CSDH- bagian delapan

ALASAN KLASIK

Semilir angin masih bertiup membelai rambut panjang May yang terurai. Dua bulan sudah  berlalu sejak Dewi menemuinya di depan gerbang asrama waktu itu. May mempercepat langkah kaki menuju bangunan yang berpagar merah muda yang sekarang menjadi tempat tinggalnya, alias kontrakan, setelah ia memutuskan untuk keluar dari asrama. Menurutnya, mungkin ini adalah tindakan pengecut. Tapi May nggak tahan lagi jika setiap hari harus melihat senyum sinis kemenangan Dewi, tatapan sinisnya, melihat kesengajaan Ferdy membuat May sakit hati, dengan segala…

“Adinda Maya Putri Andriyani…! “ sebuah suara bariton yang cukup asing di telinga May membuat gadis itu menghentikan gerak tangan yang hendak menutup pintu gerbang. Baru kali ini ada orang yang memanggilnya dengan nama lengkap. Sosok atletis yang kira – kira tingginya diatas 170-an dari jauh melambaikan tangan ke arah May. Cakep banget! (he..he.. iseng aja May!). May mengenali sosok itu.

“Aldo?.”

Aldo ini adalah teman sekolah May juga lho, cuma nggak sekelas dengannya. May juga tahu, kalau Aldo adalah salah seorang murid berprestasi  di bidang akademik dan  olah raga di sekolahnya. May juga pernah dengar kalau Aldo ternyata sempat akan dicalonkan menjadi ketua OSIS beberapa bulan yang lalu, sebelum May ada di sekolah ini. Tapi sayang, ia menolak.

“Ya, kamu udah nggak di asrama lagi?” Tanya Aldo heran.

“Nggak Do,sekarang gw ngontrak di sini, mau mampir ?” tawar May. May sih sebenarnya berbasa – basi aja menawarkan Aldo, karena sebenarnya May juga tak ingin cowok itu mampir. May ingin istirahat. Tapi, nggak enak juga kan? Ntar dibilangnya sombong lagi…

“Hm…gimana ya? Hm..lain kali aja kali ya? Janji deh nanti aku pasti maen ke sini, sekarang aku ada janji sama temen – temen, mau maen bola.” Jawabnya. Oh, iya… May ingat kalau Aldo adalah kapten sepak bola di timnya.

May tersenyum.“Ok deh! Gw masuk dulu ya..” May bergegas menutup pintu pagar.

Fuh! May menyandarkan tubuhnya yang pegal karena seharian duduk di sofa ruang tamu setelah mengambil air putih segelas. Baru saja seteguk air membasahi kerongkongannya. HP mungil di kantong seragam SMA- May yang belum diganti berdering. Sekilas May langsung melihat layar hanphon di tangannya. Tulisan yang tertera di layar itu membuat kening May berkerut. Home? Siapa yang menelphonnya dari rumah? Papakah? Atau mama?

“Halo….” Ucap May ragu.

“Halo, Maya?” terdengar suara wanita di seberang sana. Mama?

“Ya, ada apa ma? Gimana kabar papa?”

Ini pertama kalinya mama menghubungi May setelah dua bulan lalu. May berharap, dalam waktu selama itu mama dan papa dapat rukun kembali setelah pertengkaran – pertengkaran kecil beberapa bulan yang lalu.

“Maya.. kami sangat menyayangimu, tapi…jangan kaget ya sayang, kami akan bercerai.. May, Papa seringkali pulang malam tanpa alasan yang jelas, selalu menyalahkan mama, mama nggak tahan lagi … mama..…bla…bla….” Blarr! Semua terdengar bagaikan petir di siang bolong di telinga May. Berikutnya kata – kata mamanya tak lagi masuk ke kepala May. Ucapan mama, wanita separuh baya itu,  seperti menambah cabiknya hatinya. Hatinya merintih. Kini, apalagi ya Tuhan? Belum cukup kah aku dipisahkan dengan orang yang aku sayangi? Sekarang, papa.. mama.. ya Tuhan!

