada bahasanya yang tidak mengerti bisa cek dikamus ini ya, mohon maaf bila ada salah-salah pemakaian kata,maklum masih belajar. selamat membaca..!

KAMUS

Atama-ga ii-ne : pintar

Betsu-ni kawannai : tidak ada yang istimewa

Baka yamero-yo! : Jangan bertingkah tolol!

Chotto kiite : dengarkan aku

Datte.. : karena…

Daijobu?/ genki? : kau baik – baik saja?

Demo…: tapi…

Doko iku-no? : mau kemana?

Doko-ni? Dimana?

Do-iu imi? : apa maksudmu?

Gakkari shichatta : aku kecewa

Gatagata itten-ja neyo! : hentikan ocehanmu!

Genki? : apa kabar?

genki datta? : bagaimana kabarnya?

Genki-dayo” : saya baik – baik saja

Gokai shinai-de : jangan salah sangka

Hitori-ni shite!! : tinggalkan aku sendiri!!

Honki ? : kamu serius?

Itsu-made? : Ikitai : aku mau pergi

Ikanai-de : jangan pergi

Ja mata-ne : sampai jumpa

Jikan aru? : punya waktu sebentar?

Jodan daro? : kau bercanda?

Kangae-goto shiteta : aku Cuma sedang berpikir

Kangae-sasete: beri aku waktu untuk memikirkannya.

Kangaete-mina!: pikirkan itu!

Ki-o-tsukete-ne : jaga dirimu

Kawaii : cakap/manis

Kore oishii? : apa ini enak?

koko-ni ite : tinggallah di sini

Mada : belum

Mo nida-to konai-yo!: saya tidak akan datang lagi  kesini!.

Muri-yo! : itu tidak mungkin!

Mo nido-to konai-wa : saya tidak akan kesini lagi

Namae nante iu-no? : nama anda siapa?

Nanka atta-no? : apa yang sedang terjadi?

Nani kangaeten-no?: apa yang sedang kau pikirkan?

Nani-ga chigau-no? : apa bedanya?

Nani? : apa?

Nande dame-nano? : mengapa tidak?

Nanka itte : katakanlah sesuatu

Nani itten-no? : apa yang sedang kau bicarakan?

Nemui : aku ngantuk

Oide-yo : mampirlah

So-nano? : iya kan?

Sonna-koto nai-yo : itu tidak benar

Shitteru : aku tahu

Sore-wa ato-de hanaco : mari kita bicarakan itu nanti.

Sore-o kiite ureshii : aku senang mendengarnya.

Sabishikunaru-yo : aku akan merindukanmu

Shibui : keren

Shimpai shinai-de: jangan khawatir

Tabun dame : mungkin tidak

Tabun-ne : mungkin

Tanoshiku sasete ageru : saya akan membantumu supaya betah.

Uso-bakkari! : kau mempermainkan/menggodaku!

Yoi dekita? : kau sudah siap?

Watashi-no-koto wasurete : lupakan saya.

SMS bagian 15

MERENGKUH CINTA-NYA

Tuuutttt.. tuuutttt..!

Huff. Shin menekan “end call” di handphonenya, lalu  menekan nomor yang sama sekali lagi, kali ini dengan pesawat telpon yang tergeletak di atas meja kecil persegi di depannya. hatinya penuh dengan rasa gusar, cemas, dan sedih.

Mama? Papa? Kemana mereka gerangan? Mengapa tak ada satupun yang mengangkat telpon? Atau memang mereka tak ingin menerima telpon? Dan handphon.. Mengapa dimatikan? Apakah memang benar – benar hati itu telah tertutup baginya untuk selama – lamanya?

“Ya Allah, aku.. rindu papa, mama..” Shin tak kuasa untuk menahan air mata yang berebut keluar dari sudut matanya. Ia menangis.

………………….

“Shin..”.

Indra memanggil sosok Shin yang masih memandangi dirinya di depan cermin. Pakaiannya sudah rapi, seperti halnya pakaian Indra ketika ia datang tiga tahun lalu. Setelan kemeja putih dibalut dengan jas hitam. Shin tidak pernah menyangka ia juga akan menikah di negeri ini. Lagi – lagi semua diurus oleh Indra, sahabatnya. Awalnya Shin Indra menanyai Shin dan mengatakan bahwa teman Rani, istrinya, sudah ada yang siap nikah. Indra menanyakan kesiapan Shin. Shin kira Indra bercanda, karena sejak dulu kan emang sifat Indra suka iseng sama Shin. Tapi, ternyata Indra seratus persen serius. Dan biodata yang diterimanya adalah biodata… Reina!. Entah kebetulan atau memang itulah kehendak Allah!!.

Awalnya Shin agak bimbang. Shin ragu, apakah nanti ia bisa menjadi suami yang baik, apalagi untuk seorang Reina yang mengenal Islam jauh lebih lama daripada Shin yang baru dua setengah tahun. Banyak tentang ajaran islam yang masih harus ia pelajari. Satu lagi, Reina adalah gadis yang hidup dalam keluarga yang berkecukupan, sedangkan dirinya? Dapat ngontrak aja rasanya Shin sudah sangat bersyukur…

Shin mengemukakan beberapa alasannya kepada Indra dan ustadz Imam, guru ngajinya. Termasuk masa jahiliyahnya semasa SMU dulu. Tapi semuanya ditolak mentah – mentah. Menurut Indra, alasan Shin nggak Syar’I dan terkesan mengada – ada.

Sebulan lebih Shin bergelut dengan kegelisahan dan memohon petunjuk dari Allah SWT, sebeluma akhirnya ia menyatakan persetujuannya.

“Shin…”. Sekali lagi Indra memanggil Shin.

“Eh, iya..”. Shin memalingkan wajahnya ke asal suara. Indra tersenyum menatapnya.

Are you oke?”. Indra menghampiri Shin.

Shin mengangguk.

“Memikirkan orang tuamu?”. Tebak Indra.

Shin terdiam sesat sebelum akhirnya mengangguk.Indra mengerti. Indra memeluk Shin, seakan ingin berbagi sedih itu.

Tak lama kemudian dua sahabat itupun bergabung dengan kerabat Indra dan teman – teman mereka yang siap – siap berangkat menuju mesjid yang dulu juga tempat Indra melangsungkan pernikahan.  Shin langsung teringat ucapan Reina waktu mereka berpisah dulu.. kalau kita jodoh, pasti Allah akan berkehendak mempertemukan kita lagi… ah, Allah memang selalu memiliki rencana yang tak diketahui ciptaannya.

…………………

Mesjid di mana akad nikah Shin akan dilangsungkan sudah ramai dengan teman – teman kerjanya, sekaligus panitia pernikahan anak bos mereka itu. Lho kok?. Ya, ternyata selama ini Indra yang selalu penuh dengan surprise-surprisenya itu merahasiakan sesuatu yang sangat besar kepada Shin, yaitu tentang Reina yang ternyata adalah putri bungsu pak Anton, bosnya Shin!. Shin sempat hampir membatalkan lamarannya itu lho, gara – gara hal ini. Dari biodata yang diberikan Indra memang di sana tertulis nama Anton Nugraha, sebagai orang tua gadis itu. tapi Shin tak pernah menyangka, kalau Anton yang dimaksudkan adalah Anton Nugraha bos perusahaan tempat di mana ia bekerja.

Tak lama kemudian pengantin wanita segera keluar dari ruang perpustakaan mini di sudut mesjid yang disulap menjadi ruang rias pengantin. Rani yang sedang hamil tua tampak  membimbing Reina yang terlihat begitu anggun. Persis acara pernikahan Indra beberapa waktu lalu. Jubah putih sederhana dengan sedikit modifikasi dengan renda dan bunga melati membalut tubuh semampainya. Sehelai jilbab putih berlapis melati membingkai wajah ovalnya yang terpoles tipis. Manis.

Akad nikah sudah hampir dimulai, tapi pikiran Shin masih melayang ke negeri sakura sana. Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan, sekaligus membahagiakan dalam hidupnya. Hanya kini satu yang masih mengganjal di hati Shin. Orang tuanya!. Bagaimana pun Shin ingin sekali mereka bisa hadir dipernikahannya nanti, setidaknya untuk sekali ini. Tapi, berkali – kali Shin berusaha menghubungi mereka, namun hasilnya nihil karena selalu tak ada yang mengangkat telpon.

“Shin… ada yang nyari, katanya namanya, aduh.. lupa lagi.. bapak – bapak, kayaknya dia sama istrinya, itu aku suruh tunggu di depan”. Iman, teman Indra bergegas menghampiri Shin dan Indra yang telah bersiap duduk.

Jantung Shin langsung berdegup kencang. Debaran napasnya semakin tak menentu. Mungkinkah papa? Mama? Tapi Shin segera menyimpan prasangka itu ketika ia menolehkan kepalanya ke tempat yang ditunjukkan Iman. Hati Shin mencelos ketika melihat sosok yang wanita memakai kain  seperti syal di yang tersampir rapi di kepalanya. Bukan. Tak mungkin dua sosok yang membelakanginya itu papa dan mamanya. Tak mungkin!.

Meski tak punya harapan lagi, Shin segera melangkah menemui dua sosok itu. ragu – ragu Shin menegur kedua orang yang masih menjadi tanda tanya di hati Shin.

Tiba – tiba Shin terperanjat dan tak percaya dengan pendengaran dan penglihatannya ketika kedua sosok itu berbalik. Papa.. dan mamanya yang mengenakan jilbab berdiri beberapa langkah di depannya. Shin menajamkan penglihatan matanya dan pendengarannya, seakan tidak yakin dengan yang ada di depannya. Benarkah ini ya Allah? Terima kasih ya Allah..!

