CSDH – bagian tiga belas

PERTEMUAN KEMBALI

Empat tahun kemudian..

Setelah empat tahun tak bertemu dan menghilang dari kehidupan May, tiba – tiba Ferdy muncul kembali mengusik kehidupannya yang mulai tenang. Tadi pagi Ferdy menelphon May dan ingin bertemu !!. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati May. Bingung. Akankah ia menemui orang yang telah memporak – porandakan hatinya dan mengiris perasaannya waktu itu? apakah kali ini Ferdy kembali akan menyakitinya? Bagaimana jika Aldo tahu kalau May bertemu dengannya?  Pertanyaan itu yang sempat terlontar di benak May sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menemuinya dan menyebabkannya berada di mobil sedan silver ini.

“May, May….”

Hah? terlihat Ferdy kebingungan menatap May yang masih terdiam.

“Sudah sampai.” Ucapnya.

“Oh ya…” O…ia mengajak May makan di lesehan favorit mereka dulu rupanya. May bergegas turun dari mobil mengikuti Ferdy.

Ferdy mengenakan kemeja berwarna biru dengan celana dan sepatu hitam layaknya eksekutif muda yang baru pulang kerja. Rambut lurusnya yang dulu seringkali dicat atau dipotong sembarangan sudah tak terlihat lagi, berganti rambut yang tersisir rapi. Penampilannya tampak rapi dan dewasa sekarang.

Setelah memilih meja dan memesan menu makanan, Ferdy terdiam sejenak. Lalu…

“ Gimana kabar kamu may? “ Ferdy membuka suara.

“ Baik, aku baru lulus. Sambil menunggu melanjutkan S2  aku bekerja di sebuah surat kabar dan majalah, kamu?”

Ya, setelah lulus SMU May memutuskan untuk mengejar mimpinya menjadi penulis dan kuliah di sebuah universitas terkemuka di Jakarta. Awalnya sih orang tua May menentang, karena menurut papa dan mamanya terlalu khawatir, nanti May terlalu sibuk. Mungkin karena papanya pernah melihat langsung kerjaan Mas Tomy, sepupu May, jurnalis yang super sibuk itu. tapi akhirnya papanya luluh juga dan akhirnya malah bantuin meyakinkan mamanya.

“ Aku juga baik, sekarang aku mengurus perusahaan papa. Rencananya akan meneruskan S2 di Jerman.. kamu memang suka menulis sejak dulu, syukurlah kamu bisa mencapai impianmu. Aldo gimana ? “

“Aldo, baik – baik aja, selama dua tahun kami satu universitas,  sekarang dia sedang melanjutkan kuliah-nya di Amerika, pertukaran pelajar, lalu dia dapat beasiswa…” jawab May.

“O…kalau gitu, kalian masih pacaran?  Selamat ya May.. kapan kalian akan menikah?” Tanya Ferdy. Ada nada tak enak dalam nada bicaranya.

May menatapnya tajam.

“Ada apa May? “

May tak dapat lagi membendung perasaannya. Perasaan kesal sejak dulu dipendamnya tergali kembali. Terukir kembali di mata May kepahitan – kepahitan masa itu. Kepahitan yang dengan susah payah berhasil dikuburnya dalam – dalam. Dan kini.. orang yang memberikan kepahitan itu bertanya dengan nada tak bersalah kepadanya?  Kalau bukan di tempat umum, ingin rasanya May berteriak.

“Ada apa? Harusnya kamu sadar Fer, bukan aku yang mengingatkanmu…”

Ferdy terdiam. Lalu..

“May… maafkan aku, aku salah waktu itu.” Kalimat itu seperti memaku May agar tak bergerak. Ferdy meminta maaf kepadanya? Semudah itukah, setelah menyakitinya sedemikian rupa?

“ Kamu minta maaf Fer? Berapa harus kubayar penebus gengsi permintaan maafmu ini?” hanya nada – nada  sinis itulah yang keluar dari mulut May.

Ingatan May masih jelas, saat itu hampir tiap saat ia menangis menunggu permintaan maaf Ferdy untuknya. Tapi secuil kata maaf yang tak kunjung datang.

“ May, saya tahu berapa kalipun saya minta maaf tidak akan bisa menyembuhkan luka yang kubuat…kumohon…” Ferdy berusaha menyentuh tanganku yang langsung kutepis.

