SMS bagian 13

RENCANA-NYA MEMANG SELALU YANG TERBAIK

Shin memandang jalan yang semakin sepi dari jendela kamar petak kecil yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Sebuah kotak kecil tergenggam di tangannya. Celengan. Dua tahun sudah berlalu sejak malam menyedihkan itu terjadi. Pekerjaan demi pekerjaan digeluti Shin. Mulai dari jadi tukang kebersihan jalanan, cleaning service hotel, pelayan restoran, dan sekarang menjadi pegawai di sebuah departemen store kecil di tempat Joe bekerja. Hanya itu pekerjaan yang bisa didapatkan Shin tanpa ijazah dan identitasnya. Sebenarnya beberapa brother menawari Shin untuk tinggal bersama mereka, tapi ditolak Shin dengan halus. Shin tidak enak, juga ia ingin membuktikan kepada orang tuanya, ia sanggup melakukan apa saja demi Islam. Selain itu, Indra beberapa kali menyuruhnya untuk datang kembali ke Indonesia dan bersedia mengiriminya uang untuk ongkos. Tapi Shin menolak. Ia memang ingin kembali ke negeri itu, tapi nanti.. dengan hasil keringatnya sendiri. Karena itu Shin selalu menyisihkan gajinya untuk ditabung. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan di daun pintu membuat Shin menoleh dan kembali menyimpan kotak kecil di tangannya itu. Shin bergegas membukakan pintu yang hanya beberapa langkah dari tempat duduknya itu. “Cik Moto? What can I do for you?” “Saya.. ingin bicara. We need to talk. Saya harap nak Shin tak marah sama saya”. Cik Moto terlihat gugup, ditambah lagi dengn bahasa Inggris, Indonesia dan logat melayunya yang campu aduk. “Bicara? About? O.. oh, kalau gitu gimana kalau di dalam aja pak?” “Ng.. kalau tak keberatan, di tempat saya saja. Boleh tak? sekali lagi, maaf.” Shin mengangguk, lalu mengikuti Cik Moto dengan bingung. “Shin, I m so sorry..”. ucap lelaki setengah baya itu sekli lagi. tangannya terlihat gemetar. Shin tambah bingung. “Sorry? Untuk apa? Cik Moto kan nggak punya salah sama saya.” “Saya punya salah banyak sekali, waktu itu.. .” Kini lelaki itu kini bersimpuh di depan Shin. Ia menangis. “Maksud Encik?”. Tanya Shin tak mengerti. Lelaki itu tak segera menjawab pertanyaan Shin. Ia langsung bangkit mengambil suatu benda dari dalam kardus besar di pojok kamarnya. Shin segera mengenali benda itu. Tasnya? Tas atau travel bag yang hilang dibawa lari copet? Kenapa ada pada Cik Moto? Atau jangan – jangan.. ah, tidak mungkin!Shin berusaha mengusir prasangka buruknya. “Ini.. apakah beg ini punya Nak Shin?”. “Dari mana Cik Moto dapatkan itu?”. “Maafkan saya, sekali lagi maafkan saya, saya salah waktu itu, saya… saya silap” “Cik, ceritakan pada Shin, tolong..”. Shin menggenggam tangan lelaki itu. Cik Moto segera menyusut air matanya. Ia mulai bercerita. “Dulu.. Awalnya kenapa saya bisa sampai ke sini adalah karena terjebak teman-teman yang menawarkan pekerjaan yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijanjikannya. Saya tinggalkan kerjaan saya yang sudah beberapa tahun saya kerjakan, lalu ikut ke sini…” Cik Moto menarik napas dalam – dalam. Matanya memancarkan kesedihan dan penyesalan yang amat dalam. “Tapi.. ternyata saya ditipu. Lalu, beberapa minggu berselang setelah keberangkatan saya, saya mendapat kabar kalau anak satu – satunya yang tinggal dengan istri saya terkena demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit. Gaji yang saya dapatkan sebagai petugas kebersihan jalan jelas tidak cukup untuk itu. Untuk meminjam kepada ketiga teman saya jelas tidak mungkin. Joe, juga sama keadaannya dengan saya, Norio.. sudah tak bisa bekerja, sedangkan Oogami juga harus menghidupi keluarganya. Pikiran itu terbetik begitu saja di benak saya ketika… melihat Shin yang kelelahan berjalan malam itu dan saya tau pasti nak Shin tak akan bisa mengejar saya. Pikiran akan keselamatan anak saya membuat saya menjadi gelap mata. Maka terjadilah peristiwa yang menyebabkan tas itu ada di sini…” Cik Moto menarik napas dalam. Shin hanya terpaku diam dan mendengarkan dengan penuh prihatin. “Ngg… Begitulah ceritanya nak Shin, saya baru sekali itu melakukannya, saya benar – benar mohon maaf..”. Air mata kembali mengembang di pelupuk matanya. Shin masih terdiam. Tak pernah terpikir di benak Shin akan menemui realita yang pernah ditemuinya waktu di Indonesia dulu di negerinya yang terkenal dengan kemajuannya ini. “Nak Shin, maafkan saya.. nak Shin boleh melakukan apa saja terhadap saya, asalkan saya dimaafkan…”. “Cik, kenapa bapak tidak cerita waktu saya baru pertama ke sini?”. “Saya tidak berani, I m scare..” “Pak, apa gunanyanya saudara kalau bukan untuk saling membantu? Nggak ada salahnya kalau bapak kesulitan cerita ke saya, bapak kan juga sudah banyak membantu saya.” Cik Moto diam, lalu mengangguk membenarkan. “Ya sudah lah, sekarang ada baiknya jadikan pelajaran saja, tapi Cik Moto harus janji ke saya tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, tapi akan cerita ke saya, atau pak Joe, atau yang lainnya, ya?”. “Thank you very much, nak Shin, uangnya akan saya ganti kalau sudah ada uang.” “Tidak usah pak, anggap saja itu infak dari saya, tidak usah diganti, saya senang kalau uang itu bermanfaat untuk Cik.” Ucap Shin. “Shin tak marah ke sama saya?” Shin menggeleng. Cik Moto langsung memeluk Shin dengan penuh terima kasih. Shin menerima tasnya dengan suka cita, walau tak ada lagi uang di sana. “Nak Shin..”. suara Cik Moto kembali menghentikan langkah Shin yang baru hendak keluar dari kamar itu. “Ya?” “Kalau boleh, saya ingin belajar itu, tentang kebaikan hati, kesabaran, agar saya juga bisa berlapang dada seperti nak Shin..”. ucap pria itu takut – takut. “Alhamdulillah.. “ ucap Shin lirih, lalu mengangguk. Ada binar bahagia di sana. Allah memang nggak pernah berbuat sia – sia terhadap hambanya, selalu ada hikmah di balik semuanya. Terbayang kembali wajah papanya, seandainya papanya yang mengucapkan kata – kata itu… Pa, apa kabarmu, pa? ………bersambung ke bagian 14…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s