“Mama, papa?”. Shin langsung menghambur ke pelukan ke duanya. “Jadi.. jadi karena ini tak ada yang mengangkat telpon dari Shin, dan. Karena ini juga handphon papa dan mama nggak aktif kemarin?”

Seketika suasana haru semerbak mewangi pertemuan orang tua dan anak itu.  Shin tak kuasa lagi untuk tak meneteskan air mata.

Dari cerita papanya Shin tahu, setelah kepergiannya mereka berniat membuang semua pakaian ataupun buku – buku Islam yang ada di kamar Shin. Namun,  mereka menemukan sebuah Al-quran terjemahan, hadiah dari Indra tergeletak di antara buku – buku Shin. Mulanya hanya rasa penasaran yang terbetik di benak keduanya. Tapi mereka tak berani untuk saling berterus terang. Mama Shin membaca kitab itu ketika papanya berangkat kerja, sedangkan papanya selalu membacanya kalau mama Shin sudah tertidur pulas.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, berganti bulan, berganti tahun. Demikianlah yang terjadi selama tiga tahun. Tak ada yang tahu satu sama lain, sampai suatu ketika, Papa Shin memergoki istrinya sedang membaca buku itu, ketika ia pulang kantor lebih awal dari biasanya. Usut punya usut, akhirnya keduanya mengakui kucing-kucingan mereka selama ini. Setelah itulah mereka sering berdiskusi, dan akhirnya sejak sebulan yang lalu keduanya mulai  mendatangi Islamic center. Dan hidayah itupun datang. Ah, para brother kenapa tak memberi tahukan hal ini? Ah, lagi – lagi sebuah surprise dari-Nya..

“Tapi.. kok papa dan mama tau, hari ini Shin..” Shin bingung. Kedua orang tua itu tak menjawab, tapi menoleh ke arah Indra yang berjalan mendekat menuju tempat mereka berdiri.

“Indra?”

“Ya.”

“Shin..”. Indra memanggil Shin. Shin langsung memeluk sobatnya itu untuk kesekian kalinya. Keduanya bergegas membimbing tangan ke dua orangtuanya menuju bagian depan masjid, tempat akad akan dilangsungkan. Kebahagiaan dan syukur terpancar dari masing – masing wajah mereka.

……………

epilog :

“Saya terima nikahnya Reina Putri Annisa binti Anton Nugraha dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan dua gram emas, dibayar tunai.” Ucap Shin dengan suara bergetar. Mendadak ruangan itu diliputi suasana haru setelah ucapan ‘sah’ terdengar dari kedua saksi. Semua yang hadir tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata haru dan bahagia Menyaksikan peristiwa sakral yang menyatukan kedua insan itu. senyum terkembang di setiap yang hadir, seindah  musim semi di negeri sakura. Mekar, Indah, dan mewangi.

………..The End………

SMS bagian 14

MENEPATI JANJI

Jakarta, Dua tahun kemudian…

Udara Jakarta masih sepanas dulu. Kehijauan pohon lindung di pinggiran jalan semakin sedikit, ditambah lagi dengan asap kendaraan yang kebanyakan pembakarannya tidak sempurna itu membuat ibukota semakin panas. Shin masih berdiri di depan sebuah rumah yang masih asing di matanya, rumah Indra dan Rani (setelah menikah). Ia menunggu sang empunya rumah membukakan pintu.

“Shin… Alhamdulillah”. Indra memeluk Shin begitu pintu rumahnya terkuak. Shin memang tidak minta dijemput, surprise. Indra segera membawakan tas Shin ke kamar yang sudah disiapkannya sejak dua bulan lalu, sejak Shin mengabarkan akan kedatangannya.

“Where is your wife?”

“Oh iya, Rani lagi ke kampus, ngajar sebentar.

“Sebentar?”

“Ya, sekarang Cuma ngambil jam siang aja, biar nggak terlalu capek, kan kasian si kecil.”

Nani?! It’s mean.. berarti kamu akan jadi.. ayah?”

Indra mengangguk. Shin langsung memeluk Indra.

“Selamat ya, tapi.. kamu emang selalu jahat Ndra..”

“Kok?”

“Ya, waktu mau nikah, kamu telpon aku mendadak, sekarang, istrimu hamil, kamu nggak kasih kabar.”

“Kan sekalian, surprise.”

“Huuu, surprise sih surprise..”

“Ok, sekarang kita ngobrol di beranda kamarmu aja ya, mau minum apa? Panas? Dingin?” tawar Indra.

Up to you.” Shin mengangkat bahu. Indra segera menuju dapur.  Tak lama kemudian ia kembali dengan dua cangkir teh hangat dan sepiring kecil biscuit.

“Bagaimana kabarmu? Your parent?”. Tanya Indra. Mendung kembali muncul di wajah Shin.

Berulang kali Shin mencoba mendatangi mama dan papanya. Gajinya yang tak seberapa selalu ia sisihkan untuk menelpon kedua oaring yang sangat dicintainya itu. Hampir setiap minggu selalu ia sempatkan untuk menulis surat. Tapi semuanya tak membuahkan hasil. Lalu dicobanya juga meminta bantuan brother dan sister di Islamic center untuk mendekati mama dan papanya, setidaknya mereka tahu bahwa Islam yang ia anut tak seburuk bayangan mereka. Tapi, lagi – lagi tak membuahkan hasil. Pintu hati itu masih belum juga mau terbuka untuk menerimanya dan Islam, sampai kemarin ia memutuskan untuk meninggalkan negeri sakura itu..

“ ….. Begitulah Ndra, terus terang aku bingung harus bagaimana lagi …”. Ucap Shin mengakhiri ceritanya.

“Maaf ya, Shin.. aku nggak bisa Bantu waktu itu.., sekarang mungkin yang bisa kita lakukan hanya berdo’a, yang penting kan kamu udah usaha, sabar aja, mungkin memang belum waktunya, tapi percayalah Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya”. Indra menepuk pundak Shin.

Shin mengangguk pelan. Ia mencoba menyimpan kata-kata terakhir itu di dalam hatinya yang paling dalam.

“Oh, ya.. perusahaan temannya papa sedang ada lowongan, aku rasa sesuai dengan bidangmu.., tapi, emang.. mungkin untuk pertama – tama gajinya nggak gede dan jabatannya nggak terlalu tinggi.. gimana kalau kamu coba ngelamar kerja di sana untuk sementara?”. Tawar Indra.

“Makasih Ndra, bagiku nggak masalah asalkan halal, kamu belum dengar aku kerja apa waktu di tempat pak Joe?”.

“Pak Joe? Siapa tuh?”

“Hm, Ok, Joe, namanya sih Joko, Cuma panggilannya Joe, TKI dari sini, katanya sih asli Jawa, Purwo.. purwo..” Shin berusaha mengingat kata – kata yang ada di kepalanya.

“Purworejo? Purwokerto?” bantu Indra.

“Ya, semacam itulah namanya, aku nggak begitu inget. Tapi kayaknya enaknya ceritanya sambil makan deh..!”

“Ya.. bilang aja laper, sorry, lupa. Yuk, aku juga belum makan kok. Ada masakan special hari ini. He.. he..”. Indra nyengir.

“He.. he…”. Shin ikut nyengir.

Mereka berdua segera melangkah ke ruang makan. Segera saja ruang makan itu dipenuhi kelakar dua sahabat yang lama berpisah itu. Cerita tentang kisah yang tak pernah terbayang di benaknya dua tahun yang lalu, tentang kecopetan, tentang ketertarikan pak Moto untuk mempelajari Islam, cerita – cerita daerah dari pak Joe, belajar istilah – istilah bahasa Indonesia, tentang kamar ajaibnya, tentang pekerjaannya, dln segera mengalir dari mulut Shin.

…………………

HuFff. Shin bernafas lega ketika akhirnya ia sampai juga di depan sebuah rumah untuk kesekian buahnya. Sebuah papan “dikontrakkan” terpasang di depan pagarnya.  Ya, Shin sedang mencari kontrakan! Shin sendiri sebenarnya cukup nyaman tinggal di tempat Indra, tapi nggak enak juga kan kalau numpang terus?. Makanya Shin sejak beberapa hari yang lalu selalu menyempatkan diri setelah pulang kerja untuk mencari rumah kontrakan. Ia sengaja tak bicara dulu pada Indra. Bukannya apa – apa, Shin takut Indra tidak setuju.

Lagipula rasanya gaji dan Shin sudah lumayan cukup untuk ngontrak. Keuletannya dalam bekerja membuatnya cepat belajar dan mendapatkan perhatian ekstra dari rekan kerjanya, atasan, ataupun bos-nya, pak Anton.

Shin membuka pagar rumah itu perlahan dan mengetuk pintunya. Seorang wanita setengah baya menyambut Shin. Oleh bu Imah, wanita yang menunggu sementara rumah itu, segera mengajak Shin berkeliling.

“Rumah ini memang sederhana, nak. Tapi menurut ibu cukup baguslah kalau untuk pasangan yang muda-muda sperti anak ini..” penjelasan bu Imah membuat muka Shin memerah.

“Rumah ini punya satu ruang tamu mungil, lengkap dengan fasilitasnya, punya dua kamar tidur, lengkap dengan dapur, ya.. walaupun nggak terlalu besar, tapi cukuplah. Trus di belakang ada  tempat jemuran kecil”

Shin mengikutinya menuju pintu belakang. Ya, halaman yang tak begitu luas. Sebuah jemuran, serta beberapa tanaman hias yang tampak tak terawat terlihat di sana. Cukup bagus juga, mudah – mudahan aja harganya juga cocok, pikir Shin.

Setelah memastikan semuanya, air, listrik, termasuk masalah financialnya. Shin segera meninggalkan rumah itu dengan hati berbunga – bunga. Sebentar lagi ia akan punya rumah sendiri! (Walaupun ngontrak, J). Tinggal kini.. bagaimana menjelaskannya ke Indra dan mengatur agar Indra tak keberatan atas kepindahannya itu. Langit mulai berawan di ibu kota sore itu.

