CSDH – bagian tujuh

PEMBALASAN

Ujian semester telah berlalu dengan sangat cepat. Tak banyak acara yang akan  diikuti May selama liburan ini. Semangatnya yang dulu menggebu kalau liburan tiba kini luntur sudah. Hiking ke gunung Galunggung yang sudah sejak lama ia rencanakan bersama Ferdy dan teman – teman Pencinta Alamnya yang berjumlah sepuluh orang dan seharusnya menyenangkan berlalu begitu saja. Hiking adalah salah satu kegiatan yang seharusnya membuat hati merasa tenang, nyaman, dan itu adalah hobbi utama May selain menulis dan membaca buku fiksi. Tapi ternyata terasa sangat membosankan. Suasana tenang alam galunggung justru menambah irisan rasa sepinya, walaupun Ina, Miko, Echa, dan teman – teman lainnya berusaha membuat May tertawa dengan berbagai lelucon mereka.

Ferdy memilih tidak ikut, dengan alasan neneknya sakit. Entahlah, May hanya bisa berprasangka baik. Hanya nilai rapornya yang naik drastis dan tetap menduduki peringkat pertama yang membuat May sedikit gembira. Mungkin karena sekarang May lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dengan hanya membaca buku, makanya tak heran koleksi buku – bukunya meningkat drastis. Mulai dari buku pelajaran, pengetahuan  umum, ilmiah, sampai buku komik tak ketinggalan menghiasi rak bukuku yang semakin padat. Entah hobi membaca May yang semakin menggila ataukah karena ia berusaha melupakan apa yang terjadi. Satu hal lagi yang mampu membuat senyumnya mengembang, nilainya ternyata jauh melampaui nilai Dewi!

……………….

Hari berganti, bulan berlalu, hingga tiba hari ini. Seperti tahun sebelumnya, Hari ini adalah pembagian kelas. Eh iya, Sekarang May sudah kelas tiga lho..!. Sejak semalam May merenung. rencananya hari ini May telah bertekad untuk melupakan semua yang terjadi selama satu tahun ini. May akan menyambut hari baru. Jadi, pagi – pagi sekali ia sudah siap – siap untuk berangkat kesekolah dengan cerianya untuk melihat pengumuman pembagian kelas.

Tapi tampaknya senyum mengembang di wajah gadis berdarah Jawa – Sumatera itu tak bertahan lama dan hilang ketika melihat papan pengumuman. Gimana nggak? Nama May dan Ferdy jelas – jelas tercantum di papan pengumuman itu sebagai teman sekelas! Udah gitu, nggak lupa nama.. Dewi!!

Lengkap deh penderitaan, desis May. Hari – hari seperti di neraka yang dibayangkan ia ternyata benar – benar terjadi. Jangankan berbaikan dengan Ferdy, hubungan May  dengan Dewi juga ikut memburuk. Entah mengapa, sikap Dewi berubah sinis terhadap May. Sering sekali May menangkap tatapan sinis Dewi memandangnya.

Hingga suatu hari, arti tatapan yang menjadi tanda Tanya di kepala May itu terjawab. Saat Dewi melambaikan tangan dan menghampiri May dari jauh  ketika ia hendak menutup pintu pagar asrama. May membalas lambaian Dewi Seperti halnya nggak terjadi apa – apa dan menyambut kedatangan gadis tinggi semampai itu dengan senyum. Namun, senyum May berangsur pudar, ketika Dewi semakin mendekat dan terlihat pancaran kemarahan di matanya. May segera menyadari ada yang tak beres. May menyapanya lebih dulu.

“Hi, Dew…ada apa? Tumben? “

“May, gw rasa lu nggak tulalit selama ini dan lu pasti tahu kan kalau sekarang Ferdy adalah pacar gw?” suara Dewi seperti menghardik di telinga May.

