CSDH- bagian empat

BENANG YANG PUTUS

“Dew, gw harus gimana? Ferdy …”  ucap May ketika lagi – lagi ia menghampiri Dewi setelah mengerjakan Pr-nya yang sempat menumpuk beberapa hari ini. Dewi sedang asyik ber-SMS ria. Langsung saja May menceritakan semua perasaannya pada Dewi.

“Lu telphon dia aja sih May.. gitu aja kok susah.” Jawab Dewi.

“SMS gw aja nggak di bales wi…”

“Samperin aja May..! “ Tina yang tengah asyik membersihkan wajahnya ikut menimpali, lalu kembali sibuk.

“Dia selalu menghindar Tin.”

Hm,…Dewi mengangkat bahu, lalu kembali berkutat dengan HP-nya. May jadi kesal. “Dew…! Lu dengerin gw nggak sih?”

“Iya nona…gw denger, trus…” Dewi memalingkan mukanya ke arah May, lalu kembali sibuk.

“Ya… gw…”

“May!!! Telpon May! “ teriakan Amy, teman se-asrama May di kamar paling ujung memutuskan pembicaraan May dengan Dewi.

May segera berlari ke ruang tamu asrama,. Ibu asrama memang sengaja meletakkannya di sana, katanya sih biar bisa langsung dipakai untuk setiap orang yang perlu. Ferdy, hanya dia yang akan menelponku. Pikir May. Tapi kenapa Ferdy menelpon ke asrama? Mengapa tidak menelpon ke handphon saja?.

“Ha.. halo….”

Ferdy? Tanpa sadar tetes airmata langsung mengaliri pipi May yang langsung buru – buru diusapnya. Entahlah, mungkin May terlalu takut… May terlalu takut untuk kehilangan untuk kehilangan seseorang yang baru disadarinya sangat berarti.

“Maya, lu nangis ya?” sapa Ferdy ketika May tak juga buka mulut.

May mengusap air matanya kembali. “Siapa yang nangis…” May nggak mau Ferdy tahu kalau ia menangis. Ia tak ingin Ferdy meledeknya habis – habisan kalau tahu itu. Nggak boleh!

“Kenapa lo nggak bales SMS gw? Kenapa nggak telphon gw? “

Hening. Ferdy ? please, tell me…

“Gw kecewa sama lu may…”

“Kecewa kenapa? “  May heran dan bingung. Kapan May membuat Ferdy kecewa?

“ Gosip itu…lu kan yang nyebarin?” kata – kata Ferdy seperti menuduh bagi May. Membuat May merasa terpuruk di dasar bumi yang paling dalam. May terperangah.

“Apa???  Lu nuduh gw Fer? Bukannya harusnya gw yang nanya?”

“Kok gitu? May, kalau bukan lu, trus siapa dong? Dari mana mereka tahu kalau gw jemput dan nganter lu tiap minggu untuk nonton bassball? Dari mana mereka tahu gw nelphon lu tiap malem? Dari mana mereka tahu SMS – SMS yang gw kirim ke elo selama ini? Cuma lu may…!”

May seakan tak percaya dengan pendengarannya. Apa??  Bukankah ia  yang harus bertanya kepada Ferdy?. Bukankah di hari menyebarnya gossip itu May sedang sakit? PLAK!! Seperti ada tangan tak terlihat menampar May. Panas.

“Fer, yang dijelek – jelekin gossip itu gw, kenapa lu malah nuduh gw? Piker dong Fer..” May merasakan suaranya mulai meninggi.

Ferdy diam.

“Fer…lu lebih percaya gossip – gossip itu dari pada gw? Siapa yang bilang ke elo kalau itu gw yang nyebarin? Suer! Fer, gw buka ember kayak yang lu bilang…” Air matanya yang tadi diusap kembali menetes lebih deras. Kali ini May benar – benar menangis. May kesal dengan tuduhan Ferdy, tapi saat itu juga May sadar, ia bukan orang yang suka mendebat. Bantahannya hanya akan membuat suasana lebih panas. May paling nggak mau suasana seperti itu terjadi.

