SMS bagian 8

LAYU SEBELUM BERKEMBANG

Indra dan Shin segera tanggap dan cepat membaca situasi. Dengan  sikap sopan dan penuh hormat keduanya langsung menghampiri Nyonya mariko..

“Tante? Kapan datang?”. Sapa Indra ramah.

“Mama? Kenapa nggak kasih tahu Shin kalau mau datang? Kan bisa dijemput di bandara.”

Shin dan Indra segera menyalami dan membawakan barang wanita setengah baya itu. Tapi diluar dugaan, wanita setengah baya itu langsung  menampik tangan Indra dengan cepat. Indra terperanjat. Terlebih lagi Shin. Sedangkan Reina, Rani dan ibu Indra lagi – lagi Cuma menahan napas. Tampaknya mereka telah memahami apa yang sedang terjadi.

Go home, Shin!”

Shin memandang wanita itu dengan perasaan tak mengerti, “ Why? Shin ingin tinggal di sini untuk beberapa hari lagi”.”

“Come with me! Now!”

“Tapi kenapa, ma? Apa karena Shin ingin belajar Islam?”

Gatagata itten-ja neyo! Pokoknya kita pulang sekarang juga!.”

“Kenapa ma? Where is papa?” Shin bertanya sekali lagi.

Don’t ask anything. Kamu lebih memilih anak perusak ini atau mamamu ini? Seharusnya mama larang kamu pergi kesini lagi..” Nyonya Mayuko menunjuk ke arah Indra dengan panjangan tak suka. Indra hanya beristighfar dalam hati.

“Ma.. Indra bukan perusak, dulu mama kan kenal baik dengan Indra, Shin hanya…”

“Cukup, ambil barang – barangmu atau mamamu ini nggak akan mengakuimu lagi sebagai anak!”

Shin terperangah mendengar ucapan mamanya. Mamanya  memang sedikit keras, tapi tak pernah sekeras ini kalau membentak, apalagi sampai mengancam. Nanka atta-no?

Shin memandang Indra dan mamanya bergantian. Mata wanita itu semakin merah. Shin beralih memandang Indra. Indra membalas pandangannya dengan anggukan sebagai  isyarat agar Shin mengikuti ibunya. Shin segera mengambil tasnya  ysng dititipkan di kamar Indra, eh kamar pengantin tadi, lalu pamit.

“Maaf, sebenarnya aku masih ingin sekali tinggal di sini..”

Shitteru.”

“Tapi..sekali lagi aku harus pergi Ndra.” Shin memeluk Indra, “Aku janji aku akan kembali. I promise. Take care. Bye..” Shin melepaskan pelukannya dengan Indra. Setetes air mata jatuh dari mata bening Shin, hangat membasahi pipi. Indra bergegas berlari ke kamar -sementara-nya, lalu kembali dengan sebuah bungkusan di tangannya yang lalu diserahkan nya kepada Shin. Walau tahu tahu isi bungkusan itu Shin menerimanya dengan senang hati, lalu melangkah menuju taksi yang masih menunggu di depan halaman rumah mungil bercat putih itu, setelah pamit kepada keluarga Indra.

Indra menatap kepergian Shin dengan hati sedih. Untuk kedua kalinya Shin datang dan Pergi kembali. Dulu ia sangat sedih ketika Shin meninggalkannya kembali ke Jepang, karena ia akan kehilangan teman bermain.. tapi tak sesedih hari ini, saat Shin memutuskan untuk belajar Islam, justru Shin harus pergi. Ia hanya berharap Shin tak melupakan apa yang ia ucapkan hari ini.

Indra memperhatikan ibunya yang masih berbincang dari kejauhan dengan ibu Shin. Keduanya menunjukkan wajah serius dan sedikit tegang. Setelah memperkirakan percakapan dua ibu itu selesai, Indra menghampiri.

“Kami akan pulang hari ini juga, terima kasih atas tawaran ibumu menginap, tapi tidak,  Mo nida-to konai-yo!”

“Koko-ni ite.” Indra berusaha menahan nyonya Mariko agar tetap tinggal barang semalam saja.Tapi….tidak!! Mayuko tetap melangkah menuju taksi yang menunggu di depan, di tempat Shin menunggu.

