RB bagian 8

Di suatu rumah mungil, 14 tahun yang lalu..

Sintya, Seorang ibu muda, sedang mondar – mandir dengan gelisah. Rambutnya yang panjang terikat dengan asal dengan sebuah ikat rambut berwarna putih. Sesekali tangannya meraba perutnya yang sedikit membuncit. Ia sedang hamil. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat dengan jelas, menandakan ia kurang tidur beberapa hari ini.

“Ma, papa mau datang ya, ma?” tanya anak kecil yang tengah asyik dengan mainan di depannya.

“Iya, sayang.”

“Emang kita mau pelgi ya, mama?”

“Nggak, sayang. Papa Cuma mau ajak tante Tyas ke sini. Papa sekarang akan jemput dia.”

“Tante Tyas, ma?”

“Iya, tante Tyas, ada Dinda juga, seumur sama kamu, nanti nggak boleh berantem ya..”

“Nanti papa bawa mainan ya, ma?”

“Iya, udah sana. Mandi dulu, biar nanti kalau papa datang, nanti papa senang, malu kan kalau masih belepotan begitu?”

“Ya, ma.“ Anak itu mengangguk dengan patuh, lalu menuju kamar, mengambil handuk, dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Sepeninggal anaknya, Sintya kembali dengan kesibukannya. Mondar-mandir dan sesekali melongok ke jendela. Hatinya diliputi rasa was-was, “Mas Pram, apa yang terjadi? Apa semuanya baik – baik saja? Kenapa sampai jam segini belum juga datang? Bukankah mereka seharusnya sudah sampai sejak dua jam yang lalu? Ataukah Tyas memang tak bisa menerima kehadirannya? Dan karena itu.. mereka tak jadi kemari?”

Sintya tenggelam dalam pikiran dan penantiannya. Ia memandang ke luar Jendela dengan harap cemas.

Di waktu yang sama, Di Kawasan Puncak…

Hari masih belum terlalu siang. Jalan kawasan puncak yang masih sepi dengan arus kendaraan yang biasanya padat merayap. Mungkin karena ini bukan hari libur dan hujan deras yang mengguyur jalan yang dikelilingi kebun teh itu  dengan lebatnya, sehingga lebih banyak para pengemudi yang memutuskan untuk berhenti dan berteduh di pondok – pondok di sepanjang jalan sambil menikmati jagung bakar atau singkong bakar yang dijajakan penjual yang berasal dari penduduk setempat. Sebuah sedan hitam tampak masih berjalan dengan perlahan..

“Yah, nanti Dinda mau makan jagung bakal ya, kalo udah sampai di puncak.” celoteh gadis kecil yang masih cadel ‘er’ itu dengan gembiranya ketika mobil mulai memasuki kawasan perkebunan teh yang semakin lama semakin menghijau  di daerah puncak.

“Iya, trus apa lagi?” jawab Pram dengan sabar.

“Telus, beli mainan boneka balbie..”

“Kalo udah beli boneka barbie?”

“Udah gitu, beli bajunya juga, baju Dinda juga ya, yah?”

“Iya, sayang, trus..?”

“Beli straubely, telus Dinda mau beli kuda – kudaan, maenan… pokonya semua ya yah?..”

Pram tertawa melihat tingkah putrinya. Dibelainya rambut Dinda dengan saying, “Kalau udah semua?”

“Eit, stop. Dinda, udah ah, jangan gangguin Ayah terus, Ayah kan lagi nyetir, tanyanya sama bunda aja ya? Ayah juga, udah tahu lagi ujan, perlu konsentrasi nyetirnya, eh, malah ngeladenin si Dinda, udah tau anaknya nggak mau diam..” Ucap Tyas, sang istri, panjang lebar.

Pram tersenyum melihat wajah khawatir istrinya. Dari dulu Tyas memang tipe orang yang penuh kekhawatiran. Ia juga tipe orang yang penuh  konsentrasi kalau melakukan pekerjaan, termasuk soal menyetir. Makanya, kalau pergi bareng Tyas, dia harus sedia banyak kaset biar nggak ngantuk! Soalnya gimanapun diajak becanda atau ngobrol, pasti nggak diladenin! Tapi itu dulu, sebelum ada Dinda kecil yang lebih cerewet kalau bertanya di sepanjang jalan dan selalu ngambek kalau pertanyaannya nggak dijawab. (Hayo, milih mana? Ngambeknya Dinda tea nggak tanggung – tanggung, bisa sehari semalem, he..he..).

