KEMBALILAH CINTA

Sore hari di bawah lembayung tirai senja..

Warna lembayung mulai menghiasi wajah senja. Biasnya membuat semua orang yang memandangnya terkagum dan terpesona. Namun, tidak demikian dengan sosok Fity. Gadis itu Cuma mematung dengan tatapan dingin dan sinis. Hampa.

“fity, aku ingin kamu tetap jadi sahabatku Fit” Ucap Cinta, sosok yang sempat asing di hatinya itu, sambil terus menatap sore yang kian menjelang. Ia mematap gadis itu dengan tatapan kasihan dan iba, walaupun gadis itu seperti tak peduli dengan ucapannya dan malah bermain dengan ombak yang menyapa dan memainkan kakinya yang memutih karena lama berdiri di dalam air. Tatapannya tetap kosong.

“Fity.. tolong, dengarkan aku..” ucap Cinta sekali lagi. Fity menoleh dengan sinis.

“Ingin kembali?” katanya tajam, matanya seakan tak ingin melepaskan ombak yang terus menepi, lalu kembali ke tengah.

“Ya, kita akan berteman seperti dulu lagi..”

“Seperti dulu?! Kemana kamu saat kubutuhkan?!” mata gadis cantik yang tadinya bening mulai mengalirkan aliran anak sungai, namun tetap kosong.

“Kemana?????!” teriak Fity.

Warna merah mulai mewarnai tatapan matanya yang hitam bening.

“Fity, jangan salahkan aku. Kamu yang mengusirku waktu itu. ingat? Kamu lebih memilih Sunyi sebagai temanmu, bahkan kau tidak menghiraukan panggilanku dan Nadia teman dekatmu, kau harus sadari itu.” Sahutan suara Cinta yang mulai melunak.

Fity menyeringai,“Ya, aku yang mengusirmu. Seandainya waktu itu….seandainya…ya, seandainya…waktu itu,,..” Fity tak dapat meneruskan kata-katanya lagi. Mata beningnya mulai kembali diselimuti kabut. Pikirannya kembali melayang kepada peristiwa beberapa tahun silam.

*******************

Fity, cantik, putri pejabat tinggi berprestasi, baik dalam pelajaran, maupun dalam hal-hal umum, itulah gambaran teman-temannya terhadap dirinya. Sunyi dan Cinta, dua pribadi yang bertolak belakang senantiasa menemaninya. Selain itu, ia memiliki seorang sahabat kental bernama Nadia, yang memakai kerudung. Maka terciptalah dua pribadi Fity yang berbeda. Namun tak ada yang tahu penyebab itu semua. Saat bergabung dengan teman – teman gengnya, Sunyilah yang akan akan menemaninya dan tiba – tiba akan tercipta sosok pribadi yang tegar, walaupun sebenarnya rapuh dan terkoyak – koyak menahan kesedihan. Dan ketika ia menangis tersedu – sedu karena perasaan sedih yang diakibatkan kesibukan dan pertengkaran orang tuanya, maka nadia dan cintalah yang akan menghibur.

Tapi hal itu ternyata tak berlangsung lama. Ia mulai bosan dengan rutinitas yang ia jalani. Ia mulai menepiskan ajakan Nadia dan Cinta untuk tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas akibat broken home. Ia terjerumus. Mulai dari ke diskotik, pulang malam, bahkan tak pulang sama sekali!! Cinta dan Nadia hanya menatapnya dengan sedih, tak berdaya.

Waktupun perlahan mengiris prestasi demi prestasinya. Nadia dan Cinta terlupakan, tercampakkan. Tak jarang ia bolos sekolah. Sampai akhirnya malam itu…

“Fity, papa dan mama mendapat teguran dari kepala sekolahmu, ada apa sebenarnya denganmu?!” Ucap pak Pras, Ayah Fity, dengan nada menahan marah. Fity mendelik, diluar dugaan ia tersenyum!

“Bagus dong pa “ ucapnya enteng. Papa dan mama Fity terperanjat dengan ucapan putri mereka.

“Apa katamu?! Berani melawan papamu? Aku ini ayahmu!”

“Aku tahu, ayah yang tak pernah memperhatikan anaknya terombang – ambing tanpa kepastian, orangtua yang hanya sibuk dengan urusan kantor dan pertengkaran dengan mama, ayah yang yang selalu membuat mama menangis!”

“PLAKKK!” tamparan singgah di pipi gadis mungil itu. Sementara itu wanita separuh baya yang ada di sampingnya tampak tak berdaya. Tatapan matanya seakan memohon agar putri yang ia sayangi itu tidak melanjutkan bicaranya.Ia hanya mampu memandang dengan tatapan pilu.

“Baik, kalau papa malu punya anak tak terurus seperti aku ini, aku akan pergi! Aku juga tak sudi hidup dan makan dari uang penggelapan perusahaan ini!” katnya cuek, lalu berlari ke kamar, membereskan pakaian, dan pergi walaupun mama bersikeras melarangnya.

“Fity, jangan pergi sayang.. papa kamu Cuma emosi” wanita itu berkata lembut.