Indra menatap taksi yang mulai bergerak menjauh  meninggalkan pelataran mesjid. Indra membalas lambaian tangan Shin dengan lesu.. sungguh perpisahan yang berat, tapi itulah yang terjadi. “Ya Allah, tunjukkanlah jalanmu kepadanya, jangan sampai cahaya itu padam kembali..” Indra bergumam lirih.

Taksi itu semakin menjauh, mendauh, dan akhirnya menghilang..

………………………..

Di pesawat Shin masih terpaku menatap awan putih dari dalam pesawat yang membawanya pulang kembali ke Jepang. Hatinya galau. Dulu Shin juga berpisah dengan Indra, perasaan itu tidak seperti saat ini. Ada yang mengganjal di kepalanya. Entahlah, Shin sendiri tak mengerti yang telah dialaminya, ia merasa seperti kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Terus terang, Shin penasaran, apakah yang membuatnya mengalami semua ini?  apakah sedikit penjelasan yang dikatakan Indra tadi? Mungkinkah dulu Indra juga bertanya – tanya seperti ini?

Shin masih berselimut beribu pertanyaan ketika AC pesawat mulai semakin  dingin dan pemandangan luar ditutupi oleh awan – awan putih. Segera dikeluarkannya switer rajutan tangan dari dalam tas kecil bawaannya. Disamping Shin, ibunya sudah tertidur pulas. Tangan Shin terhenti ketika  melihat bungkusan yang diberikan Indra tadi sebelum ia berangkat. Rasa penasaran kembali menyergapnya. Shin memandang bungkusan itu sebentar, lalu bergegas membukanya.

Al-quran? Shin membaca tulisan sampulnya tepat ketika sebuah kertas meluncur dari lembarannya.

“Shin, ini adalah kitab suci agama Islam, bacalah dan coba pahamilah  walaupun Cuma sedikit. Aku berharap ini bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan yang masih tersisa di hatimu. by: Indra. Indra @ blablabla.com, 0813141650xx,”

Oh.. Indra menuliskan alamat email dan nomor hendphonnya juga rupanya, pikirnya. Disimpannya buku yang bernama Al-Quran itu kembali di balik lipatan pakaiannya, Lalu melanjutkan niatnya untuk tidur. Pemandangan pulau Jawa mulai menjauh perlahan dan akhirnya tinggal sebuah titik, lalu menghilang dari sudut mata Shin.

………………

Sesampai di Bandara, Shin langsung diajak pulang ke rumahnya. Di halaman rumah mewah itu sudah terparkir beberapa mobil mewah. Salah satunya Shin kenali sebagai mobil Yumi, putri seorang pengusaha kaya kenalan ayahnya, yang sekaligus menjadi sahabatnya selama kuliah di Universitas beberapa waktu ini.. Hati Shin jadi semakin  was – was. Tapi, Shin tak ingin berpikir macam – macam, ia terlalu lelah untuk berpikir. Shin langsung bergegas mengikuti ibunya masuk.

Benar dugaan Shin. Di ruang tamu Yumi telah duduk bersama kedua orang tuanya. Ia tampak cantik mengenakan kimono khas Jepang warna keemasan yang indah sekali. Cocok sekali dengan kulitnya yang putih. Papa Shin tersenyum  senang menyambut putra semata wayangnya itu, lalu memperkenalkan tamu yang ada di depannya.

Shin segera membungkuk memberi hormat kepada Yumi, tante dan Om Tanaka, orang tua Yumi, dan beberapa relasi perusahaan papanya, teman ibunya, dan beberapa rekan bisnis ayahnya  yang telah hadir, lalu permisi untuk istirahat di kamarnya.

Di kamarnya, Shin langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Ia masih tak mengerti, mengapa ibunya begitu keras melarangnya untuk belajar Islam?. Sejak kecil ia memang tak pernah tahu agama yang dianutnya, dan ibunya tak pernah melarang kalau – kalau ia mengikiti atau menghadiri perayaan natal, atau agama  Shinto, budha, atu entah agama apa saja. Tapi, sekarang.. ketika ia tertarik untuk memeluk satu agama mengapa ibunya langsung melarang? Apakah karena agama itu adalah islam?. Shin terus berpikir, hingga akhirnya sampai ke alam mimpi. Pulas.

……tunggu lanjutannya di SMS bagian 9 ya, thq . jgn lupa tinggalkan komentarnya………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s