….……bersambung ke SMS bagian 15……….

SMS bagian 13

RENCANA-NYA MEMANG SELALU YANG TERBAIK

Shin memandang jalan yang semakin sepi dari jendela kamar petak kecil yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Sebuah kotak kecil tergenggam di tangannya. Celengan. Dua tahun sudah berlalu sejak malam menyedihkan itu terjadi. Pekerjaan demi pekerjaan digeluti Shin. Mulai dari jadi tukang kebersihan jalanan, cleaning service hotel, pelayan restoran, dan sekarang menjadi pegawai di sebuah departemen store kecil di tempat Joe bekerja. Hanya itu pekerjaan yang bisa didapatkan Shin tanpa ijazah dan identitasnya. Sebenarnya beberapa brother menawari Shin untuk tinggal bersama mereka, tapi ditolak Shin dengan halus. Shin tidak enak, juga ia ingin membuktikan kepada orang tuanya, ia sanggup melakukan apa saja demi Islam. Selain itu, Indra beberapa kali menyuruhnya untuk datang kembali ke Indonesia dan bersedia mengiriminya uang untuk ongkos. Tapi Shin menolak. Ia memang ingin kembali ke negeri itu, tapi nanti.. dengan hasil keringatnya sendiri. Karena itu Shin selalu menyisihkan gajinya untuk ditabung. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan di daun pintu membuat Shin menoleh dan kembali menyimpan kotak kecil di tangannya itu. Shin bergegas membukakan pintu yang hanya beberapa langkah dari tempat duduknya itu. “Cik Moto? What can I do for you?” “Saya.. ingin bicara. We need to talk. Saya harap nak Shin tak marah sama saya”. Cik Moto terlihat gugup, ditambah lagi dengn bahasa Inggris, Indonesia dan logat melayunya yang campu aduk. “Bicara? About? O.. oh, kalau gitu gimana kalau di dalam aja pak?” “Ng.. kalau tak keberatan, di tempat saya saja. Boleh tak? sekali lagi, maaf.” Shin mengangguk, lalu mengikuti Cik Moto dengan bingung. “Shin, I m so sorry..”. ucap lelaki setengah baya itu sekli lagi. tangannya terlihat gemetar. Shin tambah bingung. “Sorry? Untuk apa? Cik Moto kan nggak punya salah sama saya.” “Saya punya salah banyak sekali, waktu itu.. .” Kini lelaki itu kini bersimpuh di depan Shin. Ia menangis. “Maksud Encik?”. Tanya Shin tak mengerti. Lelaki itu tak segera menjawab pertanyaan Shin. Ia langsung bangkit mengambil suatu benda dari dalam kardus besar di pojok kamarnya. Shin segera mengenali benda itu. Tasnya? Tas atau travel bag yang hilang dibawa lari copet? Kenapa ada pada Cik Moto? Atau jangan – jangan.. ah, tidak mungkin!Shin berusaha mengusir prasangka buruknya. “Ini.. apakah beg ini punya Nak Shin?”. “Dari mana Cik Moto dapatkan itu?”. “Maafkan saya, sekali lagi maafkan saya, saya salah waktu itu, saya… saya silap” “Cik, ceritakan pada Shin, tolong..”. Shin menggenggam tangan lelaki itu. Cik Moto segera menyusut air matanya. Ia mulai bercerita. “Dulu.. Awalnya kenapa saya bisa sampai ke sini adalah karena terjebak teman-teman yang menawarkan pekerjaan yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijanjikannya. Saya tinggalkan kerjaan saya yang sudah beberapa tahun saya kerjakan, lalu ikut ke sini…” Cik Moto menarik napas dalam – dalam. Matanya memancarkan kesedihan dan penyesalan yang amat dalam. “Tapi.. ternyata saya ditipu. Lalu, beberapa minggu berselang setelah keberangkatan saya, saya mendapat kabar kalau anak satu – satunya yang tinggal dengan istri saya terkena demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit. Gaji yang saya dapatkan sebagai petugas kebersihan jalan jelas tidak cukup untuk itu. Untuk meminjam kepada ketiga teman saya jelas tidak mungkin. Joe, juga sama keadaannya dengan saya, Norio.. sudah tak bisa bekerja, sedangkan Oogami juga harus menghidupi keluarganya. Pikiran itu terbetik begitu saja di benak saya ketika… melihat Shin yang kelelahan berjalan malam itu dan saya tau pasti nak Shin tak akan bisa mengejar saya. Pikiran akan keselamatan anak saya membuat saya menjadi gelap mata. Maka terjadilah peristiwa yang menyebabkan tas itu ada di sini…” Cik Moto menarik napas dalam. Shin hanya terpaku diam dan mendengarkan dengan penuh prihatin. “Ngg… Begitulah ceritanya nak Shin, saya baru sekali itu melakukannya, saya benar – benar mohon maaf..”. Air mata kembali mengembang di pelupuk matanya. Shin masih terdiam. Tak pernah terpikir di benak Shin akan menemui realita yang pernah ditemuinya waktu di Indonesia dulu di negerinya yang terkenal dengan kemajuannya ini. “Nak Shin, maafkan saya.. nak Shin boleh melakukan apa saja terhadap saya, asalkan saya dimaafkan…”. “Cik, kenapa bapak tidak cerita waktu saya baru pertama ke sini?”. “Saya tidak berani, I m scare..” “Pak, apa gunanyanya saudara kalau bukan untuk saling membantu? Nggak ada salahnya kalau bapak kesulitan cerita ke saya, bapak kan juga sudah banyak membantu saya.” Cik Moto diam, lalu mengangguk membenarkan. “Ya sudah lah, sekarang ada baiknya jadikan pelajaran saja, tapi Cik Moto harus janji ke saya tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, tapi akan cerita ke saya, atau pak Joe, atau yang lainnya, ya?”. “Thank you very much, nak Shin, uangnya akan saya ganti kalau sudah ada uang.” “Tidak usah pak, anggap saja itu infak dari saya, tidak usah diganti, saya senang kalau uang itu bermanfaat untuk Cik.” Ucap Shin. “Shin tak marah ke sama saya?” Shin menggeleng. Cik Moto langsung memeluk Shin dengan penuh terima kasih. Shin menerima tasnya dengan suka cita, walau tak ada lagi uang di sana. “Nak Shin..”. suara Cik Moto kembali menghentikan langkah Shin yang baru hendak keluar dari kamar itu. “Ya?” “Kalau boleh, saya ingin belajar itu, tentang kebaikan hati, kesabaran, agar saya juga bisa berlapang dada seperti nak Shin..”. ucap pria itu takut – takut. “Alhamdulillah.. “ ucap Shin lirih, lalu mengangguk. Ada binar bahagia di sana. Allah memang nggak pernah berbuat sia – sia terhadap hambanya, selalu ada hikmah di balik semuanya. Terbayang kembali wajah papanya, seandainya papanya yang mengucapkan kata – kata itu… Pa, apa kabarmu, pa? ………bersambung ke bagian 14…………

SMS bagian 12

IT’S MY NEW LIFE

Malam mulai terasa larut. Tak terasa, satu jam sudah Shin berjalan tanpa tujuan menyusuri jalan raya Beika. Sesekali lampu kendaraan yang sesekali lewat menyilaukan mata Shin. Travel bag mini berwarna biru laut itu diseretnya dengan lesu. Sebuah tulisan “Swalayan 500 meter” menarik perhatian Shin. Seketika itu juga perutnya berbunyi. Ia merasakan cacing di perutnya menggelepar. Lapar.

“BRUKK!”

Shin merasakan seseorang menabraknya hingga jatuh dan sipenabrak bangkit, lalu berlari dengan kencang tanpa mempedulikan Shin yang terjengkang. Seketika itu juga ia tersadar bahwa tas yang tadi dipegangnya kini sudah berpindah tangan. Orang itu adalah.. Copet!.

“Hei, come back! It’s my bag! ” Shin berusaha mengejar orang bertopi rajut yang membawa lari tas itu. Tapi, orang itu ternyata jauh lebih cepat dari Shin. Sehingga dalam bebrapa detik saja ia sudah menghilang dari pandangan Shin. Menghilang dalam pekatnya  malam.

Shin lunglai. Dalam sekejap ia telah kehilangan semuanya. Ijazah, pakaian, dan dompetnya yang satu lagi yang ada di dalam tas itu. Sejak kecil Shin memang punya kebiasaan memakai dua dompet. Yang satu untuk keperluan tertentu saja, sedangkan satunya lagi untuk uang kecil untuk keperluan sehari – hari. Biasanya ia akan menyimpan yang satu lagi di tas kerja atau tasnya yang lain, sedangkan yang satunya lagi akan diletakkan di kantong celananya. Satu lagi, Shin kehilangan Al-quran mungil yang selalu dibawanya. Shin kembali melirik swalayan yang kini sudah di depan matanya. Shin merogoh kantongnya. Hanya ada beberapa Yen di sana. Tapi, Shin sedikit lega, di sana ada sebuah kartu kredit yang tersisa di sana. Shin berharap ia bisa membeli beberapa makanan yang dapat mengobati perih lambungnya dengan credit card yang kini tergenggam di tangannya. Shin segera menyeret langkahnya yang gontai kesana.

Swalayan itu tak begitu besar dan sudah terlihat sepi. Di sana hanya ada satu kasir yang tampangnya seperti orang Asia, mungkin malaysia atau Indonesia dan satu SPG (Sales Promotion Girl) yang sedang melayani pelanggan di bagian kosmetik. Shin langsung memilih makanan dan keperluan secukupnya, lalu segera membawanya ke meja kasir.

Kasir itu segera menerima kartu kredit yang disodorkan Shin, tapi baru beberapa detik kemudian..

