SMS bagian 14

MENEPATI JANJI

Jakarta, Dua tahun kemudian…

Udara Jakarta masih sepanas dulu. Kehijauan pohon lindung di pinggiran jalan semakin sedikit, ditambah lagi dengan asap kendaraan yang kebanyakan pembakarannya tidak sempurna itu membuat ibukota semakin panas. Shin masih berdiri di depan sebuah rumah yang masih asing di matanya, rumah Indra dan Rani (setelah menikah). Ia menunggu sang empunya rumah membukakan pintu.

“Shin… Alhamdulillah”. Indra memeluk Shin begitu pintu rumahnya terkuak. Shin memang tidak minta dijemput, surprise. Indra segera membawakan tas Shin ke kamar yang sudah disiapkannya sejak dua bulan lalu, sejak Shin mengabarkan akan kedatangannya.

“Where is your wife?”

“Oh iya, Rani lagi ke kampus, ngajar sebentar.

“Sebentar?”

“Ya, sekarang Cuma ngambil jam siang aja, biar nggak terlalu capek, kan kasian si kecil.”

Nani?! It’s mean.. berarti kamu akan jadi.. ayah?”

Indra mengangguk. Shin langsung memeluk Indra.

“Selamat ya, tapi.. kamu emang selalu jahat Ndra..”

“Kok?”

“Ya, waktu mau nikah, kamu telpon aku mendadak, sekarang, istrimu hamil, kamu nggak kasih kabar.”

“Kan sekalian, surprise.”

“Huuu, surprise sih surprise..”

“Ok, sekarang kita ngobrol di beranda kamarmu aja ya, mau minum apa? Panas? Dingin?” tawar Indra.

Up to you.” Shin mengangkat bahu. Indra segera menuju dapur.  Tak lama kemudian ia kembali dengan dua cangkir teh hangat dan sepiring kecil biscuit.

“Bagaimana kabarmu? Your parent?”. Tanya Indra. Mendung kembali muncul di wajah Shin.

Berulang kali Shin mencoba mendatangi mama dan papanya. Gajinya yang tak seberapa selalu ia sisihkan untuk menelpon kedua oaring yang sangat dicintainya itu. Hampir setiap minggu selalu ia sempatkan untuk menulis surat. Tapi semuanya tak membuahkan hasil. Lalu dicobanya juga meminta bantuan brother dan sister di Islamic center untuk mendekati mama dan papanya, setidaknya mereka tahu bahwa Islam yang ia anut tak seburuk bayangan mereka. Tapi, lagi – lagi tak membuahkan hasil. Pintu hati itu masih belum juga mau terbuka untuk menerimanya dan Islam, sampai kemarin ia memutuskan untuk meninggalkan negeri sakura itu..

“ ….. Begitulah Ndra, terus terang aku bingung harus bagaimana lagi …”. Ucap Shin mengakhiri ceritanya.

“Maaf ya, Shin.. aku nggak bisa Bantu waktu itu.., sekarang mungkin yang bisa kita lakukan hanya berdo’a, yang penting kan kamu udah usaha, sabar aja, mungkin memang belum waktunya, tapi percayalah Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya”. Indra menepuk pundak Shin.

Shin mengangguk pelan. Ia mencoba menyimpan kata-kata terakhir itu di dalam hatinya yang paling dalam.

“Oh, ya.. perusahaan temannya papa sedang ada lowongan, aku rasa sesuai dengan bidangmu.., tapi, emang.. mungkin untuk pertama – tama gajinya nggak gede dan jabatannya nggak terlalu tinggi.. gimana kalau kamu coba ngelamar kerja di sana untuk sementara?”. Tawar Indra.

“Makasih Ndra, bagiku nggak masalah asalkan halal, kamu belum dengar aku kerja apa waktu di tempat pak Joe?”.

“Pak Joe? Siapa tuh?”

“Hm, Ok, Joe, namanya sih Joko, Cuma panggilannya Joe, TKI dari sini, katanya sih asli Jawa, Purwo.. purwo..” Shin berusaha mengingat kata – kata yang ada di kepalanya.

“Purworejo? Purwokerto?” bantu Indra.

“Ya, semacam itulah namanya, aku nggak begitu inget. Tapi kayaknya enaknya ceritanya sambil makan deh..!”

“Ya.. bilang aja laper, sorry, lupa. Yuk, aku juga belum makan kok. Ada masakan special hari ini. He.. he..”. Indra nyengir.

“He.. he…”. Shin ikut nyengir.

Mereka berdua segera melangkah ke ruang makan. Segera saja ruang makan itu dipenuhi kelakar dua sahabat yang lama berpisah itu. Cerita tentang kisah yang tak pernah terbayang di benaknya dua tahun yang lalu, tentang kecopetan, tentang ketertarikan pak Moto untuk mempelajari Islam, cerita – cerita daerah dari pak Joe, belajar istilah – istilah bahasa Indonesia, tentang kamar ajaibnya, tentang pekerjaannya, dln segera mengalir dari mulut Shin.

…………………

HuFff. Shin bernafas lega ketika akhirnya ia sampai juga di depan sebuah rumah untuk kesekian buahnya. Sebuah papan “dikontrakkan” terpasang di depan pagarnya.  Ya, Shin sedang mencari kontrakan! Shin sendiri sebenarnya cukup nyaman tinggal di tempat Indra, tapi nggak enak juga kan kalau numpang terus?. Makanya Shin sejak beberapa hari yang lalu selalu menyempatkan diri setelah pulang kerja untuk mencari rumah kontrakan. Ia sengaja tak bicara dulu pada Indra. Bukannya apa – apa, Shin takut Indra tidak setuju.

Lagipula rasanya gaji dan Shin sudah lumayan cukup untuk ngontrak. Keuletannya dalam bekerja membuatnya cepat belajar dan mendapatkan perhatian ekstra dari rekan kerjanya, atasan, ataupun bos-nya, pak Anton.

Shin membuka pagar rumah itu perlahan dan mengetuk pintunya. Seorang wanita setengah baya menyambut Shin. Oleh bu Imah, wanita yang menunggu sementara rumah itu, segera mengajak Shin berkeliling.

“Rumah ini memang sederhana, nak. Tapi menurut ibu cukup baguslah kalau untuk pasangan yang muda-muda sperti anak ini..” penjelasan bu Imah membuat muka Shin memerah.

“Rumah ini punya satu ruang tamu mungil, lengkap dengan fasilitasnya, punya dua kamar tidur, lengkap dengan dapur, ya.. walaupun nggak terlalu besar, tapi cukuplah. Trus di belakang ada  tempat jemuran kecil”

Shin mengikutinya menuju pintu belakang. Ya, halaman yang tak begitu luas. Sebuah jemuran, serta beberapa tanaman hias yang tampak tak terawat terlihat di sana. Cukup bagus juga, mudah – mudahan aja harganya juga cocok, pikir Shin.

Setelah memastikan semuanya, air, listrik, termasuk masalah financialnya. Shin segera meninggalkan rumah itu dengan hati berbunga – bunga. Sebentar lagi ia akan punya rumah sendiri! (Walaupun ngontrak, J). Tinggal kini.. bagaimana menjelaskannya ke Indra dan mengatur agar Indra tak keberatan atas kepindahannya itu. Langit mulai berawan di ibu kota sore itu.

….……bersambung ke SMS bagian 15……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s