SMS bagian 15

MERENGKUH CINTA-NYA

Tuuutttt.. tuuutttt..!

Huff. Shin menekan “end call” di handphonenya, lalu  menekan nomor yang sama sekali lagi, kali ini dengan pesawat telpon yang tergeletak di atas meja kecil persegi di depannya. hatinya penuh dengan rasa gusar, cemas, dan sedih.

Mama? Papa? Kemana mereka gerangan? Mengapa tak ada satupun yang mengangkat telpon? Atau memang mereka tak ingin menerima telpon? Dan handphon.. Mengapa dimatikan? Apakah memang benar – benar hati itu telah tertutup baginya untuk selama – lamanya?

“Ya Allah, aku.. rindu papa, mama..” Shin tak kuasa untuk menahan air mata yang berebut keluar dari sudut matanya. Ia menangis.

………………….

“Shin..”.

Indra memanggil sosok Shin yang masih memandangi dirinya di depan cermin. Pakaiannya sudah rapi, seperti halnya pakaian Indra ketika ia datang tiga tahun lalu. Setelan kemeja putih dibalut dengan jas hitam. Shin tidak pernah menyangka ia juga akan menikah di negeri ini. Lagi – lagi semua diurus oleh Indra, sahabatnya. Awalnya Shin Indra menanyai Shin dan mengatakan bahwa teman Rani, istrinya, sudah ada yang siap nikah. Indra menanyakan kesiapan Shin. Shin kira Indra bercanda, karena sejak dulu kan emang sifat Indra suka iseng sama Shin. Tapi, ternyata Indra seratus persen serius. Dan biodata yang diterimanya adalah biodata… Reina!. Entah kebetulan atau memang itulah kehendak Allah!!.

Awalnya Shin agak bimbang. Shin ragu, apakah nanti ia bisa menjadi suami yang baik, apalagi untuk seorang Reina yang mengenal Islam jauh lebih lama daripada Shin yang baru dua setengah tahun. Banyak tentang ajaran islam yang masih harus ia pelajari. Satu lagi, Reina adalah gadis yang hidup dalam keluarga yang berkecukupan, sedangkan dirinya? Dapat ngontrak aja rasanya Shin sudah sangat bersyukur…

Shin mengemukakan beberapa alasannya kepada Indra dan ustadz Imam, guru ngajinya. Termasuk masa jahiliyahnya semasa SMU dulu. Tapi semuanya ditolak mentah – mentah. Menurut Indra, alasan Shin nggak Syar’I dan terkesan mengada – ada.

Sebulan lebih Shin bergelut dengan kegelisahan dan memohon petunjuk dari Allah SWT, sebeluma akhirnya ia menyatakan persetujuannya.

“Shin…”. Sekali lagi Indra memanggil Shin.

“Eh, iya..”. Shin memalingkan wajahnya ke asal suara. Indra tersenyum menatapnya.

Are you oke?”. Indra menghampiri Shin.

Shin mengangguk.

“Memikirkan orang tuamu?”. Tebak Indra.

Shin terdiam sesat sebelum akhirnya mengangguk.Indra mengerti. Indra memeluk Shin, seakan ingin berbagi sedih itu.

Tak lama kemudian dua sahabat itupun bergabung dengan kerabat Indra dan teman – teman mereka yang siap – siap berangkat menuju mesjid yang dulu juga tempat Indra melangsungkan pernikahan.  Shin langsung teringat ucapan Reina waktu mereka berpisah dulu.. kalau kita jodoh, pasti Allah akan berkehendak mempertemukan kita lagi… ah, Allah memang selalu memiliki rencana yang tak diketahui ciptaannya.

…………………

Mesjid di mana akad nikah Shin akan dilangsungkan sudah ramai dengan teman – teman kerjanya, sekaligus panitia pernikahan anak bos mereka itu. Lho kok?. Ya, ternyata selama ini Indra yang selalu penuh dengan surprise-surprisenya itu merahasiakan sesuatu yang sangat besar kepada Shin, yaitu tentang Reina yang ternyata adalah putri bungsu pak Anton, bosnya Shin!. Shin sempat hampir membatalkan lamarannya itu lho, gara – gara hal ini. Dari biodata yang diberikan Indra memang di sana tertulis nama Anton Nugraha, sebagai orang tua gadis itu. tapi Shin tak pernah menyangka, kalau Anton yang dimaksudkan adalah Anton Nugraha bos perusahaan tempat di mana ia bekerja.

Tak lama kemudian pengantin wanita segera keluar dari ruang perpustakaan mini di sudut mesjid yang disulap menjadi ruang rias pengantin. Rani yang sedang hamil tua tampak  membimbing Reina yang terlihat begitu anggun. Persis acara pernikahan Indra beberapa waktu lalu. Jubah putih sederhana dengan sedikit modifikasi dengan renda dan bunga melati membalut tubuh semampainya. Sehelai jilbab putih berlapis melati membingkai wajah ovalnya yang terpoles tipis. Manis.

