SMS bagian 11

CINTA DAN PENGORBANAN

“Nani?! papa sudah menetapkan pernikahan Shin?” Tanya Shin terkejut mendengar penuturan papanya. Tanpa sepengetahuan Shin, orang tuanya sudah membicarakannya dengan orang tua…Yumi!! Tentang perjodohan itu.

“Ya. Why? Tak ada alasan untuk menolak bukan? So-nano?”

Pertanyaan papanya membuat dada Sin terasa sesak. Ia  menarik napas panjang. Shin terdiam. Sungguh ini adalah suatu yang sulit baginya, bagaimana mungkin ia akan menikahi wanita yang berbeda akidah dengannya, Walaupun itu memang diperbolehkan agama menurut pendapat sebagian ulama? Tapi, bagaimana dengan keluarganya nanti? anak – anak mereka nanti? Dan kalau ia menikah, berarti sama saja dengan membongkar semuanya? Karena Shin tak akan mungkin melakukan pernikahan dengan cara selain islam.  Shin harus menolak hal ini. Tapi, bagaimana ia harus mengatakan penolakan ini?

I m so sorry papa,  I m not agree about this idea.” Ucap Shin dengan hati – hati. Lelaki itu tampak terkejut mendengar jawaban Shin. Tapi akhirnya cepat – cepat menguasai situasi.

“Nani?! Nani itten-no? Jodan daro? ”. ujarnya, seakan mengira  Shin main – main dengan ucapannya yang tadi.

“Pa, Shin serius..” Shin tertunduk, tak berani menatap Wajah papanya yang biasa terlihat tenang dan bijaksana mulai terlihat memerah menahan marah mendengar jawabannya.

“Kamu tahu apa artinya itu? kamu telah mencoreng muka papa Shin, kamu sudah menghina papa!.”

“Maafkan Shin pa, Shin tidak bermaksud mempermalukan keluarga kita, Shin dan Yumi Cuma teman pa.. she is my bestfriend”

“Kalau bukan mempermalukan, lalu apa namanya? Menghancurkan? Yumi itu anak orang terpandang, dari keluarga baik – baik, pintar, cantik, apalagi yang kurang darinya?, tidak seperti perempuan yang bernama Reina yang kampungan dan tega menyakiti kamu itu! keluarga kita akan jadi keluarga yang paling kaya raya kalau perusahaan kita dan Yumi bersatu! Haah? Nande dame-nano? Hah?!”

Shin diam.

“Lalu apa yang kurang dari Yumi? Papa lihat kalian pasangan yang serasi sekali.” Wajah lelaki separuh baya itu tampak tak mengerti dengan pikiran anaknya.

Demo…”

“Stop, chotto kiite.. kalau kamu tolak perjodohan ini papa dan mama..  Malu!”.

Selama ini Shin mengenal papanya sebagai orang yang mau mengerti dan tidak pernah memaksakan kehendak kepada orang lain. Mungkin tak ada gunanya lagi menutupi semuanya. Ia tak akan bisa menghentikan perjodohan ini dengan berbagai alasan apapun, kecuali mungkin dengan alasan yang satu itu. Shin mencoba menguatkan hatinya. Berharap papanya akan mengerti.

“Pa,  bukan karena apa-apa Shin menolak perjodohan itu, tapi..Shin sekarang.. muslim”. Perkataan Shin seperti geledek yang meruntuhkan langit – langit rumah itu. tiba – tiba papanya gemetaran. Wajah Shin langsung memucat. Jangan – jangan sakit jantung papa.. ya Allah!. Shin segera  menangkap tubuh yang lunglai itu.

“Ina…! Ani..!” teriak Shin memanggil dua wanita beradik kakak, TKW asal Indonesia yang dikerjakan mamanya sebagai khodimat di rumah itu. Dua gadis yang masih muda yang sedikit mirip satu sama lain segera menghampiri Shin. Dengan dibantu kedua gadis itu, Shin segera mengangkat tubuh papanya ke tempat tidur. Shin segera menelpon dokter Akira, dokter pribadi papanya, lalu menelpon.. mamanya yang sedang ke pesta relasinya.

….…………..

Nyonya Mayuko tak dapat lagi menahan amarahnya ketika tadi ponselnya berdering dan Shin mengabarkan bahwa penyakit jantung papanya kambuh. Dengan segera ia meninggalkan pesta itu dan melajukan BMW silvernya dengan kecepatan penuh. Otaknya dipenuhi bebagai macam pikiran. Bukan, bukan tentang suaminya. Tapi, Shin. Pasti anak kurang ajar itulah yang menjadi penyebab semua ini! Pasti.

“PLAK! PLAK! “ pipi Shin terasa panas. Tanpa basa – basi Nyonya Mayuko langsung menampar pipi Shin. Dugaannya di perjalanan tadi ternyata benar. Kemarahan yang terpancar di matanya melebihi ketika ia menyuruh Shin pulang, waktu di Jakarta dulu.

“Dasar anak durhaka! Pergi kamu dari rumah ini sekarang juga!.” Kata – kata mamanya terasa seperti jarum yang menusuk di hati Shin. Shin tak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Papa yang dikiranya cukup mengerti dan toleransi, tapi justru menjadi orang yang paling tidak bisa menerima keislamannya. Dan sekarang, mama..

“Ma, I m so sorry..forgive me”.

Don’t call me mama, I m not your mother!”.

“Nyonya, maafkanlah tuan muda.” Ani berusaha membantu Shin.

“Kamu jangan ikut campur, atau kamu akan saya pecat, mau? Hitori-ni shite!!” Ina dan Ani mengkerut. Shin memberi isyarat agar kedua gadis itu segera mundur. Shin tak ingin karena dirinya orang lain yang menanggung akibatnya. Apalagi kedua gadis kembar kakak beradik yang lemah ini, yang terpaksa  bekerja menjadi TKI demi menghidupi keluarganya.

“Pergi!!” suara keras mamanya membuat Shin sadar akan kondisinya kembali. Ia segera melangkah ke kamarnya, mengambil beberapa pasang baju, lalu memasukkannya ke tasnya. Sebelum keluar kamar, Shin segera meletakkan  sebuah Alquran terjemahan yang dulu didapatnya dari Indra di antara deretan buku – bukunya.

Malam itu juga Shin dengan langkah terpaksa harus meninggalkan rumahnya. Diiringin tatapan iba Ina dan Ani ia melangkah.

“Ya Allah, inikah ujian yang kau berikan pada hamba? Kalau sekiranya ini adalah ujianmu, kuatkanlah hatiku, tapi sekiranya ini adalah karena kesalahanku, maafkanlah, ampunilah..”, desis Shin pelan di sela langkahnya yang semakin menjauh.

Shin meninggalkan rumah malam itu juga dengan membawa sejuta harapan dan sejuta luka di hatinya. Shin membawa harapannya, harap akan kesembuhan papanya, pintu rumah itu akan kembali terbuka untuknya suatu saat nanti, dan semoga Allah membukakan hati kedua orang tuanya. Amin.

………bersambung ke bagian 12, semoga besok udah bisa dilanjutan lagi ya,thq……….

One response to “SMS bagian 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s