“Jadi, lu jangan coba – coba hubungin dia lagi, apalagi coba – coba deketin dia lagi.. lu sengaja kan deketin dia lagi? karena Ferdy bilang ke gw kalau persahabatan lu berdua sudah berakhir!! “

“Dew, kemarin gw Cuma kebetulan sekelompok pratikum aja.. itu kan guru yang membagi kelompoknya, bukan gw..” ya, May sendiri juga cukup kaget ketika guru biologi mengumumkan hal itu. May  sekelompok dengan Ferdy, apakah semua adalah salahnya?

“Alaaah! Terserah, gw ga mau tahu lu sengaja atau nggak. Pokoknya lu harus jauh dari dia. ok anak manis?!”. Ucap Dewi sinis. Mukanya memerah.

“ Tapi, boleh gw nanya kenapa lu melakukan semua ini ?”.

“Andri.” Ucap Dewi pendek, lalu meninggalkan May yang masih terpaku di depan pintu asrama dengan tatapan sinis. Mata May terasa panas. Ya Allah, Hanya segitukah kuatnya tali persahabatan yang selama ini kurajut? Setelah kehilangan Ferdy, kini aku harus kehilangan lagi seorang yang selama ini aku anggap sahabat?, desis May  lirih. Dan…Andri? Pikiran May langsung mengembara ke peristiwa beberapa waktu yang lalu..

Andri adalah senior SMP May, yang ia perkenalkan kepada Dewi,  yang kebetulan bertemu dengan mereka saat mereka sedang di toko buku   beberapa bulan lalu, saat May baru seminggu pindah ke asrama ini. Saat itu May belum begitu dekat dengan Ferdy, jadi ia masih bisa santai ke toko buku, belanja, atau jalan – jalan tanpa ada yang mengusili. He.. he..

Sejak saat itu, Dewi sering menanyakan segala hal tentang Andri. Beberapa kali andri mengajak May berdua keluar, dan May selalu mengajak Dewi, entah sekedar makan malam, ataupun nonton film. Dari curhat dan obrolannya dengannya May tahu, Dewi menyukai Andri. Dugaan May bertambah kuat ketika tak lama kemudian, Dewi menghampirinya dengan wajah memerah. Dewi tersipu begitu May menanyakan sebab – musababnya..

“May… hari ini Andri ngajak gw jalan, lu diajak nggak? Ikut yuk!” binar memancar dari wajah ovalnya.

“Duh, sorry Wi…”

“Lho, bukannya lu nggak ada acara sore ini?”

“Tadinya sih iya.. “

“Trus?”

“Trus, tadi gw dibilangin Ferdy, lu tau kan orang yang sering ngisengin gw itu, ternyata dia kan koor acara,  Gw disuruh Bantuin sore ini, mau nyiapin acara festival seni.. kan besok gw juga harus baca puisi”

“Oh ya? Waah, gw baru tahu lu jago puisi May.”

“Nggak juga, tapi kalau nggak ada acara gw juga nggak mau ikut sih Wi…” May sengaja menggantungkan kalimatnya.

“Kenapa?“

“Karena gw nggak mau ganggu acara lu.. mungkin Andri mau ngomongin masalah pribadi sama lu, atau….” Kembali gadis usil itu menggantungkan kalimat. Hm.. kaya’nya baru beberapa kali ketemu Ferdy, May udah ketularan nih jailnya Ferdy!

“Atau?”

Dewi semakin penasaran.

“Atau….nge-date!” sahut May cepat, lalu berlari meninggalkan Dewi sebelum cubitan maut Dewi yang tak kalah dengannya itu mampir di tangannya.

“Good luck Wi…..!!” teriak May sebelum menghilang di belokan menuju asrama. Dari  jauh masih masih terlihat wajah Dewi yang berseri. May ikut tersenyum senang melihat sikap sahabatnya itu.

