CSDH- bagiah empat belas

SEBUAH PILIHAN

Setelah melalui hari – hari yang menyiksa, akhirnya hari yang paling bersejarah dalam hidup May tiba juga. Ya, hari ini adalah keberangkatannya dan Aldo ke Amerika, sedangkan di hari yang sama, Ferdypun akan berangkat ke Jerman. Makanya May meminta Intan mengantar keberangkatannya.

May menjejakkan kaki di bandara Sukarno Hatta dengan berbagai perasaan. Aldo dan orang tuanya berjalan di sampingnya, sedangkan Aldo membawa dorongan barang – barang yang akan mereka bawa ke Amerika nanti. Setibanya di ruang tunggu bandara, Aldo menghampiri May.

“ May, aku pernah bilang kan.. kalau aku adalah sahabatmu juga dan aku akan terus menunggumu, kecuali….” Ya, tak usah diteruskanpun May sudah tahu kelanjutan kalimat itu. Kecuali.. Ferdy kembali.

“Tidak…. Cukup Do, aku tahu.. sudah cukup semua luka yang dia berikan waktu itu.” Potong May cepat.

“May, berapa tahun aku dekat denganmu? Aku tahu May arti tatapanmu setiap kali aku memandangmu..aku pernah bilang, akan kulakukan apa saja untukmu, karena aku tak ingin melihat mendung di wajahmu aku tahu aku tak bisa menggantikan Ferdy…  sekarang Ferdy sudah di sini, dan…”

“Stop please..!!” Ucapan Aldo langsung dipotong May dengan sedikit membentak. Aldo agak kaget, tapi ia berusaha maklum. Suara May tadi memang cukup keras. Sejak May kenal dengan Aldo, sekalipun ia memang tak pernah seperti ini, apalagi yang namanya membentak.

Aldo menoleh ke arah pintu ruang tunggu yang tembus pandang karena terbuat dari kaca. Mata May ikut  menoleh ke sana, tapi baru beberapa detik mataku memandang pintu itu kepalanya berpaling otomatis ketika melihat bayangan yang muncul dari balik pintu itu. Ferdy!.

May tak tahu maksud Aldo. Oh, my God! Ternyata kata Aldo,  Jam keberangkatan mereka berdekatan! Seandainya saja jam keberangkatan pesawat mereka tak begini.. sungguh! May tak ingin melihat wajahnya, apalagi untuk menemuinya di saat seperti ini.

” May,…“ Panggil Aldo. May tak berani menatap Aldo dan tak dapat berkata apa – apa. Perkataan Aldo mengalir bagai air.

” May, kamu boleh aja bentak aku, kamu boleh aja caci maki aku, kamu boleh aja anggap aku nggak sayang sama kamu, tapi.. jujurlah pada diri sendiri.. aku akan tetap menjadi sahabatmu. Seorang sahabat akan senang, bila sahabatnya senang, demikian juga sebaliknya. Jangan biarkan cintamu pergi untuk kedua kalinya.” Ucap Aldo, lalu berdiri, dan pergi meninggalkan May menuju ke pojok ruang tunggu. Tempat Ferdy duduk dengan dua orang temannya yang ternyata adalah  teman kerjanya.

Jujur pada diri sendiri?  May mengakui, di satu sisi ia memang tak pernah bisa melupakan Ferdy dan masih tersimpan rajutan rindu itu untuknya. Tapi, di sisi lain Aldo telah memberikan yang terbaik untuknya, membantunya melewati hari – hari yang sulit dan melupakan kepahitan yang diberikan Ferdy.. pantaskah ia menyakitinya? Meninggalkannya untuk orang yang pernah menyakiti hatinya? Sungguh! May tak ingin menyakiti siapapun!.

Detik – detik sebelum keberangkatan pesawat begitu menyiksa bagi May. Terlebih lagi ketika terdengar speaker mengumumkan pesawat mereka yang akan berangkat. Akhirnya dengan penuh pertimbangan,  May melangkahkan kakinya mengikuti Aldo perlahan. Tapi..Tidak! ia tak sanggup memilih ! tapi harus! Ia harus memilih!  langkahnya terhenti ketika melihat bayangan Ferdy yang masih di ruang tunggu dari pantulan kaca. May hanya ingin memandangnya untuk terakhir kali. Selamat tinggal, Fer, desis May pelan.

