CSDH – bagian sepuluh

SURPRISE…!!!

Hari masih pagi, tapi May sudah rapi, tidak seperti hari – hari libur hari besar biasanya yang dilewati May dengan tidur. Ada apakah gerangan? Ternyata tadi malam Aldo menelphon May dan mengatakan bahwo ia  akan datang ke kontrakannya, karena itu pagi – pagi sekali May bergegas membereskan buku – buku dan Koran yang berceceran di ruang tamu. Malu kan kalau berantakan?

“Tok! tok! tok !”.

May baru selesai membereskan kamar tidurnya setelah tadi membereskan ruang tamu, ketika terdengar suara ketukan di pintu depan. Pasti Aldo, Tebaknya. Tanpa curiga May segera membukakan pintu.

“ Happy birth day….!!!”

Nyanyian selamat ulang tahun segera menyambut May ketika pintu terbuka. Suasana di balik pintu membuatnya terkejut setengah mati! Bukannya apa-apa, May sendiri sebenarnya lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya!.

Lilin berbentuk angka tujuh belas bertengger di kue yang dipegang oleh Mia, teman sekelas Aldo. May masih ingat, dulu terakhir kali ia melihat lilin itu ketika mama membuat pesta untuknya waktu ia masih SMP kelas satu, ketika lilin itu masih berbentuk angka dua belas! sekarang? Kelas tiga!. Di barisan paling depan Aldo tersenyum dengan manisnya kepada May, dan ..teman – teman sekelas dan teman – temannya Aldo!   Surprise…!!

Denga percaya nggak percaya May menyuruh mereka masuk, lalu ia sendiri bergegas ke dapur. Aldo mengikutinya. Di tangannya ada bungkusan besar yang kalau ditimbang mungkin seberat badannya. May menebak isinya, dan…oh my God! Ternyata sampai makanan, kue, dan minumanpun ada!.

“May… maaf gw nggak ngasih tahu kamu dulu mengajak teman – teman kesini.” Ucapnya. Mata bening Aldo menatap May yang sedang menderetkan cangkir – cangkir yang sudah diisi minuman untuk minum teman – temannya yang menunggu di depan.

“Do, jangan bilang begitu, justru May berterima kasih banget karena udah ingat ultah may, udah baik sama May, dan udah jadi teman baik May, dan…”

“Stop deh! Udah nih anak – anak pada keburu keselek nunggu ni minuman.” Potong Aldo, lalu membawa minuman yang sudah disiapkan May ke ruang tamu. Hm, sama dengan Ferdy.. terkadang sering memuji diri sendiri, tapi tidak mau dipuji orang lain. Ferdy? Lama tadi May mencari bayangan cowok itu di antara teman – teman yang datang, tapi tetap tak menemukan bayangannya. Sedemikian inginkah Ferdy melupakannya? Sampai – sampai Ferdy tak ingat  ulang tahunnya ataukah pura – pura lupa?

“Ceilee… segitu seriusnya mandangin lantai..!! emang belom dipel ya non? “ Intan mengagetkan May.

“Ih, lu ngagetin aja.” Sahut May, berusaha menutupi jalan pikirannya.

“Lagian bengong, mikirin apa sih? Aldo tuh udah susah – susah bikin acara buat lu, eh..lu malah bengong, di dapur lagi!” Intan memotong blackforest – blackforest yang dibawanya. Ceritanya mengalir tanpa diminta May.

” Tau nggak, dia tuh keliling – keliling dari kemaren nyari toko kue, ngumpulin anak – anak, nyari segala macemnya…bla…bla… gw mah tinggal tahu beresnya aja. He…he…” Intan nyengir membayangkan Aldo yang kerepotan, sedangkan ia tinggal diam di mobil dan ber-AC sampai ketiduran! Tega banget kan Intan?

“Ya… gw makasih banget sama dia ntan…” ucap May.