“ Fer, kemana maafmu itu saat aku menangis karena sikapmu setiap hari, pernahkah kamu merasakan sakitnya tak dipercayai sahabat sendiri? Di tuduh macem – macem? merasakan perihnya luka yang aku rasakan? Pernah nggak Fer?”

Ferdy menunduk, tak berani menatap Maya. Huh!

“Aku tahu Maya, mungkin aku terlambat.. tapi ini…” Ferdy menyodorkan seuah buku kecil berwarna pink kepada May. Diary? Bukankah itu diarinya yang dulu sempat menghilang? Kenapa ada di Ferdy?

“Apa itu?”. ucap May, meyakinkan penglihatan dan ingatannya.

May segera mengambil buku mungil itu, lalu perlahan dibukanya dan dibaca tulisan yang tertera di sana. Hanya selembar kertasnya yang berisi tulisan, sedangkan halaman sebelumnya seperti dirobek. Tapi.. Hah! Tulisan di kertas itu membuat May terbelalak. Semua menunjukkan seolah – olah ia menulis di buku hariannya dan menjelaskan semua gossip itu adalah perbuatannya, lalu tentang ia mendekati Ferdy dengan maksud yang nggak bener, tentang ia sebenarnya tidak menyukai Ferdy.. tentang.. ah, terlalu banyak untuk disebutkan. Tulisannya memang seperti disengaja mirip dengan tulisannya, tapi.. tunggu, kalau menulis buku harian, ia kan nggak pernah ber – elu-gw.. hei!

“ Ini memang diariku yang hilang, tapi tulisan ini.. it’s  not mine.” Ucap May.

“Aku sudah tahu..”

“Lalu?”. May terperangah. Kalau sudah tahu, lantas?

“May, Dewi memberikan buku itu kepadaku, waktu gossip itu beredar.. “

“Kenapa tidak Tanya kepadaku?”

“Maafkan aku May, aku terlalu kesal, aku sudah terlanjur membencimu waktu itu..”

“Dan..aku baru menyadarinya ketika tak sengaja kubaca buku harian Dewi tiga tahun yang lalu, aku baru tahu Dewi menyebarkan gosip itu dan memanfaatkan sifat dan gengsiku yang begitu besar.. ia hanya dendam padamu.. menyampaikan berita-berita bohong kepadaku, ia bilang kamu jadian sama Andri.. sehingga aku begitu membencimu waktu itu.. lalu setelah itu ada Aldo, Aku tambah benci,  terlebih ketika kamu benar – benar menerima Aldo..  setelah tahu hal itu aku terus berusaha menghubungimu, tapi ternyata kamu sudah ganti nomer handphon..”

“Jangan mencari kambing hitam Fer.” Potong May cepat. May tak ingin terbawa suasana. Sejak SMA dulu ia memang paling tidak suka seseorang yang memang sudah salah di matanya, lalu menyalahkan orang lain atas kesalahannya. Kesal bukanlah alasan yang cukup bagi May. Waktu  itu ia juga kesal karena Ferdy menuduhnya yang bukan – bukan, tapi toh ia tetap berusaha menghubungi Ferdy.

“ Maya…aku…aku…” Ferdy terlihat  berusaha mengatakan sesuatu.

“Kalau sekiranya waktu itu aku lebih cepat menemukan diary itu, akan kuteriakkan di depan satu sekolahan… akan kukatakan bahwa…aku…memang benar – benar menyukaimu .. “

May terdiam mendengar pernyataan Ferdy. Benarkah? Benarkah Ferdy menyukainya? Tidak, Itu tak mungkin!, tepis May. Pernyataan Ferdy benar – benar membuatnya tak mengerti. Semudah itukah membalikkan suasana? Waktu tak akan kembali Fer..!! Dulu aja, gengsi digedein!

“ Aku tahu aku terlambat, maafku tak bisa membuat waktu kembali… “

“Ya, itu yang dulu aku andai – andaikan, seandainya waktu dapat kembali, seandainya aku bisa memutar waktu dan seandai – andai-nya yang lain! sekarang kamu mengerti arti berlalunya waktu kan?”

“May, aku tahu aku tak pantas dimaafkan.. dan aku tahu Aldo lebih baik….”