“Tidak ma, Fity sudah tahu semuanya. Fity sudah tiadak tahan ma… kalau mama tidak mau ikut Fity, Fity akan pergi sendiri…Fity sudah bersabar atas apa yang mama dan papa lakukan terhadap Fity, mama tahu bagaimana Fity melewati hari selama bertahun – tahun hanya dengan kesepian? Papa sibuk, mama juga sibuk.  mama tahu kalau papa selalu berfoya – foya, mama tahu berapa uang perusahaan dan uang rakyat digelapkan, mama tahu berapa wanita simpanan papa… tapi kenapa mama diam saja?! Fity sudah tidak bisa tinggal disini lagi ma…“ Fity terisak. Mama memeluk Fity dengan berlinang air mata.

Malam itu Fity  pergi meninggalkan rumah megah yang menyimpan semua kenangan masa kecilnya. Ia menlangkah diiringi tatapan Cinta yang hadir pada malam itu dan berdiri di samping mamanya. Namun ia tak lagi menghiraukannya. Hatinya sudah terlalu muak dengan semua ini.. terlebih lagi jika teringat masa kecil yang ia jalani dulu….

Dari tahun – ke tahun, pertengkaran demi pertengkaran orang tuanya bukanlah hal yang asing bagi Fity kecil. Ia tak mengerti mengapa ada perang mulut. Ia tak tahu mengapa suasana pagi yang cerah selalu dihiasi perdebatan di meja makan. Ia tak pernah memahami mengapa wanita setengah baya yang melahirkannya selalu mengusut air mata yang menganak sungai di pipinya secara sembunyi – sembunyi dari Fity kecil. Fity tahu wanita yang ia panggil mama tersebut menangis, seperti yang sering dilakukannya ketika tak ada teman bermain…ketika kesepian.

Air mata, tangisan mama, bantingan pintu papa, dan beribu Tanya yang dulu menyelimuti sikecil Fity mulai terungkap ketika Fity menginjak dewasa. Walaupun penjelasan tak kunjung keluar jua dari mulut wanita yang melahirkannya, namun ia mulai tahu bahwa penyebab pertengkaran orang yang ia sayangi. Papa jarang dirumah dan sibuk dengan urusan bisnisnya. Sedangkan mama…wanita itu terlalu lemah untuk protes. Bahkan ketika ia tak sengaja mendengar suatu pertengkaran… Ya, ketika papa mulai bermewah – mewah dengan kehidupannya. Mama menanyakan tentang dari mana papa mendapat uang sebanyak itu. Karena walaupun wanita itu tak pernah duduk dibangku sekolah agama, ia masih mengerti bahwa korupsi itu tidak baik dan Tuhan mengharamkannya. Dan sekarang… itu terjadi pada orang yang dicintainya. Namun, lagi – lagi ia tak kuasa melawan.

Ia pergi membawa kenangan itu. Berjalan  tanpa tujuan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari pub yang satu ke yang lain. Narkotik dan obat – obatan terlarang tak lagi asing baginya. Sosok remaja berprestasi itu sekejap mata berubah menjadi gadis pucat dan kurus, dengan tatapan mata yang kosong dan terus menerawang. Sempat Nadia dan Cinta datang menjemputnya. Memohon agar ia kembali. Namun pengaruh Sunyi yang selama ini selalu bersamanya begitu kuat melekat di hatinya. Dan yang lebih mengejutkan, ia mengusir Cinta dan Nadia!!

.

…………….

“Fity….” Suara lembut itu mengembalikannya ke kehidupan nyata. Matanya menatap lurus ke depan. Lembayung mulai memudar.

“Fity, kalau kamu melakukan ini, lalu apa bedanya kamu dengan lelaki itu? Yang dulu perbuatannya kamu tentang? Kamu Fity yang sekarang adalah seorang gadis yang pengecut! Kamu pikir dengan terjerumus ke dalam limbah nista dan menganiaya serta menyia – nyiakan hidup seperti ini akan menyelesaikan masalah? Kamu sama saja dengan papamu itu Fity…. Kamu sama dengan laki – laki terlaknat itu…. Sama…!!!!” suara itu semakin menjelas di telinga Fity. Ia terhuyung mencari suara itu. Terhuyung – huyung.

“TIDAAAAKK..!! aku tidak sama…!!” ia berteriak, meraung, Dan semakin terhuyung  sebelum tubuh kurus itu roboh ke pasir. Gelap.

*********

Ddua tahun berlalu….

Fity melangkahkan perlahan. Lembayung masih memayungi rumah megah yang kini berdiri di depannya. Pikirannya kembali mengawang. Dialog – dialog di hatinya yang terjadi waktu di pantai itu telah membimbingnya kembali untuk mencari cahaya Ilahi. Membuatnya kembali bersemangat untuk melawan tirani yang ada di sekelilingnya, termasuk melewati masa rehabilitasi. Bersama Nadia, ia mengikuti SPMB dengan sungguh – sungguh. Mengajukan beasiswa kesana-sini… hingga hari ini ia ada disini, menemui mamanya untuk yang pertama kali sejak malam itu..

Fity memeluk tubuh wanita setengah baya itu dengan perasaan bahagia bercampur rasa haru dan sedih. Bahagia dan terharu karena ternyata Allah masih memberinya kesempatan untuk berbakti kembali kepada sang ibu, walaupun hatinya sedih karena papanya kini tengah meringkuk di balik terali besi. Papa… Ya Allah, tunjukkanlah juga jalan-Mu kepadanya.. bisik Fity dalam hati.

The End

Depok, 19 februari 2004

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s