CSDH- bagian dua

TEMEN APA DEMEN ?

“Maya…!! Ferdy udeh nungguin noh di depan.”  Kepala Dewi,  teman sebelah kamar May yang asli betawi, sekaligus teman curhatnya setelah Intan, mantan temen sekamar May, pindah dari asrama, muncul dari balik daun pintu. Rambut panjangnya yang terikat jadi satu dan kaosnya yang berkeringat menandakan kalau Dewi abis olah raga pagi. Asrama tempat tinggal May memang asrama putri, jadi biasanya Ferdy ia suruh menunggu di ruang tamu atau di depan asrama, itung – itung jadi satpam 10 menitan… he..he.. (ternyata bukan Ferdy aja ya yang jail?)

“Yup, bos….!! Suruh tunggu aja Wi, gw bentar lagi kok.” Sahut May lantang sambil mencari baju ganti yang akan ia pakai. Dalam hitungan detik, segera saja kamar itu disulap bak kapal pecah karena baju yang mulai berserakan. Dewi geleng – geleng melihat tingkah May.

“Ok, deh!” sahut Dewi sebelum kembali ke ruang depan, tempat Ferdy menunggu.

May mengambil beberapa pasang baju yang menjadi favoritnya. Di atas meja belajar, handphon mungilnya tak henti – hentinya menjerit alias berdering. Biarin aja, karena siapa lagi kalau bukan Ferdy yang misscall May agar ia cepat ke luar. Bodoh amat, pikir May nggak peduli, cuek, terus memilih baju.

Setelan kaos hijau dipadu senada. Bagus juga, tapi… Ah, ntar May dikirain pohon lagi di pinggir lapangan. Out, setelan itu langsung dienyahkan. Tangan May langsung meraih setelan selanjutnya. Hm.. merah tua dan hitam? Ah, Ferdy selalu mengejeknya kalau May mepakai baju ini. Out!. Putih? Masak di lapangan berdebu gitu pakai putih! Coklat? Dikira anak paskibra lagi, out!. Lalu.. Abu – abu? Oh.. Noooo!!

Akhirnya dari setumpuk baju yang tadi diambilnya, kini tinggal satu stelan kaos dan celana berwarna biru kalem, yang baru beberapa waktu lalu ia beli di Plaza Jambu Dua, yang masih teronggok di depan May. Biru kalem… kepala May itu langsung berputar. Yeah! Akhirnya matanya menangkap ada warna serupa tergeletak di atas meja belajar. Topi!

Setelah yakin semuanya rapi, kaos dan celana warna santai, plus topi warna senada di kepalanya, May sengaja rambut panjangnya yang hitam agak kemerah – merahannya dibiarkan terurai, May bergegas keluar kamar.

“Eit…lain deh yang mau kencan…suit – suit!”’ terlihat Dewi telah berdiri lagi di depan pintu yang menghubungkan kamar dan ruang tamu  menghalangi langkah May.

“Nggak kok, Cuma mo nonton baseballnya dia aja lagi Wi…dia Cuma teman gw kok…” jawab May. Nggak kebayang deh gimana wajah May merahnya ketika mengatakan hal itu.

“Ah, yang bener..? temen apa demen nih? masak sih ada teman yang jemputin tiap minggu?” Tina menimpali, menyelidik. Tina adalah teman sekamar Dewi.

“Iya….udah ah gw mo pergi dulu, ntar tunggu oleh – oleh dari gw aja ya! daaah… .” ucap May, lalu meninggalkan Dewi  dan Tina yang masih bengong di depan pintu kamarnya. Belum sampai langkahnya di ruang tamu, May dikagetkan oleh koor teriakan Tina dan Dewi.

“Sialan..!!”

He…he.. baru sadar tuh anak kalau oleh – oleh yang May maksud adalah capek alias minta dipijitin!. May cengar – cengir membayangkan ekspresi Tina dan Dewi yang lagi sewot. He.. he..

Sementara itu di depan asrama, Ferdy sudah standby di depan kemudi mobilnya. Ia sudah mengenakan seragam tim bassball kebanggaannya dari rumah. Sebuah bola sebesar bola kasti dan sarung tangan tergeletak di sampingnya. Tanpa ba bi bu, May langsung naik.