“ Stop! Ya, Aldo jauh lebih baik.. bahkan terlalu baik! Kamu ingin tahu kan hubunganku dengan Aldo? Ia rela mengorbankan perasaannya biar aku dan kamu berbaikan lagi, ia rela mengorbankan kebahagiaannya demi…” aku tak dapat melanjutkan ucapanku. Aku takut menangis. Tidak! Aku tak akan menangis lagi demi lelaki ini!

“Oh ya, mengenai pernikahan kami, tenang aja. Kami pasti akan mengundangmu.”

“Tentu Fer.“ sebuah suara bariton dari samping May membuat keduanya terlonjak. May lebih kaget lagi ketika melihat wajah pemilik suara itu. Aldo? Bukankah masih dua minggu lagi ia pulang dari Jerman? Kenapa dia ada di sini?

Aldo langsung duduk di antara May dan Ferdy, setelah sebelumnya menyalami Ferdy yang tampak salah tingkah.

“Do, kamu… kapan kamu pulang? Kenapa nggak ngasih tahu aku?”

“May, tadi aku langsung ke rumah, tapi Mbok Dina bilang kamu lagi di sini, katanya ada temen lamanya . oh ya, Fer, apa kabar?.”

“Baik, Do.” Jawab Ferdy.

“Trus tadi papa dan mama telpon, katanya mereka akan ke sini dua hari lagi.” Maksud Aldo adalah papa dan mama May.

Setelah lulus, May memang memutuskan menerima tawaran papa Aldo untuk tinggal bersama Mbok Dina di rumah taman itu, dan hanya pulang sebulan sekali ke rumah. Tapi ada yang berubah dengan orang tua May. Sekarang mereka lebih terbuka dan lebih rutin mengunjungi May sama sepertinya di sini setelah kecelakaan papanya waktu itu, jadi mereka selalu bertemu dua minggu sekali. Dan itu artinya juga papa dan mama May tidak jadi bercerai. J

” Trus.. “ Aldo melanjutkan.” Oh ya, kamu udah mengurus paspor dan berkas – berkas keberangkatan ke Amerika kan?”

May mengangguk.  Terlihat wajah Ferdy berubah terkejut. Tapi cepat – cepat ia menguasai keterkejutannya kembali.

“Oh ya, aku ke belakang dulu, kalian ngobrol aja dulu..” sahut Aldo, lalu meninggalkan May dan Ferdy.

“Oh ya, Fer, aku belum ngasih tahu kamu kalo aku dapet beasiswa dan akan melanjutkan S2-ku itu di Jerman, aku akan berangkat  bersama Aldo, mungkin setelah itu kami akan menikah.” Jelas May membaca pertanyaan di kepala Ferdy. Ferdy terlihat berfikir keras, sebelum akhirnya bangkit. Tangannya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“ May, aku tak tahu dengan apa aku bisa menebus kesalahanku. Tapi.. aku mohon kamu mau menyimpan ini.” Ferdy mengangsurkan sebuah buku kecil kepada May. May tahu itu adalah paspor dan berkas keberangkatan ke luar negeri. May menerimanya dengan bingung.

May ragu. tapi tangannya telah terulur, bergetar menerimanya.

“Tadinya aku.. ah, sudahlah.. kumohon kamu mau menyimpan itu sekedar untuk kenang – kenangan. Terima kasih atas waktumu.” Ferdy berlalu meninggalkan May.

Ferdy meninggalkan kafe itu dengan perasaan hancur. ia langsung menuju mobilnya. Ia tak tahu akan menyalahkan siapa. Mungkin hanya dirinya yang patut disalahkan. Seandainya dulu ia tidak malu mengakui perasaannya terhadap May, mungkin gadis itu tak akan terluka. Ya, semua salahnya, salah karena ia gengsi. Wajah gadis itu memang tak secantik cewek – cewek yang mengejarnya, tapi, sikap dan sifat May telah tertanam di hatinya sejak pertama ia mengenal gadis itu. cerdas, baik, sabar, sedikit tomboy, dan sederhana. Sekarang tak ada lagi yang bisa diharapkannya. Luka yang ia buat itu pasti masih membekas. Ia menghidupkan mobilnya dengan lemas. Bayangan May dan Aldo melintas di depannya.

………bersambung ke bagian tiga belas………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s