Akad nikah sudah hampir dimulai, tapi pikiran Shin masih melayang ke negeri sakura sana. Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan, sekaligus membahagiakan dalam hidupnya. Hanya kini satu yang masih mengganjal di hati Shin. Orang tuanya!. Bagaimana pun Shin ingin sekali mereka bisa hadir dipernikahannya nanti, setidaknya untuk sekali ini. Tapi, berkali – kali Shin berusaha menghubungi mereka, namun hasilnya nihil karena selalu tak ada yang mengangkat telpon.

“Shin… ada yang nyari, katanya namanya, aduh.. lupa lagi.. bapak – bapak, kayaknya dia sama istrinya, itu aku suruh tunggu di depan”. Iman, teman Indra bergegas menghampiri Shin dan Indra yang telah bersiap duduk.

Jantung Shin langsung berdegup kencang. Debaran napasnya semakin tak menentu. Mungkinkah papa? Mama? Tapi Shin segera menyimpan prasangka itu ketika ia menolehkan kepalanya ke tempat yang ditunjukkan Iman. Hati Shin mencelos ketika melihat sosok yang wanita memakai kain  seperti syal di yang tersampir rapi di kepalanya. Bukan. Tak mungkin dua sosok yang membelakanginya itu papa dan mamanya. Tak mungkin!.

Meski tak punya harapan lagi, Shin segera melangkah menemui dua sosok itu. ragu – ragu Shin menegur kedua orang yang masih menjadi tanda tanya di hati Shin.

Tiba – tiba Shin terperanjat dan tak percaya dengan pendengaran dan penglihatannya ketika kedua sosok itu berbalik. Papa.. dan mamanya yang mengenakan jilbab berdiri beberapa langkah di depannya. Shin menajamkan penglihatan matanya dan pendengarannya, seakan tidak yakin dengan yang ada di depannya. Benarkah ini ya Allah? Terima kasih ya Allah..!

“Mama, papa?”. Shin langsung menghambur ke pelukan ke duanya. “Jadi.. jadi karena ini tak ada yang mengangkat telpon dari Shin, dan. Karena ini juga handphon papa dan mama nggak aktif kemarin?”

Seketika suasana haru semerbak mewangi pertemuan orang tua dan anak itu.  Shin tak kuasa lagi untuk tak meneteskan air mata.

Dari cerita papanya Shin tahu, setelah kepergiannya mereka berniat membuang semua pakaian ataupun buku – buku Islam yang ada di kamar Shin. Namun,  mereka menemukan sebuah Al-quran terjemahan, hadiah dari Indra tergeletak di antara buku – buku Shin. Mulanya hanya rasa penasaran yang terbetik di benak keduanya. Tapi mereka tak berani untuk saling berterus terang. Mama Shin membaca kitab itu ketika papanya berangkat kerja, sedangkan papanya selalu membacanya kalau mama Shin sudah tertidur pulas.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, berganti bulan, berganti tahun. Demikianlah yang terjadi selama tiga tahun. Tak ada yang tahu satu sama lain, sampai suatu ketika, Papa Shin memergoki istrinya sedang membaca buku itu, ketika ia pulang kantor lebih awal dari biasanya. Usut punya usut, akhirnya keduanya mengakui kucing-kucingan mereka selama ini. Setelah itulah mereka sering berdiskusi, dan akhirnya sejak sebulan yang lalu keduanya mulai  mendatangi Islamic center. Dan hidayah itupun datang. Ah, para brother kenapa tak memberi tahukan hal ini? Ah, lagi – lagi sebuah surprise dari-Nya..

“Tapi.. kok papa dan mama tau, hari ini Shin..” Shin bingung. Kedua orang tua itu tak menjawab, tapi menoleh ke arah Indra yang berjalan mendekat menuju tempat mereka berdiri.

“Indra?”

“Ya.”

“Shin..”. Indra memanggil Shin. Shin langsung memeluk sobatnya itu untuk kesekian kalinya. Keduanya bergegas membimbing tangan ke dua orangtuanya menuju bagian depan masjid, tempat akad akan dilangsungkan. Kebahagiaan dan syukur terpancar dari masing – masing wajah mereka.

……………

epilog :

“Saya terima nikahnya Reina Putri Annisa binti Anton Nugraha dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan dua gram emas, dibayar tunai.” Ucap Shin dengan suara bergetar. Mendadak ruangan itu diliputi suasana haru setelah ucapan ‘sah’ terdengar dari kedua saksi. Semua yang hadir tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata haru dan bahagia Menyaksikan peristiwa sakral yang menyatukan kedua insan itu. senyum terkembang di setiap yang hadir, seindah  musim semi di negeri sakura. Mekar, Indah, dan mewangi.

………..The End………

Advertisements

One response to “SMS bagian 15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s