Segera May mematikan HP-nya, dan bergegas mengemasi beberapa potong pakaian dan menulis SMS untuk Intan, teman sebangkunya agar menyampaikan kepada pihak sekolah bahwa ia tidak masuk untuk beberapa hari ini. Tekad May sudah bulat. Ia harus pulang. Ia harus menghentikan perceraian ini.

Dalam perjalanan pulang, pikiran May sudah melayang ke rumah. Memang ia akui, meski papa dan mama merahasiakannya kepada May, May tahu sejak beberapa bulan terakhir mereka memang sedikit tidak akur. Beberapa kali pecahan piring sempat terdengar menghiasi pertengkaran keduanya. Entah memperdebatkan pekerjaan papa yang menurut mama terlalu sibuk, mempersoalkan kesibukan mama di luar rumah, ataupun yang terakhir ketika May ingin  pindah sekolah, keduanya saling menyalahkan. Papa menyalahkan mama yang dianggap tidak memperhatikan May, sedangkan mama mencurigai papa memiliki selingkuhan ketika papa pulang larut malam. Menurut May itu biasa dalam kehidupan rumah tangga. Ada manis ada pahit. Tapi May tak menyangka semua akan berakhir begini.

Malam itu juga, setelah makan malam, May memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

“Pa, ma.. maaf, baru kali ini May bicara dan ikut campur masalah mama dan papa, May… May nggak mau papa dan mama pisah.. apapun alasannya.”

May berusaha untuk tegar.

“May, di antara kami udah nggak ada kecocokan.. menurut kami ini yang terbaik.” Lelaki yang May panggil papa menatapnya dengan tatapan antara rasa iba dan bingung. Tapi, tetap tak menunjukkan perubahan keputusan yang dinanti – nantikan May.

“Ya, May.. mama juga udah nggak tahan, papa egois.”

“Mama yang egois, ga mau ngurus rumah.”

“Papa juga, sok sibuk, padahal selingkuh.”

Suara mama dan papa semakin terasa menusuk di kuping May.

“Tidak pa, ma, ini bukan yang terbaik.. papa dan mama sudah menikah delapan belas tahun, bukan waktu yang singkat pa.. ma.. kenapa?” air mata yang sedari tadi berusaha dibendung May agar tidak tumpah mulai mengalir setetes demi setetes.

“Karena kami memang nggak cocok dan…”

“Cukup ma..”  May memotong dengan lembut perkataan mamanya. Ia tak tahan lagi dengan semua ini.

” Setiap kali orang tua teman May bercerai, selaluuu…saja itu yang May dengar, setiap kali ada papa dan mama teman – teman maya yang berpisah, May selalu berharap..papa dan mama May tidak akan begitu… walaupun papa sibuk, mama sibuk dan kurang memperhatikan May, bagi May tidak apa – apa asalkan mama dan papa rukun.. May pengen tetap punya orang tua yang lengkap pa, ma..”

May merasakan air mata makin deras membanjiri pipinya. Cukup sudah!  Pertahanannya akhirnya jebol juga. Mama dan papa May  masih diam, menunggu May melanjutkan bicara.

“Kami sudah tidak cocok.. alasan klasik! mengapa selalu kalian? Kenapa nggak mikirin  kami, anak – anak yang perasaannya terluka? Kenapa nggak pernah mikirin masa depan anak – anaknya nanti? Anak – anak kayak May. Lalu apa arti cinta kalian yang selama belasan tahun ini? Kenapa pa? Kenapa ma?…” tanpa menunggu jawaban dari papa dan mamanya, May meninggalkan ruang makan. Tak digubrisnya wanita yang melahirkannya itu terus memanggilnya. Biarlah mereka memikirkan apa yang ia katakan tadi, pikirnya. May segera menutup pintu kamar. Ia Sedih, ia kecewa, mengapa orang dewasa begitu egois? Tapi lagi – lagi May hanya mampu menangis. Menumpahkan segala kekesalannya.

……………bersambung ke CSDH bagian sembilan………………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s