CSDH – bagian sebelas

JANGAN PERGI, CINTA..

Pak, Chandra, Papa May, masih dalam kondisi kritis dan sekarang dirawat di sebuah rumah sakit kecil di Lampung. May tahu hal itu dari Aldo yang langsung mengambil handpon dari tangannya ketika ia pingsan tadi. Aldo juga yang langsung berinisiatif memesan tiket pesawat ketika tahu apa yang terjadi. Untung masih ada penerbangan terakhir Jakarta – Bandar Lampung, jadi May langsung berangkat hari itu juga bersama Aldo yang memaksa ikut menemaninya.

Sesampai di bandara, May langsung menuju rumah sakit yang disebutkan mamanya, rumah sakit Advent. Mama langsung menyambutnya dan Aldo di depan kamar bercat putih itu. Raut muka wanita setengah baya itu juga tak kalah pucat dari May, seputih kapas. May langsung menghambur ke pelukan wanita itu.

“Ma, gimana keadaan papa ?”

“Mama, nggak tahu.. dokter masih di dalam. Kita do’akan aja ya, sayang..”. ucap wanita itu lemah.

May mengangguk.

“Mama udah telpon kakek sama nenek?”

“Udah, mungkin nanti malam baru kesini, karena pak Somad, yang biasa nganterin kakek juga lagi nganter anaknya ke dokter, kakek sama nenekmu itu kan udah tua, jadi udah nggak bisa jalan sendiri.”

Ayah dan Ibu papanya memang tinggal di kota ini. Tapi, keduanya sudah lanjut usia, jadi kemana – mana kalau berdua bisa nyasar.

May mengusut air matanya, lalu memperkenalkan Aldo yang dari tadi berdiri di sampingnya.

“Oh ya, ma.. ini Aldo, temen sekolah yang suka bantuin May di sana, yang jawab telpon mama, tau nih tadi dia maksa pengen ikut.”

“Oh ya, nak Aldo, makasih ya, sudah merepotkan.”

“Sama – sama tante, saya nggak ngerasa direpotin kok tante.” Jawab Aldo.

Suasana selanjutnya dihiasi dengan kebisuan. Aldo memutuskan untuk membeli makanan, karena ternyata mama May belum makan. Dokter masih hilir mudik dari kamar dimana papa May dirawat.

May membimbing mamanya untuk duduk di bangku yang berderet sepanjang ruangan itu. Dari mamanya May tahu kalau papa ingin berbaikan dengan Mamanya hari itu. Buktinya bunga dan ucapan yang tertulis nama mama di temukan di jok belakang bangku mobil itu. Dari cerita mamanya juga May tahu, papanya mengalami kecelakaan karena berusaha menghindari anak kecil yang bermain di pinggir jalan dan tiba – tiba berlari ke tengah jalan. Papanya yang tak siap dengan hal itu langsung membanting stir ke kanan. Untungnya di kanan tidak ada truk. Tapi gantinya mobil itu menabrak pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan itu. papanya luka parah.

“May, ternyata mama baru sadar, mama nggak bisa kehilangan papa.., ternyata apa yang kamu bilang waktu itu bener, pisah itu nggak gampang.. mama nggak sanggup..”.

“Ma…” May memandang mamanya dengan tatapan sedih.

“Iya.. mama seneng banget sikap papa yang biasanya cuek, sejak kemaren berubah, trus tadi pagi katanya mau pulang cepet.. tapi…”

“Sudahlah ma, mungkin semua ini ada hikmahnya. Kadang memang kita akan ngerasa sayang kalau kita udah kehilangan, papa juga mungkin punya perasaan yang sama kayak mama, kita do’a aja ya ma… biar papa selamat.”

Mama May mengangguk setuju.

“Dewasa ya anak mama sekarang ngomongnya, siapa sih yang ngajarin?”. Ujar wanita itu, mengacak- acak rambut May yang sudah berantakan.

May tersipu mendengar komentar mamanya. Waktu, waktu akan mengajari semuanya ma, jawabnya dalam hati. May berdoa dalam hati,  Ya Allah, selamatkan nyawa papa.. jangan ambil papa sekarang, disaat keluarganya akan bersatu.. di saat mama dan papa akan berbaikan.. disaat…

“Nyonya Chandrawibowo…” Panggilan dokter yang muncul dari ruang tempat papanya membuat May dan mamanya terlonjak. Anak dan ibu itu segera menghampiri Dokter Pras, dokter yang menangani pak Chandra, papa May.

“Ya, saya Nyonya Chandrawibowo dok, bagaimana keadaan suami saya dok?” Tanya  bu Chandra tak sabar. Raut mukanya menegang.

“Sudah lewat bu..”

“Maksud dokter?”. Potong bu Chandra cepat.

“Iya, sudah lewat masa krisisnya..”

Mama May mesem – mesem.

Dokter Pras tersenyum menyaksikan anak dan ibu itu. Bukan hanya sekali ia mengalami kejadian seperti ini. Dulu, bahkan pernah sampai ada ibu – ibu ngeraung – raung nangisnya, trus pas mau dijelasin sama dia tuh ibu malah nggak mau denger. Ya, udah akhirnya Dokter Pras menjelaskannya ketika ibu itu udah diam nangisnya. Karuan aja tuh ibu senyam – senyum. Malu ni ye?

“Ah, dokter bikin saya kaget aja..”.

“Abis ibu langsung motong kata – kata saya..”

“Makasih ya Dokter.” Ucap Maya.

“Eh, iya… makasih banyak.”. ucap Mama May tak ketinggalan.

“Sama–sama bu, Nona nanti kalau sudah dipindah silahkan temui .”

Dokter itu lalu meninggalkan May yang langsung memeluk mamanya. Dari kejauhan Aldo datang membawakan makanan untuk bertiga. May bengong ketika mamanya langsung nyambut Aldo dengan pelukan. Aldo lebih bengong. Tapi semua kembali ceria.  Semua mengucapkan Syukur kepada tuhan YME.

…………bersambung ke CSDH bagian dua belas…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s