“Kok lama? Lama dandannya apa bangun kesiangan nih…?” . Sambut Ferdy senyam – senyum.

Muka May langsung mengkerut. yah.. kapan sih nih anak berhenti menunjukkan wajah menyebalkannya itu? Hm…wajah menyebalkan? Kalo dipikir-pikir sebenernya nggak juga,  May juga mengakui kok kalau Ferdy tuh sebenarnya cukup cute, cool, handsome, and cukup pantaslah untuk dikejar – kejar cewek – cewek se-antero sekolahnya, ataupun sekolah lainnya. Buktinya, mobil cowok itu pasti penuh dengan coklat atau kado kalau valentine atau tahun baru tiba. Maklum, kapten bassball, ketua klub basket, tongkrongannya oke, and rankingnya juga lumayan. Cool kan? Tapi.. tunggu dulu, mungkin di mata May akan jadi seperti itu… tentu saja  kalau tanpa sifat usilnya itu! May jadi tersenyum – senyum sendiri dengan jalan pikirannya. He…he…

“Woi…! Sadar non! Udah mau nyampe nih! Mikirin gw mah jangan sebegitunya.. tenang, gw masih di sini..” teriak Ferdy persis di kuping May. Tuh kan, itu tuh yang paling nyebelin disamping nyebelin – nyebelin yang lainnya, kebiasaannya yang tetap memuji diri sendiri. Bikin May kesel!

O..o…tapi rupanya May melamun tadi sebentar. Menit – menit berikutnya dalam perjalanan menuju lapangan yang terletak beberapa kilometer dari sekolah mereka itu tak banyak banyak percakapan, tidak seperti biasanya. Paling – paling hanya beberapa celetuk iseng Ferdy yang masih nggak jauh dari ledekan.

“Hm…kalo dipikir – pikir Lo manis juga may, apalagi dengan baju dan topi ini, si rambut merah, gimana kalau gw panggil .. red hair aja? red hair..red hair…lucu juga kalo gw panggil RH atau ReHa…aww..!” Jeritan Ferdy segera memenuhi ruangan Mobil sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya seperti biasa, cubitan maut May mendarat di tangannya.

Dasar tukang jail! Enak saja manggil orang semaunya, gerutu May dalam hati.

“ Yee…orang muji, malah dicubitin, dari pada gw panggil ikan mujaer? Lu mau dipanggil mujair terus? Trus daripada gw muji diri sendiri yang udah mirip Tom Cruise ini terus… ya udah deh!..lu jelek, lu cerewet, lu bawel… awwww!!” Ferdy tak dapat melanjutkan kalimatnya karena lagi – lagi tangan May mendarat di kulitnya, kali ini lebih kencang dari yang pertama.

Huh, dasar.. Ferdy jelek!!! Rasain! Siapa suruh gangguin singa lapar (belum sarapan ni..!) Nggak jadi deh lo handsome di mata gw!! Huh!. Celutuk May dalam hati.

Hm.. ngomong – ngomong Tom Cruise, tenyata Ferdy adalah Fans beratnya lho!. Pernah suatu kali May mampir ke rumahnya bersama teman – teman gank baseball-nya. Tahu nggak apa yang Maya temukan di kamar Ferdy? Poster – poster Tom Cruise!! Waktu itu lampu seperti bersinar di kepala May. Ia dan teman – teman  meledek Ferdy habis – habisan. Kapan lagi kesempatan ini datang, ya nggak?

“Huu.. tampang sih macho, tapi koleksinya kok poster cowok juga ya?” Tanya May. Ia sengaja mengeraskan suara agar terdengar oleh yang lain (stereo kali ya?).

“Gede badan doang kali, buat pajangan..” Randy langsung menyambut komentar May dengan suara bass-nya yang tak kalah keras.

“Fer, Jangan – jangan lu…”.

“Emang” sahut Ferdy memotong kalimat Maya dengan cueknya.

“Lho, emang terusan kalimat gw apa? Pake emang – emang aja”

“Lu mau bilang, jangan-jangan gw kembar kan?”

