CSDH – bagian Lima

KUINGIN SEMUA KEMBALI

Hari – hari berikutnya terasa berlalu dengan sangat lambat bagi May. Ferdy. Sejak saat itu sosok seperti menghilang dannggak pernah menyapa dan menemui May lagi. Bahkan ketika mereka berpapasanpun, Ferdy akan langsung berbalik arah agar tak bertemu dengan May. Berkali – kali May mencoba menelpon ke  Handphon Ferdy, tapi nggak pernah diangkat, bahkan kadang – kadang  dimatikan. Hasilnya, May melewati Ujian dengan lesu, walaupun emang nilainya masih tetap bertahan di peringkat satu, sejak ia pindah ke sekolah ini. Hnadphon nggak direspon, May mencoba menelphon ke rumah Ferdy ataupun menemui cowok itu. Namun lagi – lagi.. aku perlu waktu, selalu begitu jawaban Ferdy. May hanya bisa bertanya, Perlu waktu? Sampai kapan? May  benar – benar tersiksa dengan keadaan ini…!

May sendiri mengakui hubungannya dengan Ferdy hanyalah sebatas sahabat karena Ferdy menmang nggak pernah menyatakan perasaan alias yang teman – temannya sebut jadian. Tapi, May juga nggak mungkir, kehadiran Ferdy telah membawa warna tersendiri dalam hidupnya, bagian dari jiwanya yang mungkin tak kan tergantikan oleh siapapun juga. Bagi May sahabat lebih dari segalanya. May menyukai Ferdy sebagai apapun juga, tak peduli hanya teman atau apa. May hanya ingin Ferdy kembali ke sisinya, walau tak sedekat dulu.. walaupun ia bukan lagi yang istimewa.. tapi setidaknya sebagai teman biasa…

Siang itu May kembali menghampiri Dewi ketika makan siang di kantin sekolah, berharap Dewi dapat membantunya kali ini..

“Dew, lu mau bantuin gw nggak? “

“Bantuin apa? Gw sih mau – mau aja…” jawab Dewi cuek, masih asyik dengan makanan di piringnya.

“Bantuin gw, gw Cuma mau persahabatan gw balik lagi sama Ferdy,  Cuma itu.. karena gw tau gw nggak akan bisa lebih dari itu..”

“Maya, kenapa nggak mungkin? lu suka kan sama Ferdy.. gw bisa lihat May rasa suka itu di mata lu. Jujur deh sama gw, ntar gw Bantu…”

“Dew, lu tahu sendiri kan? Gw sama dia beda jauh, dia favorit di sekolah ini, dia cakep, dia kaya, pinter, perfect! Gw ? Untuk jadi temen gw lagi aja susah, gw nggak berani berharap lebih Dew…” May mencoba menahan air mata yang sebentar lagi mungkin akan menetes di pipinya. Tapi, ia tak akan menangis dan menjadi perhatian banyak orang!.

“Lu…pinter, lucu, lumayan jago olahraga.. walaupun kalau volly service lu selalu melampaui garis belakang alias out, saking over powernya, kalo maen rugby cukup bisa diandalkan karena bolanya mati di lu terus,.. trus pinter maen bola, puisinya bagus…..” Ucap dewi cuek. Sikutan Tina yang duduk disampingnya membuat Dewi tak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Dew, gw serius…”. May kesel. Orang serius,  kok malah dibecandain.

“Ya udah, tenang aja…ntar gw kasih tau perkembangannya ke elo…”

“Bener?”

“Bener May..”

“Thank’s Dew…” May bergegas kembali ke kelas. Setelah ini adalah pelajaran Biologi favorit May. Jadi ia ingin membaca – baca dulu sebelum pak Naryo masuk nanti., May meninggalkan Dewi yang tersenyum penuh arti dan misterius di mata May.. tapi ia tak tahu entah apa artinya. Mendung terlihat lagi di langit di kota hujan.

………………………….

May mengamati pemandangan di depannya. Ia membayangkan, Seandainya sosok yang di tengah mengobrol  dengan Ferdy di taman sekolah itu adalah dirinya.. bukan Dewi. Setiap hari, sejak hari itu  May melihat Dewi selalu berbicara dengan Ferdy. Entah apa yang mereka obrolkan. Tapi biasanya Dewi bercerita kepada May pada malam harinya tentang obrolannya dengan Ferdy. Katanya sih, dia sedang berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Ferdy. May sendiri tak tahu kebenaran cerita Dewi dan tak banyak membantu. Tapi ia tak punya pilihan.

Tak lama setelah itu sikap Ferdy memang sedikit berubah terhadap May. Setidaknya ketika tidak Bersama teman – teman lainnya cowok maniak bola itu bersikap seperti Ferdy yang May kenal, walaupun jika Bersama teman – temannya Ferdy masih seperti Ferdy yang asing di mata May. Cuek dan dingin. Sebesar itu kah gengsinya?, piker May yang terkadang menurut May seperti dibuat – buat. Tapi, semua hanya seperti kilat saat May mendengar kabar yang sangat mengejutkannya. Perubahan itu jadi tak berarti lagi. May  mendapatkan arti senyum Dewi waktu itu.  Ferdy pacaran dengan… Dewi!!

May merasa kehilangan tempat berpijak. May sendiri tak pernah habis pikir, bagaimana mungkin sosok Dewi yang baik di matanya kini tega menyakiti sahabatnya sendiri? Dulu May sering curhat ke Dewi, tapi sekarang? Dewi Mempermainkannya? Inikah arti senyum Dewi waktu itu? Orang yang selama ini diharapkan May bisa menjalinkan benang yang hendak ia sambung, kini justru memotong habis benang itu? Sakit. Hanya kata itu yang terasa di hati May saat itu. Hm.. mungkin jika dengan ini persahabatan kami akan terjalin kembali, biarlah. Pikir May berusaha menghibur diri, walaupun tetap terasa perih di hati. Tergores luka.

…………bersambung ke CSDH bagian enam…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s