“Makanya, tadi ayah bilang juga apa? Berhenti aja dulu, eh, bundanya nggak mau, ya kan Din?”sahut Pram.

“Hmm, anak sama ayah sama aja!”

“Iya, kan bisa jajan, tapi Dinda juga pengen cepat sampai, Nda.”

“Tuh kan? Dan lagi kan Sintya mas, dia pasti udah nungguin kita dari tadi, udah masakin lagi, kalo berhenti dulu paling nggak pasti dua jam-an, ya kan? Bilang aja pada mau makan jagung bakar dulu.”.

Pram nyengir. Ketahuan ni yee..!

“Yes madame!”. Pram segera berkonsentrasi kembali dengan jalan yang semakin licin dan kabur oleh air hujan.

Sambil menyetir, pikiran Pram kembali melayang,“Ah, Tyas.. selalu memikirkan orang lain. Entah terbuat dari apakah hati bidadariku ini. entah, entahlah, rasanya beban ini semakin berat. Bagaimana aku harus mempertemukan mereka nanti? Mempertemukan dua orang perempuan yang sama – sama aku cintai? Tyas memang sudah menerima kehadiran Syntya sejak awal. Tapi bagaimanapun Pram tahu pasti ada goresan luka di sana, walaupun sedikit. tentang.. Sintya? Aku.. aku tak sanggup melihat Sintya terluka lagi, tapi aku juga lebih tak sanggup melihat Tyas terluka, walaupun Tyas menerima dengan lapang dada, tapi aku tahu, sebagai perempuan sedikit ataupun banyak pasti merasa sakit, tapi aku.. ” Pram merasakan dadanya sesak oleh semua angan – angan buruknya.

Tiba – tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat dari arah yag berlawanan. Pram yang sangat terkejut dengan kondisi yang tak terduga itu segera  berusaha menghidari truk itu dengan sedikit membanting stir agak ke kanan. Tias menjerit panik dan segera mendekap Dinda kuat – kuat.

BRAKKK!!!

Sebuah hantaman keras di sisi kiri membuat Pram kehilangan kendali. Sedan itu terseret  oleh truk yang baru berhenti setelah beberapa meter, lalu menabrak sedan berwarna hitam lain yang melaju berlawanan arah dengannya, diiringi jeritan penumpang di dalamnya.

Pram langsung tak sadarkan diri. Di sebelahnya Tyas berlumuran darah dan tergeletak lemah. Tangannya mendekap Dinda yang juga tak sadarkan diri. Dinda merasakan sebuah tangan mengguncang – guncang tubuhnya dan sebuah suara lemah bundanya berusaha menyadarkannya, suara itu semakin lama semakin jelas bergaung di telinganya..

“Dinda, bangun..”

Bunda? Ada apa? Suara bunda?

“Dinda… “ suara itu terasa semakin mendekat di telinga Dinda.

“Dinda, non Dinda! ini Mbok Yana..”

HAHH!!!

Dinda langsung terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal dan tubuhnya bermandikan keringat. Di samping Dinda mbok Yana memandangnya dengan wajah cemas. Dinda langsung memeluk Mbok Yana.

“Mbok? ”

“Non nggak apa – apa?”

“Nggak, Mbok.” Dinda menggeleng, lalu melepaskan pelukannya. ”Dinda Cuma mimpi tentang kecelakaan waktu itu, Mbok.” ucap Dinda, kesedihan masih menghiasi wajah sayunya.

“Tapi, mbok kenapa udah ngebangunin Dinda? Bukannya belum pagi ya?”. Ucap Dinda heran.

“Anu, Non., tuan..”

“Kenapa dengan ayah Mbok?” Dinda was – was.

“Tuan belum pulang dari semalam, tuan juga nggak telpon, Mbok khawatir, makanya mbok bangunin non, karena Mbok kan nggak hapal non nomor telpon tuan.”

Kening Dinda langsung berkerut. Hatinya mulai dipenuhi rasa takut dan cemas. Ayah nggak pulang?

Hmm.. ini adalah kasus pertama! Selama ini ayah memang sering pulang malam sejak bunda meninggal, tapi ayah nggak pernah sampai nggak pulang, ataupun kalau ada rapat di luar kota, ayah pasti akan memberitahu Dinda atau mbok Yana lewat telpon atau SMS. Ada apa? Kemana ? Apa yang terjadi dengan Ayah?

