SMS bagian 9

BUKAN ISLAM YANG SALAH..

Cahaya matahari mulai meredup, menandakan hari sudah sore. Shin terbangun dari tidur siangnya ketika mendengar suara ribut dari kamar yang berjarak beberapa kamar dari kamarnya. Shin segera mencari asal suara itu. Shin mengenali itu sebagai suara mama dan papanya yang sedang bertengkar. Ia memandang jam antik yang menempel di dinding kamarnya yang cerah. Pukul 4. pm.

“Ma, serahkanlah semua pada Shin, biarkan dia yang ambil keputusan.”

“Nani?! Apa papa ingin dia pergi lagi ke Indonesia dengan anak perusak itu, lalu memeluk agama pembawa teror itu? no.. tidak! kita akan malu kalau dia jadi pengikut agama teroris itu..”

“Tidak, bukan itu maksud papa, aku sudah punya rencana. It’s good idea.”

Shin seperti terpaku di dinding. Shin tidak berniat menguping, karena itu bukanlah sifatnya. Tapi ini menyangkut dirinya, menyangut hidupnya. Ia harus  tahu.

“Sejak dulu mama selalu berhasil menjauhkannya dari anak itu, si Indra itu.. sampai papa menghancurkan semuanya. Gara – gara papa izinkan dia ke Indonesia… sekarang… aaagrh, mungkin sebentar lagi dia akan membom rumah ini!”

Shin tak kuasa lagi untuk tak menyela.

“Ma, agama itu tidak seperti yang mama kira, sonna-koto nai-yo!”. Shin akhirnya memberanikan diri muncul tiba-tiba karena tak tahan lagi dengan apa yang didengarnya. Suaranya  menggetarkan ruang berdinding kuning gading itu. Kemunculannya yang tiba – tiba semakin membuat ibunya semakin marah.

“Tidak seperti itu apa? Kamu nggak lihat berita Koran, tv? Kamu nggak tahu kan ada apa di sana? Bom!.” Tangannya teracung di depan muka Shin. Papa Shin berusaha menenangkan Istrinya yang tampak mulai kalap itu.

“Yang salah bukan agama ma, Islam nggak salah.. apa mama Cuma melihat Jakarta? Kenapa nggak melihat yang lainnya? umat islam lainnya? di Philipines, aussy..” Shin berusaha menjelaskan apa yang ia pahami selama beberapa waktu ini, sejak kepulangannya dari Jakarta beberapa hari yang lalu. Ia memang belum memutuskan untuk segera memeluk Islam dan masih dalam status mempelajari, tapi itu cukup menjawab pertanyaannya atas pernyataan itu tadi.

Papanya memegang pundak Shin, mencegah agar Shin tak terpancing dalam emosi ibunya yang mungkin sebentar lagi akan meledak kalau lelaki separuh baya itu tidak menghentikannya. Tapi diam – diam di hatinya lelaki yang dikenal sebagai pengusaha sukses itu sebuah rencana telah tersusun dengan rapi dan sempurna.

Nani-ga chigau-no?”

Nani-ga chigau-no? Jelas ma, jelas beda, ma.. kalau ..”

“Sudahlah, ma, Shin.. Sore-wa ato-dehanaco. Ok? Oh ya, nanti malam ada undangan pesta, Yumi’s birthday, kamu nggak lupa kan Shin? Ma?.” Potong papa Shin dengan nada bijaksana. Ia memandang istrinya dengan tatapan penuh arti, yang tak diketahui oleh Shin.

Wanita setengah baya itu mengangguk, Shin Shin-pun ikut mengangguk.

“Ok, oh ya, Shin.. May I borrow your phone cellular?.”

“Untuk apa ma?”. Shin tak mengerti dengan permintaan mamanya. Tapi pelototan mamanya akhirnya membuat Shin mengangguk.

Shin kembali ke kamarnya setelah menyerahkan handphonnya. Rasa ngantuknya hilang sudah. Indra, Shin harus bicara sama Indra.