“May, gw boleh nanya nggak?.”

“Lu masih mikirin Ferdy ya? Lu suka ya sama Ferdy?.” Todongnya begitu May persilahkan bertanya. (Kayak fanelis aja!).

Ya, aku menyukainya, sangat menyukainya! Cinta itu selalu di hati, tak pergi! Kata hati May.

“Gw nggak tahu ntan…” jawab May bingung. lagi – lagi hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkannya.

Intan menatap May dengan pandangan serius, seperti tak yakin dengan jawaban sobatnya itu. “Lha, itu tadi bengong mikirin siapa? Mikirin gw ya?”

“Ih, geeran lu sekarang!”

“Boleh dong.. May…kalau boleh gw kasih masukan nggak?”

“Ya boleh lah Ntan, lu kayak orang asing aja sama gw..”

“Maaf ya May, tapi gw pikir nggak ada gunanya lu mikirin orang – orang kayak Ferdy dan Dewi yang nggak punya perasaan kayak gitu… sorry, mungkin gw terlambat ngasih tahu elo soal Dewi, mungkin lu nggak tahu karena masih dibilang baru di sini..tapi…”

“Tapi apa ntan…?”. May menatap Intan nggak sabaran.

“Tapi… memang Dewi seperti itu.. gw juga pernah mengalami… dia pergi dengan orang yang dia jelas – jelas tahu gw suka…dan bahkan sudah jadian…” May merasa Intan berusaha berbicara dengan hati – hati.

“Fajar?”. Tebak May.

Intan mengangguk. Fajar adalah mantan pacar Intan waktu kelas satu, sedangkan May pindah ke sekolah ini kelas dua, yang setelahnya sempat menjadi pacarnya Dewi selama beberapa bulan. Intan memang tak pernah cerita soal ini kepada May. Cerita ini didengar May dari Amy, temannya waktu di asrama.

“Kenapa? Kenapa lu nggak ngasih tahu gw dari awal?”

“ Lu tahu komitmen kita waktu mulai berteman kan?  Gw…nggak mau merusak persahabatan lu. Dan Dewi.. gw kira Dewi sudah berubah, tapi ternyata tidak..maaf..” May melihat Intan menunduk. Ya, tentu saja May nggak akan pernah lupa dengan janji itu.

Intan adalah teman sebangku May, sekaligus teman satu kamarnya ketika beberapa bulan pertama May tinggal di asrama dulu ketika masih awal – awal ia masuk asrama. May sendiri nggak tau pasti alasan Intan  keluar dari asrama. Apakah sama dengan tindakan pengecutnya, ataukah ada hal lainnya. Intan nggak pernah ngejelasin apapun kepadanya. Demikian juga May, ia juga nggak mau maksa Intan untuk  memberitahunya. Hubungan mereka memang dekat. Tapi dalam persahabatan mereka juga, mereka memiliki suatu janji atau apalah namanya, yaitu nggak saling larang untuk bergaul dan dekat dengan siapapun, demikian juga sebaliknya.

May masih terdiam untuk beberapa saat, ketika Intan melanjutkan bicaranya.

“May, Aldo…baik sama elo dan gw yakin dia suka sama elo… lupain Ferdy May… apa sih yang nggak dilakukan Aldo untuk nyenengin lu? Gw nggak tahan ngeliat lu disakiti lagi May… pikirin baik – baik ucapan gw tadi May.” Intan mengakhiri  kalimatnya dengan meninggalkan May ke ruang tamu.

Sepeninggal Intan ke ruang tamu May termenung lagi. Kata – kata Intan terus melayang – layang di kepalanya. Intan benar. Aldo sangat baik dan perhatian padanya. Tapi..Ferdy? masih mungkinkah ia menaruh harapan Ferdy akan kembali kepadanya, walaupun sebatas teman? Apakah ia benar – benar menyukai Aldo? Bagaimana jika Aldo hanya pelariannya saja?. Sungguh, May nggak tega kalau harus melakukan itu.