“Ya udah, mbok. Nanti Dinda coba hubungi handphon ayah, Dinda cuci muka dulu ya!”

Mbok Yana mengangguk, lalu segera keluar. Dinda segera bergegas menuju kamar mandi. Beban pikirannya bertambah. Kemana Ayah semalaman?

Dinda segera menyambar handphonnya. Jemari mungilnya mulai menekan bebarapa tombol nomor. Beberapa kali ia mengulangi hal yang sama, tapi tak membuahkan hasil. Nomor handphon ayahnya tetap tak bisa dihubungi. Dinda mulai gelisah. Ayah? Kemana ayah?

Kriiing! Kriiingg!

Bunyi telpon rumah parallel di kamarnya membuat Dinda segera meletakkan handponnya  dan cepat – cepat menyambar gagang telepon di samping tempat tidurnya. Ayah?

“Halo..”. ucap Dinda gemetar.

“Assalamu’alaikum, Bisa bicara dengan Dinda?” jawab sebuah suara bariton dari seberang telepon. Dinda mendesah kecewa. Bukan suara ayah!

“Wa’alaikum salam. Ya, ini Dinda. Maaf,  ini siapa ya?”

“Ini Ryan, yang motornya kamu tumpangin waktu itu, masih ingat?  Saya  cuma mau mastiin apa kamu baik – baik aja.”

“O, baik, saya nggak apa – apa, makasih ya kemarin.”

“Sama – sama, Din. Syukurlah kalau begitu.” jawab Ryan.

Dahi Dinda langsung mengernyit begitu mendengar Ryan  menyebutkan namanya. Dinda langsung bertanya, “Lho, kok kamu tahu namaku?”

“Ah, nggak, ya udah dulu ya! Assalamualaikum!” sahut Ryan.

Dinda langsung teringat dengan jas hujan yang dipinjamkan sosok itu kemarin. Spontan ia berteriak sebelum gagang telpon itu diletakkan “O oh, ya, tunggu! sorry ya, jas hujannya masih sama aku, kapan aku bisa kembaliin?”

“Ya, kalau kamunya masih belum sehat banget, ya biar aku aja yang ambil nanti kalau aku ada waktu, ok? Atau titip aja di kantin sekolah kamu, sama bu Sami, penjaganya. Assalamu’alaikum.”

“Wa.. wa’alaikum salam..” jawab Dinda gelagapan. Telpon kok buru – buru amat?

Dinda meletakkan gagang telepon dengan masih mengernyitkan dahi. Sejenak mendung di wajahnya sedikit terhapus. Tapi, tiba – tiba kening Dinda berkerut. Dari mana sosok yang bernama Ryan itu tahu nama dan nomor telponnya? Kok dia kenal sama penjaga kantin sekolahnya? Siapa dia?

KRIIINGGG! KRINGGG!

Deg! Sekali lagi Dinda terlonjak kaget. Lalu meraih gagang telepon. Mungkinkah yang kali ini benar – benar ayah? Dinda berharap dengan  cemas, ”Ya, halo?”

“Maaf, apakah betul ini dengan keluarga bapak Pram?”

“Ya, saya putrinya, ada apa ya mbak? Mbak ini dari siapa? Kenapa tahu nomor telpon sini?”. Tanya Dinda tak sabar. Suster itu melanjutkan, “Begini dik, kami dari rumah sakit Cipto, bapak adik sekarang ada di rumah sakit, sekarang..”

“Kenapa dengan ayah saya, mbak?” potong Dinda. Bagaimanapun, kejadian empat belas tahun lalu masih sangat jelas membekas di kepala gadis itu, membuatnya sangat anti dengan kata – kata yang berbau rumah sakit, apalagi sampai harus berurusan dengan pihak rumah sakit.

“Semalam pak Pram mengalami kecelakaan, korban tabrak lari,  sekarang pak Pram dalam keadaan koma di rumah sakir Cipto,  kejadiannya.. mbak, mbak?”

BRUKKK!

Dinda merasakan kepalanya berputar – putar mengikuti kalimat yang dikatakan oleh penelpon itu. Seakan ada palu yang besar sekali menghantam kepalanya, membuat semuanya langsung terasa semakin berat dan.. gelap!.

……….…bersambung ke rb bagian 9………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s