SMS bagian 12

IT’S MY NEW LIFE

Malam mulai terasa larut. Tak terasa, satu jam sudah Shin berjalan tanpa tujuan menyusuri jalan raya Beika. Sesekali lampu kendaraan yang sesekali lewat menyilaukan mata Shin. Travel bag mini berwarna biru laut itu diseretnya dengan lesu. Sebuah tulisan “Swalayan 500 meter” menarik perhatian Shin. Seketika itu juga perutnya berbunyi. Ia merasakan cacing di perutnya menggelepar. Lapar.

“BRUKK!”

Shin merasakan seseorang menabraknya hingga jatuh dan sipenabrak bangkit, lalu berlari dengan kencang tanpa mempedulikan Shin yang terjengkang. Seketika itu juga ia tersadar bahwa tas yang tadi dipegangnya kini sudah berpindah tangan. Orang itu adalah.. Copet!.

“Hei, come back! It’s my bag! ” Shin berusaha mengejar orang bertopi rajut yang membawa lari tas itu. Tapi, orang itu ternyata jauh lebih cepat dari Shin. Sehingga dalam bebrapa detik saja ia sudah menghilang dari pandangan Shin. Menghilang dalam pekatnya  malam.

Shin lunglai. Dalam sekejap ia telah kehilangan semuanya. Ijazah, pakaian, dan dompetnya yang satu lagi yang ada di dalam tas itu. Sejak kecil Shin memang punya kebiasaan memakai dua dompet. Yang satu untuk keperluan tertentu saja, sedangkan satunya lagi untuk uang kecil untuk keperluan sehari – hari. Biasanya ia akan menyimpan yang satu lagi di tas kerja atau tasnya yang lain, sedangkan yang satunya lagi akan diletakkan di kantong celananya. Satu lagi, Shin kehilangan Al-quran mungil yang selalu dibawanya. Shin kembali melirik swalayan yang kini sudah di depan matanya. Shin merogoh kantongnya. Hanya ada beberapa Yen di sana. Tapi, Shin sedikit lega, di sana ada sebuah kartu kredit yang tersisa di sana. Shin berharap ia bisa membeli beberapa makanan yang dapat mengobati perih lambungnya dengan credit card yang kini tergenggam di tangannya. Shin segera menyeret langkahnya yang gontai kesana.

Swalayan itu tak begitu besar dan sudah terlihat sepi. Di sana hanya ada satu kasir yang tampangnya seperti orang Asia, mungkin malaysia atau Indonesia dan satu SPG (Sales Promotion Girl) yang sedang melayani pelanggan di bagian kosmetik. Shin langsung memilih makanan dan keperluan secukupnya, lalu segera membawanya ke meja kasir.

Kasir itu segera menerima kartu kredit yang disodorkan Shin, tapi baru beberapa detik kemudian..

“Sorry sir, you can’t use this card.” kata kasir separuh baya  itu kepada Shin dengan bahasa Inggris yang masih kurang fasih. Tampaknya ia belum lama tinggal di sini (orang pendatang biasanya lebih memilih memakai bahasa Inggris daripada bahasa jepang, karena lebih umum dan mudah). Shin mendadak jadi bingung. Bukankah di sana tertulis tulisan  bahwa.. ia bisa menggunakan credit card?.

“What?! Oh, sorry, but.. ngg, What happened?” Shin menunjuk ke papan yang ada di atas meja itu. kasir itu mengangguk.

“Yeah, but the problem is.. the credit card is rejected…”

Shin terperangah. Mungkinkah ibunya yang melakukan itu kepadanya?.

“How much money did you have?”

“Wait..” Shin membolak balik dompetnya. Bukankah seharusnya ada uang tunai, ATM atau kartu kredit yang lain di dompet ini? Shin was – was. Atau.. jangan – jangan yang ada di sakunya adalah dompet yang salah?. Ya Allah!. Shin baru tersadar. Dan sekarang, pastilah dompet itulah yang ada di tas yang dicuri itu! dengan lemas Shin mengangsurkan beberapa keeping uang logam yang di tangannya,.

“Sir,..” Panggilan kasir mengejutkan Shin.

“Ya..”

“This is, and this from me.”

Pegawai itu lalu mengambil uang yang masih dipegang Shin dan mengangsurkan plastik putih yang berisi barang yang kira – kira seharga uang yang dimiliki oleh Shin.

“Thank you, sir.” Ucap Shin sembari menerima plastik putih itu dan bergegas meninggalkan tempat itu. untunglah swalayan itu sudah tak terlalu ramai, sehingga Shin tak terlalu malu.

Shin langsung duduk begitu menemukan sebuah bangku panjang tak jauh dari swalayan itu. “Ah, setidaknya aku bisa makan dulu sambil meluruskan kaki, sampai aku memutuskan kemana tujuannya nanti.” pikir Shin.

Shin segera membuka bungkusan makanan yang seadanya itu. Setelah menghabiskan potongan – potongan roti itu, sebuah suara menyapanya. Shin segera menghentikan kunyahannya. O, ternyata wajah Asia kasir swalayan yang tadi.

“Sorry, sir. I disturb you?.”