Huekk! May langsung tersedak. Saking kagetnya, tak sengaja May permen yang dimakannya langsung gol, alias ketelan bulat – bulat!.

“Geer!. Iya, kalau orang buta, pake kacamata item, trusnya ada di ujung monas!”. Ujar May tak kalah yang seperti biasanya.. langsung dibalas pelototan oleh Ferdy.

Mujair. Satu satunya ikan yang paling May sebelin (lho, apa hubungannya?). Sebenarnya tuh ikan nggak bersalah sih, Cuma lagi – lagi salahnya Ferdy!.

Waktu itu suara May hilang setelah begadang menyiapkan acara sekolah. Maklum, suara May emang sedikit sensitive sama yang namanya begadang. Selama beberapa hari May Cuma bisa bicara dengan bahasa isyarat dan bahasa bibir. Sebetulnya sih May sudah menghindar agar tak bertemu Ferdy, tapi emang dasar lagi apes dan dianya juga iseng aja mencari May begitu mendengar dari Dewi tentang perihal hilangnya suara May, Jadilah beberapa hari itu Ferdy puas mengolok – olok May dengan mamanggilnya mujair dan Cuma bisa bicara dengan bahasa ikan. Mau ngebales ngeledek? Ngebales gimana? Wong ngomong aja May ndak iso..

Sebenarnya banyak sekali lho panggilan Ferdy untuk May. Mulai dari yang lucu kayak panda, sampai yang berbau – bau putri kodok gitu, sampai May aja susah untuk mengingat semuanya. Gimana nggak nyebelin coba?

“Woi, nona bengong, udah mo nyampe nih! Ayam gw aja mati kemaren gara – gara bengong terus.”

Teguran Ferdy membuat May kembali tersentak. Benar juga, beberapa meter jauhnya di depan sana lapangan baseball yang mereka tuju semakin mendekat. May merasakan tatapan – tatapan asing menyambut kedatangannya (baru liat orang kali ya?). May segera mensejajari langkah Ferdy.

“Fer, kok tuh cewek – cewek pada ngeliatin gw ya?”

“Mana gw tahu, ada yang salah kali,..”

“Baju lu? atau sepatu lu..” ucap Ferdy enteng.

May  mengangkat bahu. Ferdy ikut – ikutan memperhatikan gadis itu sesaat, lalu bergegas melanjutkan langkahnya dengan cengar – cengir. Bikin curiga!.

Akhirnya dengan ragu – ragu May segera mengamati pakaian dan sepatu kets yang dipakainya, takut – takut ada yang salah (siapa tau aja bajunya kebalik jadi celana atau kenapa githu..!) atau sepatunya yang kebalik.. Tapi rasanya tak ada yang salah. Kenapa ya?

May menggeleng bingung.

“Nggak ada tuh Fer, kenapa ya?”

“Ya, mana gw tahu, kan lu yang diliatin. Kalo gw sih, pasti mereka terpesona dengan ketampanan gw..” Dasar!

“Atau.. jangan – jangan May..”

“Atau apa?”

“Kali gw kecakepan May jalan sama lu.. he..he..”

Huu.. trus pa bedanya sama ucapan dia yang pertama dan yang ke dua?. Hm.. kalau nggak di sini, pengen deh May nimpukin Ferdy pakai bola bassball yang ada di tangan cowok itu.

Dengan sedikit cuek, akhirnya May segera menyusul Ferdy  bergabung dengan teman – temannya yang sudah menunggu untuk pemanasan. Memang hari ini tak banyak yang supporter yang datang dari sekolah May karena hari Minggu, (mungkin masih pada tidur kali ye?), tapi supporter dari tim lawan banyak sekali dan membludak, jadi pertandingannya cukup ramai..

Tepat pukul 9.00 WIB, pertandinganpun dimulai. Ferdy berusaha keras menghadang lawannya dan menambah poin. Cowok berkulit putih itu tampak bermandi keringat. Sesekali ia melambai tangan ke arah May. Usahanya tak sia – sia. hasilnya, tim sekolah yang diketuai oleh Ferdy menang! Ferdy langsung menghampiri May, ketika pertandingan selesai.