“Sorry sir, you can’t use this card.” kata kasir separuh baya  itu kepada Shin dengan bahasa Inggris yang masih kurang fasih. Tampaknya ia belum lama tinggal di sini (orang pendatang biasanya lebih memilih memakai bahasa Inggris daripada bahasa jepang, karena lebih umum dan mudah). Shin mendadak jadi bingung. Bukankah di sana tertulis tulisan  bahwa.. ia bisa menggunakan credit card?.

“What?! Oh, sorry, but.. ngg, What happened?” Shin menunjuk ke papan yang ada di atas meja itu. kasir itu mengangguk.

“Yeah, but the problem is.. the credit card is rejected…”

Shin terperangah. Mungkinkah ibunya yang melakukan itu kepadanya?.

“How much money did you have?”

“Wait..” Shin membolak balik dompetnya. Bukankah seharusnya ada uang tunai, ATM atau kartu kredit yang lain di dompet ini? Shin was – was. Atau.. jangan – jangan yang ada di sakunya adalah dompet yang salah?. Ya Allah!. Shin baru tersadar. Dan sekarang, pastilah dompet itulah yang ada di tas yang dicuri itu! dengan lemas Shin mengangsurkan beberapa keeping uang logam yang di tangannya,.

“Sir,..” Panggilan kasir mengejutkan Shin.

“Ya..”

“This is, and this from me.”

Pegawai itu lalu mengambil uang yang masih dipegang Shin dan mengangsurkan plastik putih yang berisi barang yang kira – kira seharga uang yang dimiliki oleh Shin.

“Thank you, sir.” Ucap Shin sembari menerima plastik putih itu dan bergegas meninggalkan tempat itu. untunglah swalayan itu sudah tak terlalu ramai, sehingga Shin tak terlalu malu.

Shin langsung duduk begitu menemukan sebuah bangku panjang tak jauh dari swalayan itu. “Ah, setidaknya aku bisa makan dulu sambil meluruskan kaki, sampai aku memutuskan kemana tujuannya nanti.” pikir Shin.

Shin segera membuka bungkusan makanan yang seadanya itu. Setelah menghabiskan potongan – potongan roti itu, sebuah suara menyapanya. Shin segera menghentikan kunyahannya. O, ternyata wajah Asia kasir swalayan yang tadi.

“Sorry, sir. I disturb you?.”

Oh, no. What can I do for you?” Shin menjawab dengan

No, My name is Joko, but my friends call me..Joe.” Sosok separuh baya itu langsung mengulurkan tangan. Shin menyambutnya dengan ragu – ragu.

“Shin..”. ucap Shin,“You are from malaysia, or.. Indonesia?

“I m Indonesian, sir.”

“O.. kebetulan sekali.”

“You are..”

“Oh, no”potong Shin,” tapi saya pernah tinggal di sana, beberapa tahun.”

“Tuan tinggal di mana? Rasanya saya baru melihat tuan di daerah sini, atau baru pindah?.”

“Panggil saja saya Shin, saya memang baru ke sini pak, saya… saya belum punya tempat tinggal.”

Oh,sorry.

“Tidak apa, orang tua saya sudah mengusir saya karena tahu saya masuk Islam..”.

“Benarkah?”

Shin mengangguk pelan.

“Kalau begitu tinggallah dengan saya nak Shin.”

“Tidak pak, terimakasih.” Tolak Shin halus.

“Saya mohon, stay with me, please.”

“Tapi pak…”.

“Saya mohon nak Shin, setidaknya untuk sementara.. ya?”.

Seandainya yang memohon kepadanya untuk tetap tinggal ini adalah papanya, tentu Shin akan langsung mengangguk. Shin menatap wajah yang sudah mulai dimakan usia itu sekali lagi. walau tak mengerti apa yang membuat lelaki itu bersikeras menyuruhnya tinggal, tapi akhirnya mengangguk juga pelan. Shin segera mengikuti langkah pak Joko alias Joe (panggilan teman – temannya).

Ternyata tempat tinggal pak Joko atau Joe tak jauh dari swalayan itu. Di aparteman yang sudah hampir bobrok itu masih ada beberapa teman. Joe langsung berteriak begitu membuka pintu dan mempersilahkan Shin duduk.

“Hei.. sini semuanya..”

Dua orang seusia Joe tampak keluar dari satu kamar, sedangkan seorang lagi, yang sudah lanjut usia keluar dari kamar yang berseberangan dengan kamar itu. Mereka semua segera menghampiri Joe.

“Perkenalkan, mulai sekarang anggota keluarga kita akan bertambah satu orang, his name is Shin. Shin, ini pak Oogami asli sini. Sedangkan ini Moto dari Thailand, dia pernah kerja di Malaysia untuk waktu yang cukup lama, jadi sering kita panggil cik Moto, ia baru beberapa bulan ini di sini, dan ini pak Norio, juga asli sini dan di sini sejak usahanya bangkrut beberapa tahun lalu”.

Shin mengulurkan tangan. Ketiganya langsung menyalami Shin secara bergantian. Semua menyambut Shin dengan ramah, hanya saja Cik Moto yang terlihat agak canggung kepada Shin. Mungkin karena tidak biasa bertemu orang baru, pikir Shin.  Lalu keempatnya langsung mengajak Shin ke sebuah kamar kecil yang penuh dengan barang – barang. Shin memandang seluruh sudut kamar kecil itu, inikah yang akan menjadi kamarnya?. Tapi akhirnya, Shin segera membantu keempat orang itu. Jeritan – jeritan kecil Shin membuat semuanya tertawa. (Tahu kenapa? Shin takut sama kecoa sodara – sodara! )

Sambil bersih – bersih, semuanya menceritakan tentang pekerjaan mereka. Cik Moto ternyata bekerja sebagai cleaning service di sebuah hotel. Lalu pak Oogami bekerja sebagai pelayan restoran, sedangkan pak atau kakek Norio sudah tak bekerja. Tapi jangan salah lho, biar sudah kakek – kakek,  pak Norio ini justru paling terkenal masakannya di antara ke tiga orang lainnya!.

Alhamdulillah!. Shin memandang lega kamar yang tadi berantakan. Ajaib! Kamar yang tadinya Shin kira tak akan bisa selesai dibersihkan malam ini, ternyata bisa dibersihkan dalam dua jam rapi seketika! (kayak iklan aja! He-he..). Shin langsung teringat, ia belum shalat Isya!. Shin lalu melangkah mengambil wudlhu.

“Ya Allah, berikan kesembuhan kepada papa dan semoga Allah membukakan hati keduanya untuk menerima hidayah dari-Mu. Kuatkanlah hamba-Mu ini dalam menjalankan hidup yang keras ini, agar hamba tetap istiqomah di jalan-Mu, karena kekuatan dari-Mu hamba hanyalah manusia kecil yang tidak berdaya..” (Amien). Ada setetes air mata di sana.

Selesai Shalat, Shin segera membaringkan tubuhnya di kasur usang di sudut kamar itu. Sebuah seragam petugas kebersihan teronggok di sampingnya. Lho kok? Iya, tadi Cik Moto yang bekerja sebagai petugas kebersihan jalanan itu menawari Shin untuk ikut dengannya besok, sementara yang lain mencarikan pekerjaan yang lebih baik. Shin menurut. Ia tak punya pilihan. Tanpa ijazah, ia tak akan bisa mendapatkan pekerjaan, kecuali yang begini ini, petugas kebersihan jalan dan pekerjaan sejenis lainnya.

…..…bersambung…………

SMS bagian 11

CINTA DAN PENGORBANAN

“Nani?! papa sudah menetapkan pernikahan Shin?” Tanya Shin terkejut mendengar penuturan papanya. Tanpa sepengetahuan Shin, orang tuanya sudah membicarakannya dengan orang tua…Yumi!! Tentang perjodohan itu.

“Ya. Why? Tak ada alasan untuk menolak bukan? So-nano?”

Pertanyaan papanya membuat dada Sin terasa sesak. Ia  menarik napas panjang. Shin terdiam. Sungguh ini adalah suatu yang sulit baginya, bagaimana mungkin ia akan menikahi wanita yang berbeda akidah dengannya, Walaupun itu memang diperbolehkan agama menurut pendapat sebagian ulama? Tapi, bagaimana dengan keluarganya nanti? anak – anak mereka nanti? Dan kalau ia menikah, berarti sama saja dengan membongkar semuanya? Karena Shin tak akan mungkin melakukan pernikahan dengan cara selain islam.  Shin harus menolak hal ini. Tapi, bagaimana ia harus mengatakan penolakan ini?

I m so sorry papa,  I m not agree about this idea.” Ucap Shin dengan hati – hati. Lelaki itu tampak terkejut mendengar jawaban Shin. Tapi akhirnya cepat – cepat menguasai situasi.

“Nani?! Nani itten-no? Jodan daro? ”. ujarnya, seakan mengira  Shin main – main dengan ucapannya yang tadi.

“Pa, Shin serius..” Shin tertunduk, tak berani menatap Wajah papanya yang biasa terlihat tenang dan bijaksana mulai terlihat memerah menahan marah mendengar jawabannya.

“Kamu tahu apa artinya itu? kamu telah mencoreng muka papa Shin, kamu sudah menghina papa!.”

“Maafkan Shin pa, Shin tidak bermaksud mempermalukan keluarga kita, Shin dan Yumi Cuma teman pa.. she is my bestfriend”

“Kalau bukan mempermalukan, lalu apa namanya? Menghancurkan? Yumi itu anak orang terpandang, dari keluarga baik – baik, pintar, cantik, apalagi yang kurang darinya?, tidak seperti perempuan yang bernama Reina yang kampungan dan tega menyakiti kamu itu! keluarga kita akan jadi keluarga yang paling kaya raya kalau perusahaan kita dan Yumi bersatu! Haah? Nande dame-nano? Hah?!”