Oh, no. What can I do for you?” Shin menjawab dengan

No, My name is Joko, but my friends call me..Joe.” Sosok separuh baya itu langsung mengulurkan tangan. Shin menyambutnya dengan ragu – ragu.

“Shin..”. ucap Shin,“You are from malaysia, or.. Indonesia?

“I m Indonesian, sir.”

“O.. kebetulan sekali.”

“You are..”

“Oh, no”potong Shin,” tapi saya pernah tinggal di sana, beberapa tahun.”

“Tuan tinggal di mana? Rasanya saya baru melihat tuan di daerah sini, atau baru pindah?.”

“Panggil saja saya Shin, saya memang baru ke sini pak, saya… saya belum punya tempat tinggal.”

Oh,sorry.

“Tidak apa, orang tua saya sudah mengusir saya karena tahu saya masuk Islam..”.

“Benarkah?”

Shin mengangguk pelan.

“Kalau begitu tinggallah dengan saya nak Shin.”

“Tidak pak, terimakasih.” Tolak Shin halus.

“Saya mohon, stay with me, please.”

“Tapi pak…”.

“Saya mohon nak Shin, setidaknya untuk sementara.. ya?”.

Seandainya yang memohon kepadanya untuk tetap tinggal ini adalah papanya, tentu Shin akan langsung mengangguk. Shin menatap wajah yang sudah mulai dimakan usia itu sekali lagi. walau tak mengerti apa yang membuat lelaki itu bersikeras menyuruhnya tinggal, tapi akhirnya mengangguk juga pelan. Shin segera mengikuti langkah pak Joko alias Joe (panggilan teman – temannya).

Ternyata tempat tinggal pak Joko atau Joe tak jauh dari swalayan itu. Di aparteman yang sudah hampir bobrok itu masih ada beberapa teman. Joe langsung berteriak begitu membuka pintu dan mempersilahkan Shin duduk.

“Hei.. sini semuanya..”

Dua orang seusia Joe tampak keluar dari satu kamar, sedangkan seorang lagi, yang sudah lanjut usia keluar dari kamar yang berseberangan dengan kamar itu. Mereka semua segera menghampiri Joe.

“Perkenalkan, mulai sekarang anggota keluarga kita akan bertambah satu orang, his name is Shin. Shin, ini pak Oogami asli sini. Sedangkan ini Moto dari Thailand, dia pernah kerja di Malaysia untuk waktu yang cukup lama, jadi sering kita panggil cik Moto, ia baru beberapa bulan ini di sini, dan ini pak Norio, juga asli sini dan di sini sejak usahanya bangkrut beberapa tahun lalu”.

Shin mengulurkan tangan. Ketiganya langsung menyalami Shin secara bergantian. Semua menyambut Shin dengan ramah, hanya saja Cik Moto yang terlihat agak canggung kepada Shin. Mungkin karena tidak biasa bertemu orang baru, pikir Shin.  Lalu keempatnya langsung mengajak Shin ke sebuah kamar kecil yang penuh dengan barang – barang. Shin memandang seluruh sudut kamar kecil itu, inikah yang akan menjadi kamarnya?. Tapi akhirnya, Shin segera membantu keempat orang itu. Jeritan – jeritan kecil Shin membuat semuanya tertawa. (Tahu kenapa? Shin takut sama kecoa sodara – sodara! )

Sambil bersih – bersih, semuanya menceritakan tentang pekerjaan mereka. Cik Moto ternyata bekerja sebagai cleaning service di sebuah hotel. Lalu pak Oogami bekerja sebagai pelayan restoran, sedangkan pak atau kakek Norio sudah tak bekerja. Tapi jangan salah lho, biar sudah kakek – kakek,  pak Norio ini justru paling terkenal masakannya di antara ke tiga orang lainnya!.

Alhamdulillah!. Shin memandang lega kamar yang tadi berantakan. Ajaib! Kamar yang tadinya Shin kira tak akan bisa selesai dibersihkan malam ini, ternyata bisa dibersihkan dalam dua jam rapi seketika! (kayak iklan aja! He-he..). Shin langsung teringat, ia belum shalat Isya!. Shin lalu melangkah mengambil wudlhu.

“Ya Allah, berikan kesembuhan kepada papa dan semoga Allah membukakan hati keduanya untuk menerima hidayah dari-Mu. Kuatkanlah hamba-Mu ini dalam menjalankan hidup yang keras ini, agar hamba tetap istiqomah di jalan-Mu, karena kekuatan dari-Mu hamba hanyalah manusia kecil yang tidak berdaya..” (Amien). Ada setetes air mata di sana.

Selesai Shalat, Shin segera membaringkan tubuhnya di kasur usang di sudut kamar itu. Sebuah seragam petugas kebersihan teronggok di sampingnya. Lho kok? Iya, tadi Cik Moto yang bekerja sebagai petugas kebersihan jalanan itu menawari Shin untuk ikut dengannya besok, sementara yang lain mencarikan pekerjaan yang lebih baik. Shin menurut. Ia tak punya pilihan. Tanpa ijazah, ia tak akan bisa mendapatkan pekerjaan, kecuali yang begini ini, petugas kebersihan jalan dan pekerjaan sejenis lainnya.

…..…bersambung…………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s