Aduh!! Shin tiba – tiba menepuk jidatnya. Tiba – tiba ia  mengerti mengapa mamanya meminjam alias menyita handphon itu. Bagaimana ia akan menghubungi Indra atau teman – teman lamanya tanpa handpon itu?. Untuk ke telpon umum rasanya tak mungkin saat ini. Bagaimana kalau  papanya memanggilnya ketika ia sedang pergi nanti? Shin tahu pasti kebiasaan papanya itu sebelum pergi ke pesta, yaitu menyuruh Shin memilih pakaian yang akan dipakainya, atau meminta penilaiannya atas sederatan pakaian , sepatu, dasi yang cocok untuk pria seusianya!. Telphon di ruang tengah atau ruang tamu? Oh, Tidak. Jam – jam begini biasanya wanita setengah baya itu biasanya pasti sedang menonton drama kesukaannya di ruang tivi. Mamanya tak akan mengizinkan ia mendekati tempat itu dan pasti ketahuan. Dan lagi.. yang paling penting adalah tak satupun nomor telpon teman lama yang diingatnya di luar kepala, semua memorinya ada di handpon itu!

Shin berjalan mondar-mandir di depan jendela kamarnya. Nomor – nomor telpon, catatan teman – teman yang di Indonesia, semua tersimpan di handpone itu. Tapi.. tunggu, mata Shin langsung berpaling ke arah meja belajarnya. Laptop.. oh ya, Internet!

Shin terpekik girang. Bukankah Indra juga memberinya alamat emailnya? Dengan cepat diambilnya sebuah kertas yang menjadi pembatas al-quran terjemahan dari balik lipatan pakaian di lemarinya. Dengan cekatan ia menghidupkan laptop mungil yang tergeletak di atas meja, lalu membuka emailnya, lalu mengetikkan beberapa paragraf kata Mudah – mudahan nanti malam Indra membuka emailnya. Shin berharap cemas.

….. ………….

Perkiraan Shin tepat sekali. Indra membuka email dari Shin tepat setelah Shalat Isya, sambil menunggu makan malam siap. Keningnya berkerut ketika membaca kalimat demi kalimat dalam email itu.

“Sedang apa kak? Kok kayaknya bingung banget?” tanya Rani yang ikut kebingungan melihat kerut – kerut di kening Indra.

“Ah, nggak. Email dari Shin.”

“Shin? Shin yang kemaren datang kita nikah?”

Indra mengangguk, lalu meninggalkan layar yang masih terkembang di depannya itu. Sekarang tangannya sedang sibuk membongkar dokumen – dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Kertas – kertas yang tadinya tersusun rapi, mulai berserakan. Rani langsung geleng – geleng, lalu meninggalkan kamar itu, menuju dapur. Gimana nggak? abis ruang kerja Indra yang aneh bin ajaib langsung kayak kapal pecah!.

Tapi tampaknya Indra tidak sempat menghiraukan tatapan heran istrinya. Kini tangannya beralih mengeluarkan segepok kertas yang ada di laci mejanya. Matanya langsung berbinar ketika menemukan kertas yang dicarinya.  Lalu Indra kembali sibuk dengan komputernya. Mengetikkan huruf yang tertera pada kertas itu.

…………….

Shin mengahampiri laptop yang ia tinggalkan tadi dengan tergesa – gesa dan penuh harap. Pesta yang membosankan setengah mati itu membuatnya pamit pulang duluan, ditambah lagi rasa penasarannya dengan balasan email yang ditunggunya. Ada sebuah pesan di inbox-nya. Shin tak sabar untuk segera membuka email balasan dari Indra.

Mata Shin semakin menyipit membaca tulisan yang dikirimkan Indra. Nama sebuah tempat. Islamic Center? lengkap dengan alamatnya? Brother Yasin? Siapa itu?. Yah, yang dikirimkan Indra ternyata bukan memberinya masukan atau nasehat, tapi justru Indra mengirimkannya sebuah alamat dan sebuah nama yang kata Indra bisa membantunya. Shin bimbang dan terlihat ragu. Orang yang disebutkan Indra itu adalah orang yang tak dikenalnya, bagaimana mungkin orang itu dapat membantu kebingungannya?. Tapi, ada baiknya ia mencoba. Siapa tahu Indra benar. Shin merebahkan tubuhnya yang penat, setelah print out alamat dan nama itu dilipatnya dengan rapi dan dimasukkannya ke dompet. Ia akan ke sana besok sore, sepulangnya dari kantor.

……………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s