Shin diam.

“Lalu apa yang kurang dari Yumi? Papa lihat kalian pasangan yang serasi sekali.” Wajah lelaki separuh baya itu tampak tak mengerti dengan pikiran anaknya.

Demo…”

“Stop, chotto kiite.. kalau kamu tolak perjodohan ini papa dan mama..  Malu!”.

Selama ini Shin mengenal papanya sebagai orang yang mau mengerti dan tidak pernah memaksakan kehendak kepada orang lain. Mungkin tak ada gunanya lagi menutupi semuanya. Ia tak akan bisa menghentikan perjodohan ini dengan berbagai alasan apapun, kecuali mungkin dengan alasan yang satu itu. Shin mencoba menguatkan hatinya. Berharap papanya akan mengerti.

“Pa,  bukan karena apa-apa Shin menolak perjodohan itu, tapi..Shin sekarang.. muslim”. Perkataan Shin seperti geledek yang meruntuhkan langit – langit rumah itu. tiba – tiba papanya gemetaran. Wajah Shin langsung memucat. Jangan – jangan sakit jantung papa.. ya Allah!. Shin segera  menangkap tubuh yang lunglai itu.

“Ina…! Ani..!” teriak Shin memanggil dua wanita beradik kakak, TKW asal Indonesia yang dikerjakan mamanya sebagai khodimat di rumah itu. Dua gadis yang masih muda yang sedikit mirip satu sama lain segera menghampiri Shin. Dengan dibantu kedua gadis itu, Shin segera mengangkat tubuh papanya ke tempat tidur. Shin segera menelpon dokter Akira, dokter pribadi papanya, lalu menelpon.. mamanya yang sedang ke pesta relasinya.

….…………..

Nyonya Mayuko tak dapat lagi menahan amarahnya ketika tadi ponselnya berdering dan Shin mengabarkan bahwa penyakit jantung papanya kambuh. Dengan segera ia meninggalkan pesta itu dan melajukan BMW silvernya dengan kecepatan penuh. Otaknya dipenuhi bebagai macam pikiran. Bukan, bukan tentang suaminya. Tapi, Shin. Pasti anak kurang ajar itulah yang menjadi penyebab semua ini! Pasti.

“PLAK! PLAK! “ pipi Shin terasa panas. Tanpa basa – basi Nyonya Mayuko langsung menampar pipi Shin. Dugaannya di perjalanan tadi ternyata benar. Kemarahan yang terpancar di matanya melebihi ketika ia menyuruh Shin pulang, waktu di Jakarta dulu.

“Dasar anak durhaka! Pergi kamu dari rumah ini sekarang juga!.” Kata – kata mamanya terasa seperti jarum yang menusuk di hati Shin. Shin tak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Papa yang dikiranya cukup mengerti dan toleransi, tapi justru menjadi orang yang paling tidak bisa menerima keislamannya. Dan sekarang, mama..

“Ma, I m so sorry..forgive me”.

Don’t call me mama, I m not your mother!”.

“Nyonya, maafkanlah tuan muda.” Ani berusaha membantu Shin.

“Kamu jangan ikut campur, atau kamu akan saya pecat, mau? Hitori-ni shite!!” Ina dan Ani mengkerut. Shin memberi isyarat agar kedua gadis itu segera mundur. Shin tak ingin karena dirinya orang lain yang menanggung akibatnya. Apalagi kedua gadis kembar kakak beradik yang lemah ini, yang terpaksa  bekerja menjadi TKI demi menghidupi keluarganya.

“Pergi!!” suara keras mamanya membuat Shin sadar akan kondisinya kembali. Ia segera melangkah ke kamarnya, mengambil beberapa pasang baju, lalu memasukkannya ke tasnya. Sebelum keluar kamar, Shin segera meletakkan  sebuah Alquran terjemahan yang dulu didapatnya dari Indra di antara deretan buku – bukunya.

Malam itu juga Shin dengan langkah terpaksa harus meninggalkan rumahnya. Diiringin tatapan iba Ina dan Ani ia melangkah.

“Ya Allah, inikah ujian yang kau berikan pada hamba? Kalau sekiranya ini adalah ujianmu, kuatkanlah hatiku, tapi sekiranya ini adalah karena kesalahanku, maafkanlah, ampunilah..”, desis Shin pelan di sela langkahnya yang semakin menjauh.

Shin meninggalkan rumah malam itu juga dengan membawa sejuta harapan dan sejuta luka di hatinya. Shin membawa harapannya, harap akan kesembuhan papanya, pintu rumah itu akan kembali terbuka untuknya suatu saat nanti, dan semoga Allah membukakan hati kedua orang tuanya. Amin.

………bersambung ke bagian 12, semoga besok udah bisa dilanjutan lagi ya,thq……….

SMS bagian 10

SEINDAH MUSIM SEMI

Pagi minggu yang indah. Shin termenung menatap dedaunan yang mulai menunjukkan tanda – tanda akan menghijau dari jendela kamarnya. Tangannya memainkan pulpen pada sebuah buku catatan kecil dengan tak beraturan dan terlihat asal – asalan. Hatinya bimbang dan bingung.

Islam. tak ada waktu kosong yang dilewati Shin kecuali bergelut mempelajari agama itu. Shin menyadari agama itu memang agama yang sempurna, begitu lengkap. Islam mengatur kehidupan manusia dari yang sekecil – kecilnya, sampai yang terbesar sekalipun. Mulai dari kehidupan sehari – hari, sampai perniagaan, science, sejarah, dan segala hal, baik menyangkut diri sendiri, ataupun orang lain.

“Ah, alangkah damainya dunia ini kalau setiap orang memegang ajaran itu.. tak ada kekerasan, tak ada ketidak adilan, dan kejahatan apapun. Ah, Seandainya.. Islam adalah jalan yang akhirnya menjadi pilihanku.. apa yang akan terjadi selanjutnya? “ Shin berkata dalam hati.

“Tapi.. bagaimana dengan papa? Mama? Apakah mereka akan bisa menerima kenyataan itu? apa yang akan terjadi? Dan apa yang akan diperbuatnya jika semua ini akan berakibat buruk? Lalu.. bagaimana dengan teman – temanku? Apakah aku akan ditinggalkan? Dikucilkan? Jika mereka tahu tentang keislamanku nanti? dan.. pekerjaan? Apakah aku akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan kebanyakan muslim yang dipecat hanya karena perusahaan tempat mereka bekerja mengetahui bahwa mereka seorang muslim?”

Shin terus berpikir dan berpikir. Berbagai kemungkinan, pertimbangan, dan permaslahan satu per satu datang dan pergi dari benaknya.

Hari semakin siang. Burung – burung mulai berkicau.

…………………

Deretan pohon sakura yang tumbuh di sekeliling Islamic Center menambah sejuknya hati Shin. Dua bulan sudah matanya akrab dengan pohon ini. Artinya, selama itulah Shin berusaha memahami Islam di tempat ini. Tepatnya sejak Indra mengirimkan alamat email itu kepada Shin yang mengantarkan Shin untuk berkenalan dengan brother Yasin.

Shin baru mengerti mengapa Indra memberikan alamat itu kepadanya.  Ternyata brother Yasin yang juga asli Indonesia itulah yang mampu menjawab keraguan dan pertanyaan di hati Shin dengan islam yang diterangkannya. Pengetahuan Brother Yasin sangat luas dan hafal al-qur’an. Brother Yasin adalah teman Indra ketika kuliah dulu. Ia dan keluarganya sudah dua tahun tinggal di sini. Karena ia sedang melanjutkan S2-nya di sini, sedangkan istrinya adalah seorang guru di sebuah sekolah play-group Islam yang juga bertempat di dalam komplek itu.

Awalnya Shin bingung. Tapi, sedikit demi sedikit Shin mulai mengerti. Ia mulai memahami sedikit demi sedikit apa yang tertulis di al-quran. Shin mulai kagum dengan apa yang tertulis di sana, dan..ia  mulai menemukan sesuatu yang lain dan bisa mengobati luka hatinya selama ini, kebencian itu hilang seketika ketika ia memahami apa yang pernah dikatakan Reina waktu itu. Shin baru menyadari, sungguh tak pantas ia membenci Reina. Dari al-quran juga Shin memahami bahwa Islam bukan agama teroris seperti opini yang dikembangkan orang – orang kafir  saat ini. Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang dan rahmat. Berkat kesungguhannya dan beberapa brother di Islamic center ini membimbingnya dengan sabar, akhirnya Shin sampai pada syahadatnya pagi ini, tentu saja tanpa sepengetahuan orang tuanya. Indra tak kuasa mengucapkan syukur ketika Shin menelponnya kemarin. Shin masuk islam.

Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadurrosulullaah” Shin mengucapkan syahadat dengan suara bergetar. Brother Yasin segera menyalami Shin, diikuti dengan brother Ahmad, dan brother – brother yang lainnya. Mendadak suasana ruangan itu diliputi suasana haru. Halimah, istri brother Yasin, dan beberapa muslim dan muslimah yang hadir pada acara pagi itu tak kuasa menetaskan airmata. Bahagia. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Shin. Bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada orang tuanya?.  Bunga yang menguncup mulai bermekaran pertanda musim semi akan tiba.

………………

SMS bagian 9

BUKAN ISLAM YANG SALAH..

Cahaya matahari mulai meredup, menandakan hari sudah sore. Shin terbangun dari tidur siangnya ketika mendengar suara ribut dari kamar yang berjarak beberapa kamar dari kamarnya. Shin segera mencari asal suara itu. Shin mengenali itu sebagai suara mama dan papanya yang sedang bertengkar. Ia memandang jam antik yang menempel di dinding kamarnya yang cerah. Pukul 4. pm.

“Ma, serahkanlah semua pada Shin, biarkan dia yang ambil keputusan.”