Hari masih belum terlalu siang ketika surprise party yang dibuat Aldo selesai. Teman – teman yang tadi datang bergerombol sudah pulang semua, kecuali Aldo dan Intan yang masih sibuk membantu May membereskan piring – piring bekas kue di ruang tamu. Setelah mengantarkan Intan, Aldo mengajak May keluar. Entah kemana tujuannya.

“Kita mau kemana sih Do? “ Tanya May, ketika tak juga sampai di tempat yang dituju. May berharap Aldo mau menjawab rasa penasarannya yang semakin meluap. Tapi Aldo hanya tersenyum ke arah May yang semakin bingung.

“ Ada aja! Pokoknya surprise deh!” jawabnya enteng. Kalau sudah begitu jawabnya, biasanya May cuma bisa sabar dan diam.

Rasa penasaran May semakin menjadi – jadi ketika mobil Jaguard  hitam mengkilat keluaran terbaru itu akhirnya berhenti di sebuah rumah mungil Rumah itu tampak sepi. Halaman belakangnya dipagari dengan pagar berwarna biru. Sedangkan halaman depannya di tanami dengan beberapa jenis bunga.

Aldo mengetuk pintu tiga kali sebelum akhirnya muncul wajah oval perempuan setengah baya dari balik daun pintu. Pak Mimin, demikian Aldo memperkenalkan lelaki setengah baya itu pada May. Hanya berselang beberapa menit kemudian, seorang perempuan tak jauh berbeda umur dengan pak Mimin, yang akhirnya May tahu ternyata istri pak Mimin,  mengantarkan minuman.

Kata Aldo, mereka adalah orang yang ditugaskan papanya, yang akhirnya juga May tahu dari cerita Mbok Dina, adalah seorang pengusaha sukses di Jakarta, untuk mengurus perawatan rumah ini. Dulu waktu Aldo kecil, katanya kalau libur sekolah ayahnya suka mengajaknya ke sini. Tapi, sekarang tidak pernah.

May mengamati setiap sudut ruangan. Benar – benar rumah mungil yang menyejukkan, cocok sekali untuk istirahat, pikirnya. Lihat saja lantainya terbuat dari marmer yang di dalamnya seperti terdapat air yang beriak – riak kecil, Aneka ukiran terpajang di setiap sudutnya, dan beberapa meter dari kursi tamu terdapat air mancur dan taman kecil. Sungguh suasana yang menyejukkan !.

Belum hilang kekaguman May akan ruangan itu, Aldo mengajaknya ke halaman belakang yang tertutup rapat. May mengikuti Aldo dengan ragu dan takut sampai mereka berhenti di depan pintu yang menghubungkan rumah dan entah apa yang ada di dalam pagar itu. Tak ada siapa – siapa di sana.

“Sekarang, tutup matamu dulu.” Sahut Aldo sebelum membukakan pintu yang membuat May penasaran yang kini tepat di hadapannya.

Meski bertanya – Tanya, akhirnya May menuruti permintaan Aldo. Dirasakannya tangan hangat Aldo membimbingnya masuk ke pintu itu. Semerbak harum segera menyergap hidungnya. May mencoba mengenali wanginya. Terasa kakinya menginjak rumput. Setelah beberapa langkah, barulah Aldo menyuruh May membuka mata.

Dalam sekejap May merasa tersihir dengan pemandangan di depannya. Bola mata beningnya yang bulat tak berkedip menatap lautan bunga beraneka warna yang menghampar luas bak permadani. Warna – warninya memantul indah terkena sinar matahari yang berwarna terang, karena masih siang. Ketakjuban May atas apa yang dilihatnya semakin bertambah, ketika May dikejutkan oleh lompatan – lompatan kecil di antara bunga – bunga yang bermekaran. Kelinci kecil, hewan lucu yang sangat disukai May !!!