…………………

Sore itu setelah menyelesaikan persiapan terakhir Festival Seni dan termasuk latihan puisi yang akan ia bacakan besok, May-pun pamit kembali ke asrama untuk istirahat. Baru saja May membuka pintu kamar, ia dikejutkan oleh Dewi telah duduk di sana. Sepertinya ia  menunggu May. Air mata menetes di pipi gadis itu. Dengan tidak mengerti May segera menghampiri Dewi yang langsung memeluknya. May membiarkan Dewi menghabiskan tangisnya, seperti halnya yang dulu sering dilakukan mama kepadanya kalau ia menangis atau ada masalah. Setelah menuntaskan tangisnya, Dewi mulai membuka suara…

“May…Andri…” ucapnya masih diselingi sesegukan tangisnya.

“Kenapa Dew? Andri nyakitin elo? “ Tanya May.

“Maya…lu tahu kan kalau gw suka sama andri? Tapi….” Kembali air mata menetes di pipinya.

“Tapi apa Dew? Andri nolak lu? Atau dia suka orang lain?” May mencoba menebak apa yang ada di pikiran Dewi. Dewi menggeleng untuk pertanyaan May yang pertama dan mengangguk untuk menjawab pertanyaannya yang ke dua.

“Siapa? Siapa yang dia sukai? Gw akan Bantu elo dan…” May kembali menanyai sosok Dewi yang kini semakin menunduk di hadapannya.

“ Lu. ” Ucap Dewi begitu pendek, namun membuat May terkejut setengah mati. Ada yang disukai Andri sih mungkin dapat ia terima, tapi kalau…

“Aku wi? Andri suka sama aku? Nggak salah?”

Dewi menggeleng. May tak habis pikir. Tubuh May tak setinggi Dewi, malah kata  teman – temannya Maya termasuk mungil. Trus wajahnya juga tak secantik Dewi yang blasteran Belanda. Maklum, ibunya memang betawi, tapi ayahnya masih ada darah Belanda. Otak Dewi juga tak kalah dari May. Tapi, Andri lebih menyukainya yang berwajah sederhana ini?  Apa yang kurang dari Dewi? Yang ada juga berbagai kekurangan ada padanya. It’s  impossible !

“Dew, itu nggak mungkin.. lu tahu kan gw sama Andri itu Cuma temen biasa, dia Cuma gw anggap sebatas senior gw waktu SMP dulu Dew…” ucap May berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya. Lagipula,  bagaimana mungkin ia menyukai orang yang jelas – jelas disukai sahabatnya sendiri?

“Tapi May.. tadi dia bilang sendiri ke gw, dia suka elo…”

“Sudahlah Dew… kan sudah gw bilang kalau gw nggak suka sama dia. Ok?” jawab May meyakinkan Dewi yang tampak menyusut air matanya.

Beberapa hari setelah sore itu, apa yang dikatakan Dewi dan ditakutkan May benar – benar terjadi. Andri benar – benar menyatakan perasaan suka pada May. Tentu saja May langsung menolaknya dengan tegas, karena May memang menganggapnya sebagai teman biasa dan satu lagi… May tak ingin kehilangan sahabatnya, May tak ingin Dewi membencinya. Tapi, mengapa Dewi masih saja sakit hati pada May setelah apa yang ia lakukan untuknya? Apakah salah May, jika seseorang menyukainya? Dan sekarang… Dewi membalas dengan menjauhkan Ferdy darinya? Bukankah selama ini mereka sudah melupakan masalah Andri? Bahkan atas bantuan May akhirnya Andri menjadi pacar Dewi, walaupun memang tak lama?

Sejak pertemuannya hari itu dengan Dewi, May merasa setiap detik, setiap menit, setiap saat, Ferdy dan Dewi terlihat seperti memanas- manasinya dengan dengan bersikap nggak wajar di depannya, atau bahkan terkadang bertukar bangku dengan Heri yang duduk di sebelah Ferdy, atau dengan sengaja bermesraan di depan May… entahlah, May seperti tak percaya dengan apa yang ia alami. Tapi itulah  kenyataannya. Mendung masih menyelimuti kota hujan itu.

………bersambung ke CSDH bagian delapan ……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s