“Nani?! Apa papa ingin dia pergi lagi ke Indonesia dengan anak perusak itu, lalu memeluk agama pembawa teror itu? no.. tidak! kita akan malu kalau dia jadi pengikut agama teroris itu..”

“Tidak, bukan itu maksud papa, aku sudah punya rencana. It’s good idea.”

Shin seperti terpaku di dinding. Shin tidak berniat menguping, karena itu bukanlah sifatnya. Tapi ini menyangkut dirinya, menyangut hidupnya. Ia harus  tahu.

“Sejak dulu mama selalu berhasil menjauhkannya dari anak itu, si Indra itu.. sampai papa menghancurkan semuanya. Gara – gara papa izinkan dia ke Indonesia… sekarang… aaagrh, mungkin sebentar lagi dia akan membom rumah ini!”

Shin tak kuasa lagi untuk tak menyela.

“Ma, agama itu tidak seperti yang mama kira, sonna-koto nai-yo!”. Shin akhirnya memberanikan diri muncul tiba-tiba karena tak tahan lagi dengan apa yang didengarnya. Suaranya  menggetarkan ruang berdinding kuning gading itu. Kemunculannya yang tiba – tiba semakin membuat ibunya semakin marah.

“Tidak seperti itu apa? Kamu nggak lihat berita Koran, tv? Kamu nggak tahu kan ada apa di sana? Bom!.” Tangannya teracung di depan muka Shin. Papa Shin berusaha menenangkan Istrinya yang tampak mulai kalap itu.

“Yang salah bukan agama ma, Islam nggak salah.. apa mama Cuma melihat Jakarta? Kenapa nggak melihat yang lainnya? umat islam lainnya? di Philipines, aussy..” Shin berusaha menjelaskan apa yang ia pahami selama beberapa waktu ini, sejak kepulangannya dari Jakarta beberapa hari yang lalu. Ia memang belum memutuskan untuk segera memeluk Islam dan masih dalam status mempelajari, tapi itu cukup menjawab pertanyaannya atas pernyataan itu tadi.

Papanya memegang pundak Shin, mencegah agar Shin tak terpancing dalam emosi ibunya yang mungkin sebentar lagi akan meledak kalau lelaki separuh baya itu tidak menghentikannya. Tapi diam – diam di hatinya lelaki yang dikenal sebagai pengusaha sukses itu sebuah rencana telah tersusun dengan rapi dan sempurna.

Nani-ga chigau-no?”

Nani-ga chigau-no? Jelas ma, jelas beda, ma.. kalau ..”

“Sudahlah, ma, Shin.. Sore-wa ato-dehanaco. Ok? Oh ya, nanti malam ada undangan pesta, Yumi’s birthday, kamu nggak lupa kan Shin? Ma?.” Potong papa Shin dengan nada bijaksana. Ia memandang istrinya dengan tatapan penuh arti, yang tak diketahui oleh Shin.

Wanita setengah baya itu mengangguk, Shin Shin-pun ikut mengangguk.

“Ok, oh ya, Shin.. May I borrow your phone cellular?.”

“Untuk apa ma?”. Shin tak mengerti dengan permintaan mamanya. Tapi pelototan mamanya akhirnya membuat Shin mengangguk.

Shin kembali ke kamarnya setelah menyerahkan handphonnya. Rasa ngantuknya hilang sudah. Indra, Shin harus bicara sama Indra.

Aduh!! Shin tiba – tiba menepuk jidatnya. Tiba – tiba ia  mengerti mengapa mamanya meminjam alias menyita handphon itu. Bagaimana ia akan menghubungi Indra atau teman – teman lamanya tanpa handpon itu?. Untuk ke telpon umum rasanya tak mungkin saat ini. Bagaimana kalau  papanya memanggilnya ketika ia sedang pergi nanti? Shin tahu pasti kebiasaan papanya itu sebelum pergi ke pesta, yaitu menyuruh Shin memilih pakaian yang akan dipakainya, atau meminta penilaiannya atas sederatan pakaian , sepatu, dasi yang cocok untuk pria seusianya!. Telphon di ruang tengah atau ruang tamu? Oh, Tidak. Jam – jam begini biasanya wanita setengah baya itu biasanya pasti sedang menonton drama kesukaannya di ruang tivi. Mamanya tak akan mengizinkan ia mendekati tempat itu dan pasti ketahuan. Dan lagi.. yang paling penting adalah tak satupun nomor telpon teman lama yang diingatnya di luar kepala, semua memorinya ada di handpon itu!

Shin berjalan mondar-mandir di depan jendela kamarnya. Nomor – nomor telpon, catatan teman – teman yang di Indonesia, semua tersimpan di handpone itu. Tapi.. tunggu, mata Shin langsung berpaling ke arah meja belajarnya. Laptop.. oh ya, Internet!

Shin terpekik girang. Bukankah Indra juga memberinya alamat emailnya? Dengan cepat diambilnya sebuah kertas yang menjadi pembatas al-quran terjemahan dari balik lipatan pakaian di lemarinya. Dengan cekatan ia menghidupkan laptop mungil yang tergeletak di atas meja, lalu membuka emailnya, lalu mengetikkan beberapa paragraf kata Mudah – mudahan nanti malam Indra membuka emailnya. Shin berharap cemas.

….. ………….

Perkiraan Shin tepat sekali. Indra membuka email dari Shin tepat setelah Shalat Isya, sambil menunggu makan malam siap. Keningnya berkerut ketika membaca kalimat demi kalimat dalam email itu.

“Sedang apa kak? Kok kayaknya bingung banget?” tanya Rani yang ikut kebingungan melihat kerut – kerut di kening Indra.

“Ah, nggak. Email dari Shin.”

“Shin? Shin yang kemaren datang kita nikah?”

Indra mengangguk, lalu meninggalkan layar yang masih terkembang di depannya itu. Sekarang tangannya sedang sibuk membongkar dokumen – dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Kertas – kertas yang tadinya tersusun rapi, mulai berserakan. Rani langsung geleng – geleng, lalu meninggalkan kamar itu, menuju dapur. Gimana nggak? abis ruang kerja Indra yang aneh bin ajaib langsung kayak kapal pecah!.

Tapi tampaknya Indra tidak sempat menghiraukan tatapan heran istrinya. Kini tangannya beralih mengeluarkan segepok kertas yang ada di laci mejanya. Matanya langsung berbinar ketika menemukan kertas yang dicarinya.  Lalu Indra kembali sibuk dengan komputernya. Mengetikkan huruf yang tertera pada kertas itu.

…………….

Shin mengahampiri laptop yang ia tinggalkan tadi dengan tergesa – gesa dan penuh harap. Pesta yang membosankan setengah mati itu membuatnya pamit pulang duluan, ditambah lagi rasa penasarannya dengan balasan email yang ditunggunya. Ada sebuah pesan di inbox-nya. Shin tak sabar untuk segera membuka email balasan dari Indra.

Mata Shin semakin menyipit membaca tulisan yang dikirimkan Indra. Nama sebuah tempat. Islamic Center? lengkap dengan alamatnya? Brother Yasin? Siapa itu?. Yah, yang dikirimkan Indra ternyata bukan memberinya masukan atau nasehat, tapi justru Indra mengirimkannya sebuah alamat dan sebuah nama yang kata Indra bisa membantunya. Shin bimbang dan terlihat ragu. Orang yang disebutkan Indra itu adalah orang yang tak dikenalnya, bagaimana mungkin orang itu dapat membantu kebingungannya?. Tapi, ada baiknya ia mencoba. Siapa tahu Indra benar. Shin merebahkan tubuhnya yang penat, setelah print out alamat dan nama itu dilipatnya dengan rapi dan dimasukkannya ke dompet. Ia akan ke sana besok sore, sepulangnya dari kantor.

……………………..

SMS bagian 8

LAYU SEBELUM BERKEMBANG

Indra dan Shin segera tanggap dan cepat membaca situasi. Dengan  sikap sopan dan penuh hormat keduanya langsung menghampiri Nyonya mariko..

“Tante? Kapan datang?”. Sapa Indra ramah.

“Mama? Kenapa nggak kasih tahu Shin kalau mau datang? Kan bisa dijemput di bandara.”

Shin dan Indra segera menyalami dan membawakan barang wanita setengah baya itu. Tapi diluar dugaan, wanita setengah baya itu langsung  menampik tangan Indra dengan cepat. Indra terperanjat. Terlebih lagi Shin. Sedangkan Reina, Rani dan ibu Indra lagi – lagi Cuma menahan napas. Tampaknya mereka telah memahami apa yang sedang terjadi.

Go home, Shin!”

Shin memandang wanita itu dengan perasaan tak mengerti, “ Why? Shin ingin tinggal di sini untuk beberapa hari lagi”.”

“Come with me! Now!”

“Tapi kenapa, ma? Apa karena Shin ingin belajar Islam?”

Gatagata itten-ja neyo! Pokoknya kita pulang sekarang juga!.”

“Kenapa ma? Where is papa?” Shin bertanya sekali lagi.

Don’t ask anything. Kamu lebih memilih anak perusak ini atau mamamu ini? Seharusnya mama larang kamu pergi kesini lagi..” Nyonya Mayuko menunjuk ke arah Indra dengan panjangan tak suka. Indra hanya beristighfar dalam hati.

“Ma.. Indra bukan perusak, dulu mama kan kenal baik dengan Indra, Shin hanya…”

“Cukup, ambil barang – barangmu atau mamamu ini nggak akan mengakuimu lagi sebagai anak!”

Shin terperangah mendengar ucapan mamanya. Mamanya  memang sedikit keras, tapi tak pernah sekeras ini kalau membentak, apalagi sampai mengancam. Nanka atta-no?