“May, mau makan di mana? lesehan, Mc.D?KFC?CFC? Gumati? Bla…bla… atau dimana? Kamu belum makan kan? Hari ini aku yang traktir. Ok?” Ferdy menyebutkan sederet tempat makan, mulai yang termurah sampai yang termahal. May hanya tersenyum. Bukannya ia tidak suka (wong ditraktir ya?), tapi tapi tempat yang sering disinggahi Ferdy itu lho!. menurutnya lebih baik uang itu digunakan untuk yang lebih berguna, daripada hanya untuk makan – makan. Pemborosan! Tapi emang dasar Ferdy anak boros, tetap saja penolakan May nggak ngaruh!

May masih diam. Ia berpikir bagaiman cara menolak yang baik. Sampai…

“Fer…”

Sebuah suara bariton mengagetkan May. Serentak May dan Ferdy menoleh.

Randy, teman satu tim Ferdy yang paling gemuk  berteriak ke arah mereka. Tangannya melambai mengisyratkan Ferdy untuk segera kesana. Dengan setengah berlari Ferdi bergegas menghampiri. Beberapa detik kemudian kembali Ferdy menghampiri May dengan wajah bingung.

Maya ikut bingung. “Kenapa Fer?”.

“Hm…Maya, gimana kalau hari ini kita makan bareng anak – anak aja? Tuh, Pak Hadi mau traktir atas kemenangan hari ini.”

“Tapi…gw kan bukan anggota tim Fer…” sahut May nggak enak.

Terus terang, walaupun mereka semua cukup dekat dengannya, tetapi tetap saja ada perasaan tak enak di hati May. Apalagi mengingat hampir semua anggota tim yang sering ceplas – ceplos dan jail seperti Ferdy. Di jailin sama satu orang aja ngeselinnya minta ampun, nggak kebayang kan kalo sepuluh orang kayak dia?

“Dasar nih anak!” Ferdy mengacak – ngacak rambut May yang memang sudah agak berantakan dari tadi.” Ayo, kan sekolah kita yang menang, ayo..anak – anak juga mau lu ikut kok. Gw nggak tau deh maksud mereka apaan, dari tadi suit-suitin gw mulu.”

“Tapi gw nggak enak Fer..”

“Udah deh, ayo!”

Dari mimiknya May tahu Ferdy sebenarnya cukup cukup bingung. Tidak enak dengan teman – temannya, tapi juga tak enak dengan May.

“Iya deh.. tuan pemaksa!!” sahut May akhirnya, lengkap dengan ekspresi merenggutnya. Terus terang, May nggak enak menerima ajakan ini, tapi May sebenernya lebih nggak enak lagi sama Ferdy bila ajakan ini ia tolak.

Ferdy tersenyum melihat May yang bergegas kembali masuk ke mobil. Cerita Ferdy tentang betapa kerasnya usaha yang ia lakukan dalam pertandingan tadi segera mengalir diiringi lagu  dari kaset Siti Nurhaliza, penyanyi favorit May, yang sengaja ia bawa dan diputarnya slow di tape mobil.

…………………..

Di kafe tempat Ferdy Cs akan makan sudah ramai dengan anak – anak timnya ketika May dan Ferdy tiba. Kafe itu tampak begitu asri dengan pepohonan menghiasi kelilingnya dan beberapa tiang di dalamnya, menimbulkan kesan teduh dan menyejukkan. Di dalam ruangan, telah terhidang beraneka makanan dan minuman. Suara riuh anak – anak tim langsung menyambut kedatangan May dan Ferdy. Tak ketinggalan pak Hadi, guru olah raga, sekaligus pelatih baseball.

“Suit..! kapan nih Fer, May, traktirnya?” Ferdy baru duduk ketika Fandy meneriakinya.

“Traktir dong…” Indra, si pitcher, menimpali.

Makan mangga sama kedondong, kalo jadian traktir kita doooo..ng!” fari yang punya hobi mantun ikut – ikutan. Kontan aja langsung disambut gemuruh tawa dan suara huuuu… oleh seantero kafe.