“Kamu suka May?”

“Suka banget Do, kok kamu tahu aku suka kelinci?”

“Ada aja! Ok, papa ngasih rumah ini buat aku, trus aku minta dibikin taman ini. Kalo kamu suka, kamu bebas main ke sini, kalau kamu butuh refreshing. Aku udah bilang kok ke pak Mimin dan mbok Dina.”

May memandang Aldo dengan tatapan penuh terima kasih.

“ Do, makasih banget atas pemandangan yang luar biasa ini…”

“ Sudahlah May, aku senang kalau kamu senang.”

“Do, boleh aku tahu kenapa ngelakuin semua ini?”.

“Sahabat.” Sahutnya pendek.

“Bener? “

“May… cuma alasan itu yang kupunya sekarang.”.

“Jujur?”

Aldo terdiam sesaat. Ada ragu yang sangat besar terpancar dari matanya. “Ok, tapi kamu jangan bingung, ntar nambah beban pikiran lagi..”.

“Nggak.”

“Bener?”

“Iya, suwer deh!”

“Hm… Aku akui.. aku suka kamu May. Sejak pertama kita kenal, trus deket.. “

“Tapi Do, aku…”

“Kamu apa May? “

“Aku kan nggak cantik, banyak cewek yang lebih cantik dari aku,  kamu nggak malu jalan sama aku?”

“Malu? Kenapa? Toh, kecantikan wajah nggak abadi, yang penting hati May.. kecantikan hati, makanya salah banget kalau ada cowok yang memilih cewek karena wajahnya yang cantik..”. Aldo 1, Maya 0.

“Iya, tapi Do…”

“Aku tahu May… lagipula saat ini aku nggak butuh jawaban sekarang. Aku juga tahu waktuku belum tepat. Mungkin kamu belum bisa ngelupain Ferdy. I’m waiting for you… kecuali… “

“Kecuali apa?”

“Kecuali Ferdy kembali dan kamu menerimanya.”

Deg!. Jantung May berdegup cepat. Aldo berlalu meninggalkan May yang masih terpaku. Bimbang langsung semerbak di hati May. May tak mengerti,  Terbuat dari apakah hati lelaki ini? Jadi selama ini dia tahu tentang ia dan Ferdy? Apakah ini sahabat yang ia cari ya Tuhan?  rela menunggunya walaupun tahu tentang Ferdy? Yang menerimanya sebagai apapun juga? Tentang lukanya di masa lalu? Pantaskah ia menolaknya?

Dering dengan nada Bukan Cinta biasa dari Handphon mungil di sakunya membuat May kembali tersadar dari pertanyaan – pertanyaan yang menyelimutinya. Perhatian May segera beralih ke benda mungil itu. Tulisan “Papa” tertera di layarnya. Papa?

“Halo… Pa, ada apa?”

“Bukan May, ini mama..” Bukan papa, tapi mama? Tapi kok mama pakai nomer papa?  Aneka prasangka   memenuhi otak May. Jangan – jangan…

“Lho, kok mama? Hanphon papa mama yang pake? Udah baikan nih ceritanya…”.

“May, kamu pulang sekarang ya, sayang?”

“Lho, ma, emang mau ngapain? Mau syukuran atas berbaikannya mama&papa atau mau ngurus perwalian May?”. May sedikit sinis. Takut.

“Bukan.. “

“Trus apa dong?”

“May…  “

May masih menunggu kelanjutan mama. Terdengar isakan kecil di sana. Mamanya menangis!. Ada apa sebenarnya? Apakah mereka benar – benar bercerai?

“Kenapa ma? Kok mama malah nangis?”

“May, papa kecelakaan…”

What?!. Dunia terasa gelap di mata May. Ia merasakan sebuah tangan kokoh menyambut tubuhnya yang terkulai. Gelap.

………bersambung  ke CSDH bagian sebelas…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s