“ Fer, gw bener bener nggak tahu siapa yang nyebarin gossip itu.. terserah lu mau percaya apa nggak.. boleh gw Tanya sesuatu sama lo?” Tanya May pelan – pelan.

Tak ada jawaban. “ Lu malu sama temen – temen kan kalau dikirain kita bener – bener pacaran, seperti gossip itu? lu malu karena gw nggak sebanding sama elo kan? Lu malu! Lu gengsi!! Iya kan?”

“ Gw nggak tahu, yang jelas gw kecewa banget sama lo…”

May terdiam. Bukankah ia yang harus kecewa? Kecewa dengan sikap Ferdy yang tak mempercayainya.. kecewa atas sikap Ferdy yang pengecut.. kecewa atas semua yang ia alami.. Semudah itukah menghilangkan kepercayaan terhadap seorang sahabat?

“Fer, tadinya gw anggap lu adalah sahabat terbaik yang pernah gw miliki, yang mengerti gw, tapi…ternyata lu nggak lebih dari pengecut yang lari dari kenyataan! Pengecut! tadinya gw menganggap lu adalah orang yang menerima gw apa adanya, dengan apapun yang dikatakan orang..”  air mata membuat May menghentikan bicaranya sebentar.

“Fer, gw keliru ya.. ternyata lu sanggup mengorbankan persahabatan kita demi gengsi lu. ternyata Lu malu karena gw nggak sebanding sama elo? Kenapa lu Cuma bisa nyalahin gw?”

“Gw nggak nyalahin lo”.

“Udah nggak usah boong, sikap lu nunjukin kayak gitu kok..”

“May, lu yang…” Ferdy tak jadi meneruskan ucapannya. Sebuah buku mungil yang tergenggam ditangannya membuat ia tak jadi membuka mulut

“Yang apa? Gw yang salah?”

Ferdy diam.

“Fer, Coba lu sendiri intropeksi, gimana sikap lu selama ini ke gw? Dan kenapa sampai ada gosip seperti itu? tiap minggu lu jemput gw, tiap hari lu jalan sama gw, tiap saat lu SMS gw, tiap malem lu telpon gw.. trus temen – temen tau.  Apa itu salah gw..? apa semua salah gw kalo temen – temen ngirain kita jadian karena ngeliat kita sering jalan berdua? Salah gw??!”

May benar – benar tak tahu harus bicara apa lagi. Gadis mungil itu tak sanggup bicara lagi. Cukup sudah. Hatinya hancur dan tercabik – cabik. May benar – benar menangis kali ini.

“ Sorry, May…gw hanya perlu menenangkan diri, jangan ganggu gw dulu.”

Clik!, terdengar telphon di seberang sana diletakkan. HAH!! May terperangah dengan telpon yang masih digenggamannya. It’s over? Ia melangkahkan kaki dengan lesu ke kamar. Tak dihiraukannya Dewi yang memburunya dengan pertanyaan. May segera  menutup pintu kamar. Hanya diarylah yang bisa menjadi teman berceritanya saat ini.

May segera mencari benda mungil berwarna pink yang biasanya di letakkannya di bawah bantal. Tapi dimana benda itu? apakah jatuh ke kolong tempat tidur? . Gadis itu segera menundukkan badan, melongok ke kolong tempat tidur. Nihil!. Tak puas sampai di situ, tangan gadis itu segera mengaduk laci meja, lalu berlanjut ke lemari, tapi tak juga diari itu ditemukannya. Di mana ? kenapa semua sekan meninggalkannya, termasuk diary itu?

Brukk!. Akhirnya gadis itu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Air mata kembali berlinang di pipinya. Menumpahkan segenap kekesalan dan penyesalan. Gerimis mulai berdenting di luar. Hujan.

…………bersambung ke CSDH bagian lima…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s