Shin memandang Indra dan mamanya bergantian. Mata wanita itu semakin merah. Shin beralih memandang Indra. Indra membalas pandangannya dengan anggukan sebagai  isyarat agar Shin mengikuti ibunya. Shin segera mengambil tasnya  ysng dititipkan di kamar Indra, eh kamar pengantin tadi, lalu pamit.

“Maaf, sebenarnya aku masih ingin sekali tinggal di sini..”

Shitteru.”

“Tapi..sekali lagi aku harus pergi Ndra.” Shin memeluk Indra, “Aku janji aku akan kembali. I promise. Take care. Bye..” Shin melepaskan pelukannya dengan Indra. Setetes air mata jatuh dari mata bening Shin, hangat membasahi pipi. Indra bergegas berlari ke kamar -sementara-nya, lalu kembali dengan sebuah bungkusan di tangannya yang lalu diserahkan nya kepada Shin. Walau tahu tahu isi bungkusan itu Shin menerimanya dengan senang hati, lalu melangkah menuju taksi yang masih menunggu di depan halaman rumah mungil bercat putih itu, setelah pamit kepada keluarga Indra.

Indra menatap kepergian Shin dengan hati sedih. Untuk kedua kalinya Shin datang dan Pergi kembali. Dulu ia sangat sedih ketika Shin meninggalkannya kembali ke Jepang, karena ia akan kehilangan teman bermain.. tapi tak sesedih hari ini, saat Shin memutuskan untuk belajar Islam, justru Shin harus pergi. Ia hanya berharap Shin tak melupakan apa yang ia ucapkan hari ini.

Indra memperhatikan ibunya yang masih berbincang dari kejauhan dengan ibu Shin. Keduanya menunjukkan wajah serius dan sedikit tegang. Setelah memperkirakan percakapan dua ibu itu selesai, Indra menghampiri.

“Kami akan pulang hari ini juga, terima kasih atas tawaran ibumu menginap, tapi tidak,  Mo nida-to konai-yo!”

“Koko-ni ite.” Indra berusaha menahan nyonya Mariko agar tetap tinggal barang semalam saja.Tapi….tidak!! Mayuko tetap melangkah menuju taksi yang menunggu di depan, di tempat Shin menunggu.

Indra menatap taksi yang mulai bergerak menjauh  meninggalkan pelataran mesjid. Indra membalas lambaian tangan Shin dengan lesu.. sungguh perpisahan yang berat, tapi itulah yang terjadi. “Ya Allah, tunjukkanlah jalanmu kepadanya, jangan sampai cahaya itu padam kembali..” Indra bergumam lirih.

Taksi itu semakin menjauh, mendauh, dan akhirnya menghilang..

………………………..

Di pesawat Shin masih terpaku menatap awan putih dari dalam pesawat yang membawanya pulang kembali ke Jepang. Hatinya galau. Dulu Shin juga berpisah dengan Indra, perasaan itu tidak seperti saat ini. Ada yang mengganjal di kepalanya. Entahlah, Shin sendiri tak mengerti yang telah dialaminya, ia merasa seperti kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Terus terang, Shin penasaran, apakah yang membuatnya mengalami semua ini?  apakah sedikit penjelasan yang dikatakan Indra tadi? Mungkinkah dulu Indra juga bertanya – tanya seperti ini?

Shin masih berselimut beribu pertanyaan ketika AC pesawat mulai semakin  dingin dan pemandangan luar ditutupi oleh awan – awan putih. Segera dikeluarkannya switer rajutan tangan dari dalam tas kecil bawaannya. Disamping Shin, ibunya sudah tertidur pulas. Tangan Shin terhenti ketika  melihat bungkusan yang diberikan Indra tadi sebelum ia berangkat. Rasa penasaran kembali menyergapnya. Shin memandang bungkusan itu sebentar, lalu bergegas membukanya.

Al-quran? Shin membaca tulisan sampulnya tepat ketika sebuah kertas meluncur dari lembarannya.

“Shin, ini adalah kitab suci agama Islam, bacalah dan coba pahamilah  walaupun Cuma sedikit. Aku berharap ini bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan yang masih tersisa di hatimu. by: Indra. Indra @ blablabla.com, 0813141650xx,”

Oh.. Indra menuliskan alamat email dan nomor hendphonnya juga rupanya, pikirnya. Disimpannya buku yang bernama Al-Quran itu kembali di balik lipatan pakaiannya, Lalu melanjutkan niatnya untuk tidur. Pemandangan pulau Jawa mulai menjauh perlahan dan akhirnya tinggal sebuah titik, lalu menghilang dari sudut mata Shin.

………………

Sesampai di Bandara, Shin langsung diajak pulang ke rumahnya. Di halaman rumah mewah itu sudah terparkir beberapa mobil mewah. Salah satunya Shin kenali sebagai mobil Yumi, putri seorang pengusaha kaya kenalan ayahnya, yang sekaligus menjadi sahabatnya selama kuliah di Universitas beberapa waktu ini.. Hati Shin jadi semakin  was – was. Tapi, Shin tak ingin berpikir macam – macam, ia terlalu lelah untuk berpikir. Shin langsung bergegas mengikuti ibunya masuk.

Benar dugaan Shin. Di ruang tamu Yumi telah duduk bersama kedua orang tuanya. Ia tampak cantik mengenakan kimono khas Jepang warna keemasan yang indah sekali. Cocok sekali dengan kulitnya yang putih. Papa Shin tersenyum  senang menyambut putra semata wayangnya itu, lalu memperkenalkan tamu yang ada di depannya.

Shin segera membungkuk memberi hormat kepada Yumi, tante dan Om Tanaka, orang tua Yumi, dan beberapa relasi perusahaan papanya, teman ibunya, dan beberapa rekan bisnis ayahnya  yang telah hadir, lalu permisi untuk istirahat di kamarnya.

Di kamarnya, Shin langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Ia masih tak mengerti, mengapa ibunya begitu keras melarangnya untuk belajar Islam?. Sejak kecil ia memang tak pernah tahu agama yang dianutnya, dan ibunya tak pernah melarang kalau – kalau ia mengikiti atau menghadiri perayaan natal, atau agama  Shinto, budha, atu entah agama apa saja. Tapi, sekarang.. ketika ia tertarik untuk memeluk satu agama mengapa ibunya langsung melarang? Apakah karena agama itu adalah islam?. Shin terus berpikir, hingga akhirnya sampai ke alam mimpi. Pulas.

……tunggu lanjutannya di SMS bagian 9 ya, thq . jgn lupa tinggalkan komentarnya………….

SMS bagian 7

AJARI AKU MENGENAL-NYA

“Shin…” Suara Indra membuat Shin kembali ke alam nyata, meluluh lantakkan kenangannya lima tahun yang lalu. Kenangan yang ditinggalkan Reina, kenangan terpahit yang pernah ada, sekaligus yang membuatnya meninggalkan negeri  ini dulu.

“Eh…iya, do-shita-no?” Shin menjawab dengan gugup

Are you oke?” tanya Indra bingung.

“Ya, Shimpai shinai-de.” Shin menyembunyikan apa yang tadi sedang dipikirkannya.

“Kalau kamu mau istirahat, ruangan di pojok sana bisa dipakai kok.” Indra menunjuk ke sudut mesjid.

Shin menggeleng. Indra tersenyum, lalu kembali konsentrasi ke acara yang akan berlangsung.

Tak lama kemudian akad nikah Indra dimulai diiringi tatapan bingung Shin yang masih menyelimuti hatinya. Pernikahan itu sama sekali tak dimengertinya. Berbagai pertanyaan semerbak di hati Shin. Pernikahan macam apa ini? Kalau bukan pernikahan Indra, ingin rasanya Shin pergi dari tempat aneh  yang begitu banyak hal yang tak ia mengerti ini.

Setelah acara pernikahan sederhana itu selesai, kedua Rombongan mempelai itu langsung menuju ke rumah Rani yang tak jauh dari rumah keluarga Indra. Indra menghampiri Shin dan mengajaknya berbicara di taman belakang rumah yang asri. Acara ramah – tamah selanjutnya baru akan mulai satu jam lagi, jadi Indra mempergunakan waktu itu untuk berbicara dengan Shin.

“Shin, kau pasti memikirkan hal – hal yang menurutmu aneh  dan asing yang terjadi di sini.” Indra memulai pembicaraan setelah sebelumnya memperkenalkan Rani kepada Shin, wanita yang saat ini telah sah menjadi istrinya. Rani lalu meninggalkan mereka untuk bersiap – siap untuk acara ramah tamah nanti.

“Ya, Ndra, begitu banyak yang aku nggak mengerti, What happened with you? Your family? dengan hal – hal yang kau katakan… what, o.. ibadah itu, dengan… sorry, pernikahan anehmu itu, termasuk ibu dan istrimu yang tiba – tiba  berpakaian aneh itu, padahal kamu tahu kan aku benci itu, aku benci kain yang namanya..entah apa itu! semua aneh! Sitteru-desho?.” ucap Shin sinis. Matanya memancarkan pertanyaan dan juga kebencian.

Indra memandang Shin, memcoba memahami apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. Ia mengerti apa yang dirasakan Shin. Mungkin luka itu masih membekas.

Shitteru. Shin, kamu inget nggak saat kamu pindah lagi ke Jepang?”

Of course, kamu mau ngledekku? Mau bilang kalo aku pengecut lagi?”

“Nggak.” sanggah Indra lembut.

“Lalu?”. Ucap Shin lantang, dahinya mengernyit.

“Waktu kamu tetap memutuskan untuk pergi, saat itu terbesit di hatiku. Aku bertanya – tanya dalam hati. Aku jadi kepikiran,  seindah apa sih Islam yang diyakini Reina itu? Sampai dia sanggup berpisah denganmu?”

“Lalu?”