“May, pergilah dengan Ferdy…”

Suara Aldo membuat May tiba – tiba terkejut dan kembali menghentikan langkahnya. May menatap mata bening Aldo, tak percaya. Hati May ingin berteriak, kalau aku pergi dengannya, kamu akan terluka Do! Biarlah Ferdy menanggung akibat luka yang di buatnya dulu!

“Tidak.” May menjawab pendek. Menarik tangan Aldo untuk melanjutkan langkah. Tapi Aldo tak juga mau beranjak.

“Jujurlah May, kalo nggak kamu akan nyesel seumur hidup.”

Air mata mulai membasahi pipi May. Sekali lagi ia memandangi bayangan Ferdy dan Aldo bergantian. Jujur? Sanggupkah ia melakukannya?

“May, ini dokumen yang kamu perlukan.”

Kini Aldo mengangsurkan berkas – berkas di tangannya kepada May. Dalam sekejap May bisa mengenali berkas – berkas itu. ya, yang diberikan Ferdy kepadanya beberapa waktu yang lalu!.

“Ini aku temukan ketika memeriksa kelengkapan berkas – berkasmu. Aku tahu ini akan terjadi, jadi aku mengurus semuanya, aku juga sudah bilang sama tante dan om. Pergilah May.. “

“Do, kenapa kamu ngelakuin ini semua?” air mata menggenangi pipi May. Aldo mengeluarkan tissu dari dalam saku jaketnya. Mengusap airmata gadis mungilnya itu.

“Sahabat. Kita sahabat kan? Dulu aku pernah bilang begitu kan?  May, seorang sahabat sejati akan senang bila sahabatnya senang, aku juga senang kalau kamu bahagia.”

Sekali lagi May memandangi Aldo dengan tatapan haru. Rasa kagumnya semakin besar kepada Aldo atas kelapangan dadanya sejak pertama kali hadir mengisi hari – harinya dulu. Terbayang kembali di kepala May kata – kata Aldo di taman itu, di bangku sekolah itu, di setiap detik hari – hari sulit yang ia alami.. perasaan itu semakin membuat May tak ingin meninggalkannya. May langsung menghambur ke pelukan Ald. May benar – benar menangis lagi.

………………….

EPILOG…

Di ruang tunggu, Ferdy bersiap – siap melangkah meninggalkan ruangan ber – AC itu. Kedua temannya sudah ia suruh pulang beberapa saat yang lalu. Rasa penyesalan dan luka jelas tergambar di muka Ferdy. Apalah daya, nasi sudah jadi bubur. Parahnya lagi semua telah dihancurkan oleh egonya sendiri.

Tapi sesaat kemudian, langkah Ferdy terhenti. Ia tampak kebingungan menatap siapa yang menghalangi langkahnya. Sesosok gadis mungil dengan rambut kemerah – merahan berdiri beberapa meter di depannya, lengkap dengan barang – barangnya. Mulut Ferdy terkunci. ia tak bisa bicara. Suaranya tersekat di tenggorokan.

“May…? Kamu..?” hanya kata – kata itu yang keluar dari mulutnya. Kegembiraan menyelimuti hati keduanya. Maya, gadis itu, hanya menjawab dengan anggukan sebelum akhirnya menghambur kepelukan sosok yang beberapa meter di depannya. Perkataan Aldo yang membuatnya kembali kesini, membuatnya menyadari bahwa cinta itu memang tak pernah terhapuskan dan selalu dihati.

Sementara itu dari kejauhan setetes air mata jatuh dari mata dua sosok dari tempat yang berbeda sedang  mengamati pemandangan yang mengharukan itu. Haru semerbak di setiap sudut hati mereka masing – masing. Cinta akan selalu di hati, meski terkadang terusir benci. Tapi tidak baginya, ia tak akan membiarkan benci menguasainya. Karena tak ada yang berhak memaksakan cinta dan tak seorangpun mampu mengatur kepada siapa seseorang jatuh cinta. Walau tak terucap maaf, Dewi yang berdiri tak jauh dari tempat itu menyimpan pelajaran itu jauh di dalam hatinya, juga Aldo..

………the end…………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s