Kening Ferdy berkerut, May tak mengerti.“Traktir apaan?”

“Udah May, jangan di layanin orang – orang kelaparan ini…tapi nggak punya uang, makanya minta traktir.. ha..ha..” Ferdy menimpali.

“Alah…Fer…jadian kok nggak bilang – bilang sih? May?” Indra kembali menyahuti.

Haah??? Reflek May melongo. Jadian? Siapa yang jadian?

May mengakui, kedekatannya dengan Ferdy memang sudah berbulan – bulan. Tapi, seingatnya.. Ferdy tak pernah menyatakan secara langsung perasaannya kepadanya, apalagi untuk jadian. May tak habis pikir dengan jalan pikiran teman – teman, jadi temennya aja ngeselin minta ampun, gimana jadi pacarnya? He…he…stress kali ye! Never deh!.

“Udah ah, jangan bikin gosip sembarangan! “ raut muka Ferdy berubah serius. Entahlah, mungkin ia marah, tebak May. Tapi yang namanya teman – teman, tampak tak peduli dengan raut muka Ferdy yang memerah. Semua larut dalam canda.

…………………..

Hidangan buah menjadi menu penutup acara makan dan obrolan itu. Satu persatu sosok – sosok yang masih terbalut seragam  bassball itu mulai membubarkan diri.  Semua bergegas pulang. Seperti biasa, Ferdy mengantar May pulang. Tak banyak percakapan setelah itu.  Di mobil Ferdy lebih banyak diam daripada biasanya. Masing – masing sibuk dengan pikirannya.

“May, maafin anak – anak tadi ya.. kalau kamu tersinggung.. mereka emang begitu, jangan dimasukin hati.”  Ucap Ferdy ketika sampai di asrama.

“Iya, gw tahu kok mereka nggak serius, tapi kok lu serius amat sih nanggapin mereka? biasa aja lagi..” May menatap  Ferdy yang terlihat salah tingkah menjawab pertanyaannya yang tak perlu dijawab itu. “Ah, nggak. Gw cabut dulu y..! sampai ketemu besok di sekolah.” .

“Ya udah, Hati – hati di jalan ya…? Awas kalau ngebut lho!”

“Iya, nona cerewet.. kalo dipikir – pikir kayaknya lu lebih cerewet dari nenek gw deh!”

“Terserah lu dah, udah sono pulang!”

“Yo’ah”

Ferdy mengangguk sebelum akhirnya tancap gas dan hilang di tikungan meninggalkan May yang mulai melangkah menuju pintu asrama. Langit terlihat cerah, tak berawan. Pasti tak akan hujan, pikir gadis itu.

Sesampai di asrama May langsung merebahkan tubuh di kasur empuknya. Tangannya segera meraih kaca kecil yang biasanya seringkali ia pakai untuk melihat jerawat lebih dekat (kayak lagunya Sherina aja.). May mulai mengamati satu persatu komponen yang menempel di wajahnya. Mulai dari hidung, mata, alis, kulit dan lain – lain, ga jelek – jelek amat emang.. tapi cukup untuk dibilang sederhana, setidaknya itulah kata yang tepat untuk penilaiannya untuk wajahnya.

Pikirannya melayang kembali ke Ferdy. Hatinya mulai bertanya, Apa bener ya, ia tak sebanding dengan Ferdy? Kata – kata Ferdy dan tatapan sinis di lapangan bassball tadi kembali melintas di kepalanya. Bermacam – macam pikiran berebut mendominasi kepalanya, bercampur dengan berbagai perasaan. May tak tahu mengapa cowok yang hobi bola itu mau berteman dengannya yang berwajah sederhana ini. May tak tahu kenapa cowok itu mau memperhatikannya, sementara di sekelilingnya berseliweran cewek – cewek cantik yang pasti tak akan menolaknya. Cewek? Oh ya, satulagi yang menjadi Tanya besar di kepala May, kenapa Ferdy belum juga punya pacar? Entahlah, setiap orang kan punya jalan hidup, pikir May mengakhiri Tanya besar di kepalanya sebelum akhirnya alam mimpi menjemput. Lelap.

……bersambung ke CSDH bagian dua………………….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s