“Lalu saat itu aku berpikir, aku juga Islam, agama orang tuaku Islam, dari keluarga Islam, tapi kenapa aku tak pernah tahu apa – apa tentang Islam? tentang keindahan agamaku itu? tentang perintah – perintahnya, Kitabnya, Aturan – aturan di dalamnya?”.

“Lalu apa hubungannya dengan semua ini?”

“Aku mendatangi Reina lagi. “

What for?”

I asked her. Aku bertanya tentang apa saja yang mengganggu hatiku.. tentang Islam, juga tentang waktu yang kita habiskan di kafe yang padahal akan sangat bermanfaat kalau kita pakai untuk hal yang berguna, lalu  juga tentang Jilbab itu, lalu…”

“Stop Ndra, to the point aja.”

Indra tahu Shin memang tak suka bertele – tele. Ia orang yang to the point. Tapi Indra ingin Shin juga mengerti dan tak salah paham lagi dengan keputusan Reina. Juga Islam.

“Intinya… aku menemukan arti hidup dalam Islam.”

“Dulu kamu juga Islam.”

“Ya, tapi seperti yang kukatakan tadi Shin.. aku tak pernah tahu tentang Islam, I m not pray, no fasting, I can’t read the holly qur’an..”

Shin terdiam. Wajahnya memerah. Berbagai perasaan berkecamuk di hati Shin. Agama, satu kata yang tidak pernah terdengar dari mulut orang tuanya. Bahkan sampai saat ini Shin tak pernah tahu apa agamanya. Dulu dan selama di Jepang, kalau natal tiba, Shin ikut merayakan natal, demikian juga kalau perayaan – perayaan dewa – dewa, mengikuti berbagai acara keagamaan apa saja yang dirayakan orang sekitarnya. Ya, hanya sekedar untuk have fun aja.

“ Shin, maafkan aku, bukan maksudku untuk bohong, aku sudah coba tulis surat kepadamu, sampai berkali – kali malah.. aku berusaha menjelaskan semuanya, karena aku tak ingin di antara kita ada rahasia”.

“But, this is the secret, Ndra. Big secret! You lie to me!.”

“Kan aku sudah pernah cerita di suratku kalau..”.

“Surat?”. Potong Shin cepat. Sekarang gantian wajah Shin mengkerut bingung.

“Ya. Dalam bebrapa surat yang aku kirim”.

Kening Shin berkerut. Indra menceritakannya dalam setiap suratnya? Seingatnya, Indra hanya berkirim surat dua kali untuknya, dan itupun hanya berisi kenangan – kenangan mereka saja. Tak ada yang lain. Shin mencoba  mengingat – ingat beberapa surat yang memang sempat mampir ke rumahnya

“Ya, setiap bulan aku selalu mengirimkan surat untukmu.”

“Tapi aku tak pernah menerimanya Ndra, hanya dua kali.” Wajah Shin terlihat bingung, demikian juga Indra. Rasanya Indra mengerti sekarang mengapa Shin cukup terkejut.

“Kenapa kamu nggak telphon? Call my home or my office?”

“Karena aku yakin kamu selalu menerima surat itu.”

Shin termenung.

“Itu artinya kamu juga akan ninggalin aku juga Ndra? Seperti Reina, Ndra?”

“Nggak, Shin…kita akan tetap sahabat sampai kapan pun….”.

“Tetap sahabat ?? kamu tahu Ndra, kalimat yang sama diucapkan Reina beberapa tahun lalu…” huh! Semuanya sama saja!, pikir Shin. Indra tahu sahabatnya itu masih salah paham tentang Reina. Mungkin ini saatnya meluruskan pikirannya, tekad Indra dalam hati.

“Shin…   itu beda Shin, dalam Islam pergaulan wanita dan laki – laki sudah diatur. Coba aja kamu pikir berapa banyak waktu yang kamu buang Cuma untuk mikirin dia, lupa makan, lupa minum, lupa belajar.. jadi wajar Reina sedikit menjaga jarak sama kamu, hm bukan kamu aja sih, semua cowok malah. Nah.. kalo aku kan cowok, kenapa aku harus menjauhimu?. ” Indra berusaha meyakinkan Shin. Shin sedikit tertunduk.

I don’t understand.”

“About?”

“Women.”

“Masih soal jilbab itu?”

“Ya.”

“Shin, Jilbab adalah suatu lambang  penghormatan Islam terhadap wanita.”

“Aku rasa itu hanya akan mengekang kebebasan.”

“Justru itu adalah lambang kebebasan. Bebas dari segala penilaian fisik, kebebasan dalam fashion juga, kebebasan dalam menunjukkan idealisme dan jati diri mereka, juga membebaskan mereka dari kejahatan dunia.”

Example?”

“Contohnya.. hm, coba aja kamu baca newspaper – newspaper yang di jalanan itu, atau lihat acara-acara kriminal televisi, berapa banyak perkosaan yang terjadi. Dan kamu tahu apa yang kebanyakan yang dikatakan para pelaku tentang penyebabnya?”

Shin menggeleng.

“Ya, mungkin lebih dari lima puluh persen mengatakan bahwa mereka melakukan itu karena tergoda oleh aurat wanita itu! karena itulah Islam mewajibkan wanita menutup aurat. Buakn untuk menghinakan mereka, melainkan menaikkan derajat mereka, melindungi, dan memuliakan mereka.”

Shin mengangguk kecil. Mudah- mudahan Shin sudah mulai memahami sikap Reina waktu itu, doa Indra dalam hati.

“Tapi, aku juga pernah dengar. Wanita harus patuh pada suami mereka, sedangkan their husband? No. bukankah itu tidak adil?”

“Adil bukan berarti harus sama, tapi adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Istri memang harus patuh pada suami, selama masih tidak menyimpang dari agama, dan laki – laki tidak. Tapi, ingat! Laki – laki juga harus patuh pada ibunya tiga kali lipat dari ayahnya, bukankah ibu adalah juga wanita?”

“Lalu.. soal warisan?”

“Setengah bagian dari laki-laki?”

“Ya.”

“Itu adil.”

“Adil?”

“Ya, adil artinya tak harus sama dan merata bukan? Tapi, adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Wanita memang hanya mendapat setengah dari bagian laki-laki.. tapi, yang harus diingat adalah setengah itu utuh menjadi milik si wanita, sedangkan kita, si laki-laki.. kita punya kewajiban untuk menafkahi dan membagi harta itu dengan keluarga kita, tidak demikian halnya dengan wanita. Disitulah letak keadilannya.”

Tapi beberapa detik kemudian wajah Shin kembali menatap Indra dengan tatapan serius. Wajahnya muram. Indra jadi khawatir, apakah Shin masih marah?

“Kamu masih marah, Shin?” tanya Indra.

Kangae-goto shiteta.” Mata Shin menerawang.

“Nani kangaeten-no?”

“About the god. Sejak dulu aku juga tahu alam yang luas ini, semua isinya dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya, semua pasti ada yang menciptakan, ada yang mengatur. Tapi siapa? Aku tak pernah berpikir tentang itu.”

“Lalu sekarang?”

Shin termenung, “ Karena semalam ibumu menyinggung itu.. Aku  jadi bingung dan terus berpikir, siapa Dia? Dewa – dewa itukah? Yesuskah? Sang budhakah? Atau Siapa? Lalu sekarang Allah? Siapa Dia?.”

“Allah. Dialah tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak menyerupai ciptaannya, tidak tidur dan kekal. Dialah Tuhan yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.”

“Diakah Tuhan dalam Islam?”

Indra menggaguk.

“Allah adalah tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, Allah yang satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, juga tidak menyerupai makhluk ciptaan-Nya.”

Shin kembali terdiam mematung. Satu menit, dua menit, lima menit berlalu dalam kebisuan. Indra jadi was – was.

“Sekali lagi aku minta maaf, aku nggak ngasih tau kamu lewat telpon kemarin.”

“Bukan itu.”

“Lalu?”

“Aku marah, kenapa kamu nggak nelpon aku lebih awal, sejak saat itu. dulu, waktu kamu suka bola, kamu ajak aku, masukin aku ke tim biar aku juga ngerasain gimana enaknya main bola. Sekarang? Kenapa kamu juga tidak menjelaskan kepadaku?”

“Karena aku takut, aku takut kehilangan sahabat baikku.”

“Tapi, kamu kan belum mencoba? kamu belum tahu aku akan menerima keyakinan itu atau kan menolak?”

“Jadi kamu tidak keberatan untuk.. untuk mempelajari juga?”

Shin mengangguk.

“Dengan satu syarat.”

“Nani?”

“Jangan memaksa kalau ternyata aku tak bisa menerima agama itu.”

“Sure, tak ada pemaksaan dalam beragama.”

“Really?”

“Really.”

Indra langsung memeluk Shin. Setiap Shalat, dalam do’anya Indra selalu berharap hidayah itu juga akan datang kepada Shin. Dan sekarang? Ya Allah! Jadikanlah ini jalan untuk mencapai hidayah-Mu, ya Allah…

Shin membalas pelukan itu dengan hangat. Sedikit kelegaan dan kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Tapi, hanya beberapa saat. Pelukan itu segera terlepas begitu  sebuah suara lantang mengejutkan mereka.

“NO!, No! U can’t do that!.”

Suara keras dari belakangnya membuat Indra dan Shin tersentak kaget dan menoleh serentak.

Mayuko, ibu Shin, berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ia mengenakan pakaian warna biru muda senada dengan rok dan tas tangannya. Mantel hitam panjang tersampir di tangan. Matanya yang biasanya bening berubah merah menahan amarah. Rani, dan bu Nur, ibu Indra, yang ikut mengantar ke tempat itu terlihat menahan napas di belakangnya. Jantung Shin dan Indra berdegup kencang. Dari kejauhan awan berarak menuju kota Jakarta, pertanda mendung akan menyelimuti ibukota itu.

………….